Pertama di Indonesia, Itera Bakal Buka Prodi Teknologi Kosmetik


REKTOR Itera Ofyar Z Tamin (berdiri) saat FGD Pendirian Prodi Teknologi Kosmetik Itera di Gedung Kuliah Umum Itera, Kecamatan Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan, beberapa waktu lalu. | Humas Itera

JATIAGUNG, duajurai.co – Institut Teknologi Sumatera (Itera) akan mendirikan Program Studi (Prodi) Teknologi Kosmetik pertama di Indonesia. Pendirian prodi tersebut untuk memenuhi kebutuhan sumber daya ahli dalam bidang industri kosmetik yang jadi salah satu sektor industri andalan nasional.

Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Indonesia baru memiliki 630 UMKM kosmetik. Jumlah tersebut jauh dibanding Thailand yang telah memiliki lebih dari 5.000 UMKM kosmetik. Munculnya sumber daya ahli bidang kosmetik dan dengan dukungan teknologi diharapkan mampu mendorong perkembangan industri kosmetik tanah air.

Hal tersebut menjadi topik bahasan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) Pendirian Prodi Teknologi Kosmetik Itera di Gedung Kuliah Umum Itera, Kecamatan Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan, beberapa waktu lalu. Diskusi itu melibatkan multi stakeholder, mulai dari pakar kosmetik, akademisi, pengusaha industri kosmetik nasional, hingga pemerintahan.

Rektor Itera Ofyar Z Tamin menyatakan bahwa latar belakang Itera mendirikan Prodi Teknologi Kosmetik adalah karena kebutuhan SDM ahli dalam bidang industri kosmetik.Untuk itu, tugas Itera adalah memenuhi kebutuhan SDM yang nantinya mampu bekerja dan dapat mengembangkan indsutri kosmetik pada masa depan. Pihaknya berharap, prodi tersebut bisa memperoleh izin pada 2020.

“FGD ini untuk menampung masukan berbagai stakeholder guna merumuskan kurikulum yang sesuai. Sehingga, lulusan prodi ini mempunyai kompetensi sesuai kebutuhan,” kata Ofyar, seperti dikutip dari laman Itera, Senin, 23/12/2019.

Direktur Pengawasan Kosmetik BPOM RI Arustiyono menyampaikan bahwa BPOM mendukung pendirian Prodi Teknologi Kosmetik di Itera. Alasannya, semakin banyak tenaga ahli bidang kosmetik, maka akan mendorong perkembangan peningkatan industri kosmetik lokal yang lebih sehat. Selama ini, pihaknya menemukan banyak produk kosmetik illegal dan berbahaya di masyarakat.

Selama 2018, Badan POM menemukan sebanyak 126 milyar (77%)kosmetik ilegal. Pada ahun yang sama, di Jakarta ditemukan berton-ton bahan baku kosmetik mengandung bahan berbahaya seperti Hg (merkuri). Sementara pada 2019 ditemukan empat industri kosmetik ilegal di Kalideres senilai Rp30 miliar.

“Semakin banyak tenaga ahli kosmetik, maka akan mendorong peningkatan industri kosmetik yang aman, sehat dan resmi. Peran perguruan tinggi sangat besar dalam menciptakan dan meningkatkan SDM ahli,” ujarnya.

Komisaris Utama PT Paragon Technology and Innovation Nurhayati Subakat menyebut industri kosmetik lokal harus mampu bersaing dengan industri multinasional yang selama ini menguasai pasar kosmetik Indonesia. Sehingga, dibutuhkan SDM ahli mulai dari ahli bahan baku, produksi , distribusi, dan edukasi ke konsumen.

“Kami harus bisa membuat dobrakan, seperti Thailand sudah ada 5.000 industri kosmetik, dan Korea 90% menggunakan produk lokal. Sehingga, masyarakat juga perlu diedukasi agar memakai produk Indonesia,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Lampung Bayana mengatakan, pemerintah setempat mendukung dan mengapresiasi Itera yang akan mendirikan Prodi Teknologi Kosmetik pertama di Indonesia. Dia merasa yakin bahwa SDM yang mumpuni akan mendorong perkembangan industri kosmetik, baik di tingkat daerah, hingga nasional. Sehingga, mampu bersaing dengan produk luar negeri.

“Khusus di Lampung, industri ini dapat berkembang, terlebih dengan infrastruktur yang semakin baik, dan SDM yang dibekali pengetahuan dan teknologi,” ujar Bayana.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Tindaklanjuti Temuan Ombudsman, Pemprov Minta Inspektorat Periksa SMKN 5 Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menindaklanjuti temuan Ombudsman ihwal pungutan liar (pungli) …