Optimalkan Lahan, WCS-WWF Gelar Sekolah Lapang Kakao-Kopi di Lampung Barat


PETANI kopi | ilustrasi/ist

LAMPUNG BARAT, duajurai.co – Wildlife Conservation Society (WCS) bersama WWF Indonesia dan Yayasan Badak Indonesia (YABI) mengadakan Sekolah Lapang Kakao dan Kopi bagi petani di Kabupaten Lampung Barat. Program Pelestarian Habitat Prioritas di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) itu guna mengoptimalkan lahan perkebunan di desa.

Sekolah Lapang Kakao dan Kopi digelar di tiga dari 10 desa dampingan program di Lampung Barat. Sekolah Lapang Kopi di Desa Tebaliokh, Kecamatan Batu Brak, didampingi oleh YABI. Sementara Sekolah Lapang Kakao di Desa Bumi Hantatai, Kecamatan Bandar Negeri Suoh dan Desa Sukamarga, Kecamatan Suoh, yang masing-masing didampingi oleh YABI dan WWF-Indonesia.

“Sekolah lapang mengajarkan petani untuk dapat mengoptimalkan lahan perkebunan yang terbatas di kawasan tanah marga. Penghasilan petani kopi dan kakao dapat meningkat hingga tiga kali lipat jika lahan dikelola dengan optimal,” kata Sutarno, Livelihood Coordinator dari Program Pelestarian Habitat Prioritas di Kawasan TNBBS, melalui keterangan tertulis, Kamis, 14/11/2019.

Dia mengatakan, Sekolah Lapang Kopi dimulai sejak September dan akan berlangsung hingga 2020. Di Desa Bumi Hantatai, Sekolah Lapang Kakao sudah berlangsung selama enam minggu. Sedangkan di Desa Sukamarga sudah berlangsung untuk fase kedua. Hingga saat ini, terlihat perkembangan keterampilan dari petani yang terlibat di sekolah lapang.

“Tujuan utama sekolah lapang untuk mengurangi tekanan akibat perubahan hutan menjadi kebun di kawasan TNBBS. Dengan memaksimalkan potensi lahan di tanah marga, harapannya petani dapat sejahtera tanpa perlu membuka hutan di dalam kawasan taman nasional maupun kawasan hutan lindung,” ujarnya.

Samsi, salah satu petani kopi sekaligus peserta pelatihan, mengapresiasi sekolah lapang. Dia memperoleh banyak hal baru selama mengikuti sekolah lapang. Kebunnya dijadikan plot sekolah lapang.

“Ternyata selama ini cara kami mengelola kebun kopi kurang tepat. Kami belum berani untuk memangkas ranting. Akibatnya, banyak daun dan rantingnya panjang, tetapi buah kopinya malah kurang,” kata Samsi.

Menurut Ahmad Erfan, pelatih Sekolah Lapang Kopi, masalah utama kebun kopi di Lampung Barat, khususnya Desa Tebaliokh, bukan pascapanen. Tetapi, jumlah produksinya yang rendah. Saat ini, produksi kopi di Tebaliokh hanya 600 kg per hektare.

“Peserta sekolah lapang sudah menilai produksi kebun kopinya masing-masing. Misalnya, di lahan kopi seluas 20×20 meter yang menjadi plot, ternyata hanya 22 dari 100 batang kopi yang baik. Sementara untuk mencapai produksi buah kopi yang optimal diperlukan sekitar 16-18 cabang pada setiap batang tanaman kopi. Wajar jika jumlah produksi kebun masih rendah,” ujarnya.

Sugihartono, pengajar dalam program Sekolah Lapang Kakao di Sukamarga dan Bumi Hantatai, menyatakan bahwa produksi kakao di Kecamatan Suoh masih belum maksimal. Hal tersebut senada dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung Barat. Jumlah produksi kebun kakao pada 2018 di Kecamatan Suoh sebanyak 1,4 ton per tahun. Angka itu dihasilkan dari 290.6 hektare kebun kakao yang produktif. Sementara masih terdapat 86,8 hektare kebun kakao yang belum menghasilkan.

“Di Desa Sukamarga, satu hektare kebun kakao hanya menghasilkan 1-2 ton per tahun. Padahal, dengan perawatan yang baik dan penggunaan bibit unggul, satu hektare dapat menghasilkan dua kali lipatnya, yaitu sebanyak 3-4 ton per tahun,” kata dia.

Program Pelestarian Habitat Prioritas di TNBBS merupakan kerjasama antara Balai Besar TNBBS, WCS, WWF, dan YABI dengan dukungan dari Kementerian Federal Negara Jerman untuk lingkungan, konservasi alam dan keamanan nuklir (BMU) melalui KfW, Bank Pembangunan Pemerintah Jerman. Salah satu keluaran dari program ini adalah mengurangi tekanan pada kawasan Intensive Protection Zone (IPZ)-TNBBS melalui pelibatan masyarakat dalam pemulihan ekosistem dan pengelolaan penggunaan lahan di desa sekitar IPZ.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Wahrul Fauzi: Kementan Segera Selesaikan Masalah Pertanian di Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Komisi II DPRD Provinsi Lampung kunjungan kerja (kunker) ke Kementerian Pertanian …