Tak Sesuai HET, Harga Elpiji 3 Kg di Eceran Capai Rp25 Ribu


PEMILIK Toko Padushi (kaus putih) sedang mengecek stok elpiji ukuran 3 Kg, Kamis, 5/12/2019. Pria bertubuh tinggi itu menjual tabung gas elpiji 3 Kg sekitar Rp22 ribu-Rp23 ribu, tak sesuai dengan HET, yakni Rp18 ribu. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Harga tabung gas elpiji ukuran 3 Kilogram (Kg) di tingkat eceran mencapai Rp25 ribu. Hal ini tidak sesuai kesepakatan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bersama PT Pertamina dan Hiswana Migas yang menetapkan harga eceran tertinggi (HET) elpiji 3 Kg sebesar Rp18 ribu.

Pantauan duajurai.co di sejumlah pengecer di kawasan Bandar Lampung, harga tabung gas elpiji ukuran 3 Kg rerata Rp23-Rp25 ribu. Misal, pengecer di Jalan Adi Sucipto, Kebon Jeruk, Tanjungkarang Timur. Tabung gas melon di sana dijual Rp25 ribu.

“Barangnya susah didapat, jadi kami jual Rp25 ribu. Wilayah sini, rata-rata memang Rp24-25 ribu. Tapi, memang kami belinya gak langsung ke pangkalan, tapi beli di toko-toko besar,” kata Hendrik (32), anak pemilik warung, saat ditemui pada Kamis, 5/12/2019.

Hal senada disampaikan Elly, pemilik Warung Bunda di Jalan HOS Cokroaminoto. Dia menjual tabung elpiji 3 Kg seharga Rp24 ribu. Alasannya, stok tabung gas elpiji yang disubsidi itu tidak banyak.

“Kalau saya tergantung stok barangnya. Kalau lagi ada seperti hari ini, jual Rp24 ribu. Tapi, kalau lagi langka banget, saya biasa jual Rp25 ribu,” ujarnya.

Secara terpisah, Padushi, pemilik Toko Padushi di Jalan Gajah Mada, mengaku menjual elpiji 3 Kg sekitar Rp22 ribu-Rp23 ribu. Dia mematok harga sebesar itu karena stok lagi banyak. Berbeda bila stok sedikit, Padushi bisa menjual seharga Rp25 ribu.

“Saya pernah jual Rp25 ribu itu pas stoknya lagi sedikit. Intinya hukum ekonomi sih. Kalau barang gak ada, permintaan tinggi, maka harga naik,” ujarnya.

Menurut pria bertubuh tinggi itu, saat ini, ketersediaan elpiji 3 Kg makin menipis. Biasanya, dia dikirim oleh pengampas 2-3 kali dalam satu pekan. Belakangan ini, stok masuk hanya satu pekan sekali.

“Barangnya susah, tapi yang minta banyak. Kadang saya kasihan sama warga yang tak kebagian stok,” kata dia.

Alexander, pengecer di Jalan Hayam Wuruk, juga memberlakukan hukum ekonomi. Meski demikian, dia merasa enggan menaikkan harga terlalu tinggi meskipun stok sedang sedikit. Lelaki itu biasa menjual paling tinggi, Rp23 ribu.

“Saya jualnya sesuai harga beli saya. Kalau saya belinya masih kisaran harga Rp16.500, ya saya jualnya paling Rp18 ribu. Tapi, kalau saya belinya di atas Rp18 ribu, saya jual lebih dari Rp20 ribu,” ujar Alexander.

Realitas tersebut dikeluhkan para ibu rumah tangga. Menurut mereka, harga tersebut terlampau tinggi. Belum lagi mereka terbilang sulit memperoleh elpiji yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu itu.

“Ya mahal banget, saya beli elpiji 3 Kg harganya Rp25 ribu. Saya bingung, ini kenapa harganya naik terus. Terus, mau beli juga susah karena pengecer banyak kehabisan stok. Saya harus keliling dulu cari yang ada stok (elpiji 3 Kg),” kata Heriyati (33), warga Sukabumi.

Pemprov Lampung menggelar rapat bersama PT Pertamina dan Hiswana Migas, beberapa waktu lalu. Rapat menyepakati HET tabung elpiji ukuran 3 Kg sebesar Rp18 ribu. Namun, harus ada konsistensi agar masyarakat mendapatkan tabung melon tersebut sesuai HET. Karena itu, akan dibentuk tim terpadu untuk memantau harga elpiji 3 Kg.(*)

Baca juga Harga Eceran Tertinggi Elpiji 3 Kg di Lampung Disepakati Rp18 Ribu

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Jelang Tahun Baru, Harga Telur di Bandar Lampung Tembus Rp24 Ribu

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Harga telur ayam merangkak naik menjelang tahun baru. Kini, harganya di pasaran tembus …