Antisipasi Longsor di Jalur Kereta saat Natal, KAI Tanjungkarang Berjaga 24 Jam


SULTHON Hasanudin, (menunduk, pakai baret oranye) Executive Vice Presiden PT KAI Divre IV Tanjungkarang, memeriksa kondisi rel dan kereta api di Stasiun Kereta Api Tanjungkarang menjelang Natal, Kamis, 19/12/2019. KAI Tanjungkarang menyiapkan 365 personel keamanan untuk memberikan rasa aman bagi penumpang selama angkutan Natal dan Tahun Baru 2020. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre IV Tanjungkarang berjaga selama 24 jam di titik-titik rawan bencana alam, seperti longsor atau pergeseran tanah. Penjagaan tersebut sejatinya memang dilakukan setiap hari. Namun, penjagaan semakin diperketat pada masa libur Natal dan Tahun Baru 2020, mengingat pada masa angkutan Natal dan tahun baru berbarengan dengan musim hujan.

“Karena secara topografi di beberapa wilayah itu kontur tanahnya bergerak. Setiap kereta lewat, diukur diometrinya supaya kami yakin titik-titik rawan itu aman dilalui,” kata Sulthon Hasanudin, Executive Vice Presiden PT KAI Divre IV Tanjungkarang, di Stasiun Tanjungkarang, Bandar Lampung, Kamis, 19/12/2019.

Dia mengatakan, di sepanjang jalur wilayah Divre IV dari Tarahan sampai Tanjung Rambang, terdapat tiga titik daerah rawan bencana alam yang harus diwaspadai. Daerah-daerah rawan tersebut antara lain satu titik rawan longsor di Kilometer (Km) 167+300 sampai Km 168+800 antara Way Tuba-Negeri Agung.

“Untuk daerah rawan ambles ada dua titik di Km 208+700/800 antara Gilas-Martapura dan Km 212+800/900 antara Gilas-Spancar,” ujarnya.

Untuk mengatasi kalau terjadi bencana alam, KAI Tanjungkarang menyiapkan alat material untuk siaga (Amus) berupa satu unit gerbong. Gerbong dimaksud berisi batu balas, bantalan rel, pasir, karung, besi H Beam (untuk jembatan), dan alat penambat rel di titik-titik yang telah ditentukan.

“Khususnya untuk pelintasan sebidang meskipun jumlah petugas penjaga pelintasan kereta api ditambah, PT KAI dengan tegas mengimbau seluruh pengguna jalan untuk tetap mematuhi rambu-rambu di pelintasan sebidang,” kata dia.

Pada 2016, di Lampung terjadi 18 kecelakaan di pelintasan kereta api dengan korban meninggal dunia sebanyak lima orang. Angka tersebut bertambah pada 2017, yakni 44 kejadian dengan korban meninggal dunia 17 orang. Sedangkan pada 2018, tercatat 44  kejadian dengan korban 22 orang meninggal dunia.

“Pada periode Januari hingga November 2019 telah terjadi 32 kejadian dengan korban meninggal dunia sebanyak 19 orang,” ucap Sulthon.(*)

Baca juga Beri Rasa Aman saat Natal-Tahun Baru, KAI Tanjungkarang Siapkan 365 Personel

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Aksi Kamisan ke-7, Elemen Masyarakat Lampung Kecam Tindakan Represif Terhadap Penyampai Aspirasi

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung bersama sejumlah elemen dan masyarakat sipil kembali …