Harga Eceran Tertinggi Elpiji 3 Kg di Lampung Disepakati Rp18 Ribu


PEMPROV Lampung menggelar rapat mengevaluasi HET tabung elpiji ukuran 3 Kg, Selasa, 3/12/2019. Rapat yang dihadiri PT Pertamina dan Hiswana Migas Lampung itu menyepakati HET elpiji 3 kg sebesar Rp18 ribu. | Humas Pemprov Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung sepakat membentuk tim terpadu bersama PT Pertamina dan Hiswana Migas untuk memantau harga tabung elpiji ukuran 3 kilogram (Kg). Pemantauan dilakukan di pangkalan-pangkalan agar tidak terjadi kenaikan harga dan masyarakat tetap mendapatkan harga sesuai harga eceran tertinggi (HET).

Hal itu terungkap dalam rapat jajaran Pemprov Lampung dengan Pertamina dan Hiswana Migas di Ruang Rapat Asisten Perekonomian dan Pembangunan, kompleks pemprov setempat, Bandar Lampung, Selasa, 3/12/2019. Rapat menyepakati HET tabung elpiji ukuran 3 Kg sebesar Rp18 ribu. Namun, harus ada konsistensi agar masyarakat mendapatkan tabung melon tersebut sesuai HET.

“Perlu pengawasan yang terukur dan terencana oleh semua stakeholder yang berkepentingan dalam perindustrian elpiji 3 Kg. Sehingga, masyarakat mendapatkan tabung elpiji ukuran 3 Kg sesuai dengan HET yang sudah ditentukan,” kata Taufik Hidayat, Asisten Perekeonomian dan Pembangunan Provinsi Lampung, melalui rilis Humas Pemprov Lampung, Rabu, 4/12/2019.

Hal tersebut, lanjut dia, akan melibatkan badan usaha milik desa (Bumdes) sebagai penyalur dengan harga standar. Tujuannya, agar tidak terjadi penyimpangan harga jika sudah terlalu banyak tangan. Banyaknya penyimpangan HET di masyarakat karena lonjakan harga elpiji 3 kg di tingkat konsumen sekitar Rp20 ribu-Rp25 ribu per tabung.

“Sedangkan harga HET Rp16.500 di pangkalan resmi. Hal ini tidak sesuai Keputusan Gubenur Lampung Nomor G/195/B.IV/HK/2015 tentang penyesuaian HET LPG tabung gas elpiji 3 Kg di Provinsi Lampung,” ujarnya.

Ketua Hiswana Migas Lampung Subhan Efendi menyatakan bahwa terdapat kesepakatan kontrak yang diberikan Pemerintah Provinsi Lampung. Isi kontrak menyebutkan akan dibagi-bagi lagi, sehingga pengecer mendapatkan porsi 30% dan masyarakat 70%.

“Jadi, tugas kami melihat terjadi kelebihan atau tidak di pengecer. Jika lebih dari 30% akan kami potong. Kalau mereka tetap melanggar, maka kami akan memberikan hukuman kepada pelanggar itu,” kata dia.

Sementara, pihak Pertamina menyampaikan akan mengadakan One Village One Outlet agar pengecer tidak meluap. Sehingga, masyarakat mendapatkan harga sesuai HET. Dalam kontrak kerja sama, agen wajib memberikan pembinaan terhadap pangkalan. Jika ditemukan penyelewengan dan berulang, maka pangkalan yang bermasalah akan ditindak oleh agen yang bersangkutan.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Jelang Tahun Baru, Harga Telur di Bandar Lampung Tembus Rp24 Ribu

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Harga telur ayam merangkak naik menjelang tahun baru. Kini, harganya di pasaran tembus …