RESENSI: Membumikan Ide Tan Malaka, Pendidikan Berbasis Kerakyatan


BUKU Tan Malaka “Serikat Islam Semarang dan Onderwijs” | ist

Oleh AAN FRIMADONA ROZA | Guru SMPN 7 Banjit, aktif di PGRI Kabupaten Way Kanan

“Akuilah dengan hati yang putih bersih, bahwa kamu sanggup dan mesti belajar dari orang Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru Barat. Melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas, suka memenuhi kemauan alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di Barat.”

Demikian kata Tan Malaka dalam buku “Massa Actie”. Dalam catatan sejarah perjuangan bangsa, Tan Malaka adalah tokoh pejuang revolusioner dan pahlawan nasional yang secara luar biasa ikut merebut kemerdekaan.

Pemikirannya lebih banyak diketahui di ranah politik pergerakan dan ekonomi. Namun dalam tulisannya yang berjudul “Serikat Islam Semarang dan Onderwijs” tahun 1921 kiranya pemikiran Tan Malaka mengenai pendidikan berbasis kerakyatan tampak masih sangat dibutuhkan dan relevan pada era modern saat ini.

Ide-ide Tan Malaka di bidang pendidikan disajikan kembali dalam buku “Serikat Islam Semarang dan Onderwijs” yang diterbitkan oleh Pustaka Kaji, Jakarta, pada 2011. Dalam proses penulisannya kembali, buku ini mengutip dari teks asli buku karya Tan Malaka tahun 1921 yakni “SI Semarang dan Onderwijs” yang diterbitkan oleh Yayasan Massa tahun 1987.

Tan Malaka berpendapat bahwa Sekolah Serikat Islam (SI) didirikan untuk menyiapkan calon-calon pemimpin revolusioner masa depan dengan berkesempatan mempraksiskan visi misinya di bidang pendidikan yang bercorak anti kolonial. Kemandirian, bercocok tanam, bertukang, menenun, membuat perkumpulan-perkumpulan, memimpin rapat, berpidato, ide kemerdekaan, dan seterusnya sudah ditanamkan sejak dini disekolah SI.

Ini lah yang menjadi pembeda antara sekolah-sekolah lainnya ketika itu (Sekolah Gubernemen). Dasar yang dipakai sekolah SI Tan Malaka ialah dasar kerakyatan dalam masa penjajahan di mana bersama rakyat untuk mengangkat derajat rakyat jelata.

Pendidikan di sekolah SI bukanlah menjadikan murid sebagai satu kelas yang terpisah dari rakyat dan dipakai oleh pemerintah untuk menindas bangsa sendiri. Selanjutnya dia meyakini bahwa perjuangan kelak berada di pundak-pundak mereka–murid-murid SI School yang mendapatkan didikan rakyat untuk mengenal rakyatnya sendiri.

Tan Malaka mengkritik sekolah milik pemerintah pada masa kolonial yang seperti mesin pabrik gula, karena siang malam anak-anak mesti belajar dan menghafalkan pelajaran. Tan Malaka menginginkan pendidikan memberikan kesempatan bagi mereka untuk memasuki kelas intelektual di setiap bidang, minimal juru tik.

Ia tak ingin para murid seperti orang tua mereka yang selalu ditindas. Mereka harus mulai menganti kerja badan menjadi kerja otak sebagai usaha mencipta kader-kader bangsa yang berkualitas.

Tan Malaka menjadi pionir dalam merebut pendidikan transformatif dengan jalan antikolonialisme. Dia menciptakan sekolah kaum kromo dan proletar sebagai upaya pedagogik transformatif untuk mencari jalan hidup di tengah kemelaratan, kegelapan, serta kelaliman dan perbudakan.

Buku Serikat Islam Semarang dan Onderwijs karya Tan Malaka sangat inspiratif. Buku yang sangat bagus untuk dibaca dan berpotensi membakar semangat pergerakan guna memajukan pendidikan nasional walaupun isi buku yang dicetak kembali ini memiliki keterbatasan seperti beberapa foto yang tampak buruk dan tidak jelas gambarnya.

Namun demikian, kelebihannya, buku setebal 61 halaman ini dilengkapi esai pembuka sebagai pengantar tulisan dari karya besar Tan Malaka yang membantu memberikan data-data mengenai sekolah Serikat Islam dan dilengkapi glosarium yang memuat arti kata-kta yang ditulis.(*)

Judul Buku: Serikat Islam Semarang dan Onderwijs
Penulis: Tan Malaka
Editor: M Afif Luthfi, Dwi Lestari
Desain Cover: Hanif Azhari
Tata Letak: Larissa Huda
Cetakan I, Jakarta Juli 2011
Penerbit: Pustaka Kaji
ISBN: 978-602-997000-0


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB IILHAM MALIK: Fenomena Memperbaiki dan Merusak Infrastruktur dalam Pembangunan Sapras

PEMBANGUNAN jaringan air bersih perkotaan oleh pemerintah bersama pihak swasta dimulai sejak beberapa waktu lalu. …