AJI Bandar Lampung Kecam Pembubaran Nobar Film “Kucumbu Tubuh Indahku”


SUASANA pembubaran nobar film “Kucumbu Tubuh Indahku” di Gedung DKL, kompleks PKOR Way Halim, Bandar Lampung, Selasa, 12/11/2019. | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung mengecam pembubaran acara menonton bareng (nobar) film “Kucumbu Tubuh Indahku”. Tindakan tersebut bentuk pelanggaran terhadap kebebasan ekspresi yang merupakan elemen penting dalam demokrasi.

Nobar film “Kucumbu Tubuh Indahku” digelar Klub Nonton dan Komunitas Dongeng Dakocan di Gedung Dewan Kesenian Lampung (DKL), kompleks Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Way Halim, Bandar Lampung, Selasa, 12/11/2019. Di tengah nobar, belasan pria yang sebagian berbaju putih bertuliskan Front Pembela Islam (FPI) Kota Bandar Lampung berteriak sambil memaksa panitia untuk menghentikan pemutaran film.

“AJI, organisasi profesi jurnalis yang salah satu misinya mengembangkan demokrasi dan keberagaman, mengecam pembubaran acara nobar film “Kucumbu Tubuh Indahku”. Menonton film yang merupakan hak setiap individu dijamin konstitusi, yakni Pasal 28C ayat (1) UUD 1945,” kata Ketua Bidang Advokasi AJI Bandar Lampung Andi Apriyadi melalui keterangan tertulis, Rabu, 13/11/2019.

Andi mengatakan, menonton film adalah bagian dari kebebasan ekspresi. Secara umum, kebebasan berekspresi penting karena beberapa hal, di antaranya untuk pencarian kebenaran dan kemajuan pengetahuan. Selain itu, kebebasan berekspresi memungkinkan masyarakat dan negara untuk mencapai stabilitas dan adaptabilitas/kemampuan beradaptasi. Penindasan atas kebebasan berekspresi bisa menimbulkan benih instabilitas karena masyarakat akan menjadi kaku dan tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan.

Menurutnya, kebebasan berekspresi merupakan salah satu elemen penting dalam demokrasi serta bentuk partisipasi publik dalam melaksanakan haknya secara efektif. Apabila masyarakat tidak memiliki kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya atau menyalurkan aspirasinya, maka dapat dikatakan bahwa proses demokrasi dalam suatu negara tidak berjalan baik. Hal ini dapat menimbulkan suatu pemerintahan yang otoriter.

“Kami juga meminta elemen masyarakat untuk menghormati karya seni dan ekspresi warga negara. Mendesak negara untuk memberikan perlindungan atas kebebasan berekspresi,” ujarnya.

Film “Kucumbu Tubuh Indahku” bercerita tentang penari Lengger Lanang. Film tersebut mengisahkan perjalanan Juno (Muhammad Khan) dari kecil sampai dewasa. Ia lahir di sebuah desa kecil di daerah Jawa yang terkenal dengan penari Lengger Lanang atau penari laki-laki yang menari tarian perempuan. Kemampuan alami tersebut didapat dari lingkungan desa dan keluarganya yang sering meleburkan tubuh maskulin dan feminin.(*)

Baca juga Nobar “Kucumbu Tubuh Indahku” di Lampung Dibubarkan, Klub Nonton: Ini Belenggu Kebebasan Karya Seni


Komentar

Komentar

Check Also

Wahrul Fauzi: Kementan Segera Selesaikan Masalah Pertanian di Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Komisi II DPRD Provinsi Lampung kunjungan kerja (kunker) ke Kementerian Pertanian …