Nobar “Kucumbu Tubuh Indahku” di Lampung Dibubarkan, Klub Nonton: Ini Belenggu Kebebasan Karya Seni


SUASANA pembubaran nobar film “Kucumbu Tubuh Indahku” di Gedung DKL, kompleks PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Selasa, 12/11/2019. | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sekelompok orang yang mengenakan pakaian bertuliskan Front Pembela Islam (FPI) membubarkan acara menonton bareng (nobar) film “Kucumbu Tubuh Indahku” di Gedung Dewan Kesenian Lampung (DKL), kompleks Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Way Halim, Bandar Lampung, Selasa, 12/11/2019. Aksi main hakim tersebut dinilai sebagai bentuk pembelengguan terhadap kebebasan karya seni.

Nobar film “Kucumbu Tubuh Indahku” diselenggarakan Klub Nonton dan Komunitas Dongeng Dakocan. Klub Nonton memang menjadwalkan untuk memutarkam film-film “bagus” setiap bulan. Tujuannya, mengapresiasi, memperkenalkan, sekaligus memberikan literasi dan rujukan bagi penikmat dan penggiat film di Lampung.

“Kejadian ini menunjukkan bahwa telah terjadi penghakiman massal yang mencederai dan membelenggu kebebasan karya seni dan pikiran, khususnya dalam mengapresiasi film Indonesia. Seperti yang diketahui bahwa film ini telah dinyatakan lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF) dengan Nomor 1668/DCP/NAS/REV/17/12.2023/2018,” kata Fery Ardian, Head of Public Relations Klub Nonton, melalui keterangan tertulis, Rabu, 13/11/2019.

Dia mengatakan, pihaknya merencanakan pemutaran film “Kucumbu Tubuh Indahku” dalam dua sesi, yaitu show pertama pukul 13.45 WIB dan show kedua 15.45 WIB. Namun, pihaknya terpaksa menghentikan pemutaran show pertama pada durasi 45 menit. Pasalnya, sekelompok orang menuntut paksa untuk menghentikan pemutaran film dengan alasan bahwa film “Kucumbu Tubuh Indahku” melanggar etika dan moral masyarakat Indonesia, khususnya Lampung.

Klub Nonton pun terpaksa menghentikan show pertama di tengah pemutaran dan membatalkan pembelian tiket Show kedua. Keputusan tersebut guna meminimalkan berbagai hal yang tidak diinginkan.

“Benar kata Mas Garin Nugroho selaku sutradara film ini bahwa anarkisme massal tanpa proses dialog akan mematikan daya pikir terbuka serta kualitas warga bangsa, memerosotkan daya kerja serta cipta yang penuh penemuan warga bangsa,” ujar Fery mengutip ucapan Garin.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Wahrul Fauzi: Kementan Segera Selesaikan Masalah Pertanian di Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Komisi II DPRD Provinsi Lampung kunjungan kerja (kunker) ke Kementerian Pertanian …