OPINI ANDI DESFIANDI: Pembenahan BUMN Secara Holisme


GEDUNG Kementerian BUMN | Antara Foto/Wahyu Putro A
ANDI Desfiandi | Ketua Bidang Ekonomi DPP Bravo 5 | Ketua Yayasan Alfian Husin

TOTAL aset BUMN pada 2018 mencapai lebih dari Rp8.000 triliun. Hanya menyumbang laba sekitar Rp188 triliun (ROA 2.35%) dan menyumbang total pendapatan sekitar Rp2.339 triliun (NPM 8%) dengan basis akrual. Sehingga, belum tentu pendapatan dan juga laba merefleksikan keadaan kas yang sesungguhnya. Terkadang, pendapatan/laba yang belum diperoleh secara kas tetap diakui.

Ditambah lagi dengan jumlah utang yang cukup besar sekitar Rp5.227 triliun (DER 34.4% secara keseluruhan dan tiap sektor bervariasi). Sehingga, dengan pendapatan yang hanya mencapai Rp2.339 triliun dan menyumbang Rp188 triliun laba boleh dianggap kinerja keuangan BUMN belum produktif kendati ada perbaikan setiap tahun.

Masalah akan bertambah apabila cash flow perusahaan terganggu. Misalnya, akibat piutang usaha yang lama tertagih dan piutang usaha tersebut juga kepada BUMN lainnya, maka sudah dapat dipastikan akan memengaruhi cash flow seluruh BUMN.

Revaluasi aset dan merger & acquisition memang akan memperkuat posisi aset dan modal terhadap uutang (Debt to Equity Ratio dan Debt to Total Asset Ratio). Namun, hanya untuk jangka pendek dan akan berbahaya apabila pengelolaan aset dan utang semakin tidak produktif, sementara utang terus bertambah. Sehingga, akan terkesan revaluasi aset dan merger & acquisition hanya window dressing untuk kepentingan rekayasa keuangan dalam rangka restrukturisasi keuangan korporasi untuk tujuan tertentu, misalnya kepentingan menambah utang.

Sudah saatnya BUMN merombak besar-besaran kinerja seluruh BUMN. Tidak cukup hanya melakukan restrukturisasi, tapi harus melakukan rekayasa ulang bisnis proses (Business Process Reengineering) mulai dari anak/cucu BUMN hingga ke holding BUMN.

Transformasi total yang dilakukan tidak hanya merestrukturisasi keuangan, tapi seluruh bisnis proses BUMN yang tentunya akan berdampak terhadap kinerja perusahaan secara holisme.

BUMN sudah seyogianya menjadi katalisator dan leading sector perekonomian nasional bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Misal, pemerintah, swasta nasional, UMKM/Koperasi, BUMD dan BUMDES.

Penangan ekonomi nasional tidak lagi bisa dilakukan secara ego sektoral, tapi harus secara holisme dengan pendekatan kolaborasi. BUMN harus menjadi titik sentral penggerak ekonomi nasional. Namun, tentunya harus menyehatkan dirinya terlebih dahulu, dan dengan segala potensi yang ada mustahil untuk tidak bisa dilakukan.

Sudah saatnya melakukan perubahan besar, dan akan selalu ada perlawanan di setiap perubahan sekecil apa pun. Untuk itu, komitmen dan konsistensi dari pemegang kebijakan sangat diperlukan apabila ingin berubah ke arah yang lebih baik lagi.

Tantangan hari ini dan ke depan bukan semakin mudah yang diperparah oleh kondisi ekonomi global yang semakin memburuk. Tak ada kata lain selain “do it now or never” dan mari berpikir dan bertindak “out of the box“. Bahkan, “no box at all” karena dunia sudah tanpa sekat lagi dan berubah dalam kedipan mata. Wallahualam.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB IILHAM MALIK: Fenomena Memperbaiki dan Merusak Infrastruktur dalam Pembangunan Sapras

PEMBANGUNAN jaringan air bersih perkotaan oleh pemerintah bersama pihak swasta dimulai sejak beberapa waktu lalu. …