Liku-liku Pemberian Uang Seleksi Calon Anggota KPU di Lampung


MANTAN Timsel Calon Anggota KPU Lampung Budiono (kaus berkerah) menceritakan pemberian uang dalam seleksi calon komisioner KPU di LBH Bandar Lampung, Jumat, 8/11/2019. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Akademisi Universitas Lampung (Unila) Dr Budiono melaporkan pemberian uang dalam proses seleksi calon anggota KPU di kabupaten. Pemberian sejumlah uang untuk memengaruhi hasil seleksi penyelenggara pemilu.

Budiono bercerita, suami dari salah satu calon komisioner KPU Kabupaten Tulangbawang berinisial VY mendatangi dirinya pada 3 November 2019, sekitar pukul 06.30 WIB. Kepada Budiono, sang suami menyampaikan bahwa istrinya ditelepon LP, calon komisioner KPU Pesawaran. LP bilang VY tidak akan menjadi komisioner karena terkait dengan sistem informasi partai politik (Sipol).

“Lalu, LP mengatakan, VY bisa lulus menjadi komisioner kalau menyediakan uang sekitar Rp150 juta,” kata Budiono saat jumpa pers di LBH Bandar Lampung, Jumat, 8/11/2019.

Saat itu, Budiono belum percaya. Dia berpikir kemungkinan ini penipuan. Namun demikian, Budiono yang juga mantan Tim Seleksi Calon Anggota KPU Provinsi Lampung mengakui bahwa isu permainan uang sedang santer.

“Tetap, saya masih belum percaya. Karena itu, saya minta suami VY untuk kembali menelepon LP, dan merekam percakapan,” ujarnya.

Dalam rekaman, LP menyampaikan bahwa bisa lulus seleksi bila menyetor sekitar Rp150 juta. LP merasa yakin dapat lulus seleksi calon anggota KPU Pesawaran. Sebab, dirinya telah menyetor uang sebesar Rp170 juta.

“Pada saat itu, dia (LP) mengatakan nanti ada yang menghubungi. Lalu, suami VY itu berkontak dengan salah satu komisioner KPU Lampung yang menjanjikan itu. Terjadilah percakapan via telepon di rumah saya,” kata Budiono.

Kemudian, suami VY mengatur janji dengan LP. Mereka bertemu di Swiss-Belhotel Lampung, kamar 7010, 4 November 2019, pukul 08.30 WIB. Waktu itu, tengah berlangsung fit and proper test calon komisioner KPU Pesawaran.

Ketika sampai di sana, ternyata di dalam kamar ada seorang komisioner berinisial ENF dan LP. Setelah pertemuan itu, suami VY kembali menemui Budiono. Dia memperlihatkan video yang sangat jelas menunjukkan ENF, anggota KPU Lampung.

“Menurut saya, ini tidak boleh, komisioner KPU yang sedang menggelar fit and proper test berhubungan dengan salah satu calon komisioner. Saat itu, ENF menunjukkan beberapa isi WhatsApp, termasuk susunan komisioner yang akan terpilih di kabupaten/kota di Lampung, dan nama VY tidak ada,” ujar Budiono.

Kemudian, terjadi percakapan lagi via telepon antara suami VY dengan LP. Inti percakapan, VY akan menjadi komisioner bila menyerahkan Rp100 juta. Uang sebanyak itu sebagai bukti bahwa yang disampaikan LP tidak main-main.

“Maka, terjadilah penyerahan uang Rp100 juta di Hotel Horison. Ada kuitansinya,” kata dia.

Menurut Budiono, penyerahan uang tersebut hanya sebagai pancingan. Hal itu untuk membuktikan apakan benar uang tersebut diterima LP atau tidak. Ternyata, LP menerima uang itu, bahkan memberikan kuitansi.

“Akhirnya saya mengambil kesimpulan untuk melapor ke DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu). Soal calon komisioner LP, karena yang bersangkutan tidak dalam kapasitas DKPP, maka kami akan laporkan ke Polda karena masuk dalam penipuan,” ujarnya.(*)

Baca juga LBH: Seleksi Calon Anggota KPU Kabupaten/Kota Lampung Diwarnai Pemberian Uang

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Fit and Proper Test PKS, Rycko Menoza Janji Benahi Transportasi Publik

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Bakal Calon Wali Kota Bandar Lampung Rycko Menoza berjanji membenahi transportasi …