7 Jejak Penting Brigjend Ike Edwin Selama Jabat Kapolda Lampung (1)


Kapolda Lampung Brigadir Jenderal Ike Edwin | Imelda Astari/duajurai.com
Kapolda Lampung Brigadir Jenderal Ike Edwin | Imelda Astari/duajurai.com

Bandar Lampung – Brigadir Jenderal (Brigjend) Ike Edwin tak lama lagi bakal menanggalkan jabatan Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Lampung. Jenderal bintang satu ini dimutasi sebagai Kasespimma Sespim Lemdikpol Polri.

Mutasi tersebut dituangkan dalam Surat Telegram Rahasia Kapolri Jenderal Tito Karnavian nomor ST/2434 /X/2016, tertanggal 5 Oktober 2016. Posisi Ike Edwin sebagai Kapolda Lampung akan digantikan oleh Brigjend Sudjarno yang sebelumnya menjabat Karobinopsnal Baharkam Polri.

Ike Edwin mengemban jabatan Kapolda Lampung sejak 11 Januari 2016. Artinya, hanya sekitar 9 bulan putra Lampung kelahiran 25 Februari 1960 tersebut menjadi orang nomor satu di Korps Bhayangkara Bumi Ruwa Jurai.

Selama kurun tersebut, sejumlah hal telah dilakukan pria yang akrab disapa Dang Ike ini terkait jabatannya selaku Kapolda. Ada pula beberapa peristiwa dan momen penting yang terjadi tak terlepas dari keberadaannya di Polda Lampung, baik secara langsung atau tidak.

Beberapa di antaranya bahkan terbilang kontroversial dan fenomenal. Berikut tujuh di antara “jejak penting” Ike Edwin selama menjabat Kapolda Lampung yang dirangkum duajurai.com, Jumat, 7/10/2016.

  1. Berkantor di luar berbuah penghargaan Muri

Sejak Februari 2016, atau sekira sebulan sejak dilantik, Ike menjalankan program “berkantor” di luar kantor resminya di Mapolda Lampung. Di bawah tenda (tarub), ia berkantor di luar sepekan sekali, saban Kamis.

Lokasinya berganti-ganti. Kadang di Lapangan Enggal (Saburai), kadang di Bambu Kuning Square, atau Terminal Rajabasa. Warga boleh datang dan langsung mengadukan permasalahan hukumnya kepada Ike yang didampingi jajarannya.

Program berkantor di luar ini merupakan bentuk visi excellent police service yang dicanangkannya. Menurut Ike, konsep “Kami Siap Melayani Anda” adalah polisi yang datang langsung ke masyarakat, bukan menunggu di kantor polisi.

Program ini disambut positif banyak kalangan. Tak sedikit masalah yang segera ditindaklanjuti, bahkan diselesaikan, setelah warga melaporkannya langsung kepada Ike. Di antara masalah-masalah tersebut sebelumnya bahkan ada yang “mangkrak” selama bertahun-tahun tanpa penanganan yang jelas.

Program ini lalu berbuah penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) yang diberikan pada 2 April 2016. Menurut MURI, kebijakan Ike Edwin berkantor di luar merupakan terobosan baru dan pertama di Indonesia.

  1. Polda Lampung naik status tipe A

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Asman Abnur pada September 2016 menyetujui peningkatan status Polda Lampung dari tipe B menjadi tipe A. Selain Lampung, Menteri PANRB juga meningkatkan status menjadi tipe A Polda Polda Kepulauan Riau dan Polda Riau.

Penetapan status tipe A ketiga polda dituangkan dalam Surat Menteri PANRB Nomor B/3108/M.PANRB/9/2016. Peresmian status baru tersebut dijadwalkan berlangsung pada Oktober ini.

Dengan status tipe A, ketiga polda harus dipimpin oleh kapolda dengan pangkat inspektur jenderal (irjen) dan wakapolda berpangkat brigjen. Jika saja Ike Edwin tidak dimutasi, bintang di pundaknya mestinya segera bertambah satu.(*bersambung)

duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

PN Tanjungkarang Raih Penghargaan Pelayanan Publik Terbaik se-Indonesia

JAKARTA, duajurai.co – Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang meraih penghargaan Pelayanan Publik Terbaik dari Kementerian Pendayagunaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *