PROFIL DOSEN UNILA DR RUDY: Tak Jadi Advokat karena Pekerjaannya Diwarnai Suap


Dosen Unila Rudy (Imelda, 18 Juni)

Dosen Unila DR Rudy | Imelda Astari/duajurai.com

Duajurai.com, Bandar Lampung – Nama Dr Rudy mungkin tak asing bagi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila). Lelaki berusia 35 tahun itu merupakan salah satu dosen muda yang juga mengajar di Kobe University, Jepang.

Rudy anak ke enam dari pasangan Saniah dan Lukman Hakim. Sang ibu adalah guru sekolah dasar di Telukbetung, Bandar Lampung. Sedangkan ayahnya jaksa di Kejaksaan Negeri Metro. Meski begitu, dia awalnya sama sekali tidak berpikiran menjadi dosen. Sebaliknya, Rudy ingin menjalani profesi sebagai advokat.

“Saya lihat lawyer (pengacara) itu kaya-kaya, makanya saya pengen jadi pengacara. Tapi belakangan, jadi pengacara tak sebaik yang saya pikirkan. Banyak penyuapan dalam penyelesaian kasus, dan pelanggaran kode etik lainnya. Untuk apa belajar hukum kalau mau diselesaikan seperti itu? Mungkin ini jalan takdir, sekarang saya senang dengan profesi dosen,” kata Rudy di Fakultas Hukum Unila, beberapa waktu lalu.

Pria kelahiran Bandar Lampung 4 Januari 1981 itu mengawali pendidikan di SD Negeri 2 Sumur Batu. Kemudian, dia melanjutkan di SMP Negeri 2 Bandar Lampung, lalu SMA Negeri 2 Bandar Lampung. Setelah itu, Rudy masuk Universitas Indonesia (UI) untuk S1 jurusan hukum melalui jalur undangan.

Lulus dari UI, dia sempat bekerja di salah satu kantor pengacara di Jakarta. Namun, Rudy merasa tak nyaman dengan berbagai realitas di profesi itu. Hingga akhirnya dia memutuskan pulang ke Lampung saat Idulfitri pada 2003.

“Kemudian, saya dapat informasi lowongan dosen di Unila. Lalu, saya coba daftar. Saya ikuti tes dan saat itu mendapat banyak dorongan dari Prof Muhajir. Katanya, Lampung perlu dibangun oleh putra daerah,” kata dia.

Pada 2003, Rudy memulai karirnya sebagai dosen. Kemudian, dia berangkat menempuh pendidikan S2 di Kobe University melalui beasiswa Monbukagakusho pada 2005. Dia tidak memilih Belanda untuk menimba ilmu hukum seperti orang pada umumnya. Setelah meraih S2, dia melanjutkan kuliah S3 di universitas yang sama dengan jurusan Law and Development.

“Saya cari dan riset, banyak orang hukum itu kebayakan(belajar) ke Belanda. Kemudian, saya lihat di Jepang juga punya sistem negara kesatuan yang sama dengan Indonesia, dan mewarisi tradisi hukum yang sama dengan Perancis. Jadi, Indonesia dengan Jepang itu sistem hukumnya sama. Karena itu, saya pilih kuliah di Jepang. Ini menjadi keunggulan bagi saya,” ujarnya.

Setiap tahun, Rudy mengajar Hukum Indonesia, dan Pembangunan Hukum Asia di Kobe University selama dua pekan.  “Saya diundang sebagai Special Lecture of Institutional Building, Law and Development in Asia,” kata dia.(*)

Laporan Imelda Astari, wartawan duajurai.com, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya


Komentar

Komentar

Check Also

PT BBJ Salurkan 10 Ton Beras untuk Penanggulangan Covid-19 Lamsel

KALIANDA, duajurai.co – Kepedulian pelaku usaha di Kabupaten Lampung Selatan dalam menghadapi pandemi Covid-19 kian …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *