Dwita Ria Sosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan di Seputih Surabaya


ANGGOTA MPR Dwita Ria Gunadi mensosialisasikan empat pilar kebangsaan di Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, Rabu, 27/11/2019. | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Anggota MPR RI Dwita Ria Gunadi mensosialisasikan empat pilar kebangsaan di Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah, Rabu, 27/11/2019. Sosialisasi empat pilar kebangsaan itu merupakan perintah UU 17/2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3).

“Empat pilar dari konsepsi kenegaraan Indonesia tersebut merupakan prasyarat minimal, disamping pilar-pilar lain untuk bisa berdiri kukuh berlandaskan karakter kepribadian bangsa Indonesia,” kata Dwita melalui keterangan tertulis.

Menurut politikus Gerindra itu, setidaknya terdapat enam alasan mengapa empat pilar sangat dibutuhkan dan penting disosialisasikan hingga pelosok desa. Pertama, karena masih lemahnya penghayatan dan pengamalan agama serta munculnya pemahaman agama yang keliru dan sempit. Contoh, radikalisme yang melahirkan terorisme. Ini harus diantisipasi agar jangan sampai ada anggota masyarakat yang terpapar radikalisme dan terorisme

“Kedua, masih ada pengabaian terhadap kepentingan daerah dan timbulnya fanatisme kedaerahan. Masih terjadi disparitas pembangunan pusat dan daerah. Contoh, banyak gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari NKRI,” ujarnya.

Ketiga, kurang berkembangnya penghargaan terhadap kebinekaan dan kemajemukan yang melahirkan politik Sara. Oleh karena itu, perlu menghindari politik Sara. Bahkan, Pilkada DKI Jakarta sempat berembus politik Sara dengan kencang.

Keempat, kurangnya keteladanan sebagian pemimpin sebagai tokoh bangsa. Hal ini terkait dengan korupsi. Banyak pejabat negara dan aparat penegak hukum terlibat korupsi. Kelima, tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal. Hukum tajam ke atas dan tumpul ke bawah. Tapi, sekarang lebih baik. Mereka yang di atas juga ditangkap.

“Keenam, yang tidak kalah penting adalah pengaruh globalisasi dan kapitalisme terhadap masyarakat Indonesia, seperti pengaruh internet dan gadget. Ini bisa memengaruhi jati diri bangsa. Dahulu, Indonesia punya nilai gotong royong, tapi sekarang mulai individualistik,” kata dia.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

PT BBJ Salurkan 10 Ton Beras untuk Penanggulangan Covid-19 Lamsel

KALIANDA, duajurai.co – Kepedulian pelaku usaha di Kabupaten Lampung Selatan dalam menghadapi pandemi Covid-19 kian …