Diskusi Publik, Rita Manik: Masyarakat Harus Beradaptasi Terhadap Perubahan Iklim


AHLI iklim Rita Manik saat diskusi publik soal perubahan iklim di Hotel Marcopolo, Bandar Lampung, Kamis, 7/11/2019. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Ahli iklim Universitas Lampung (Unila) Tumiyar Katarina Manik menyarankan masyarakat sebaiknya beradaptasi terhadap perubahan iklim. Artinya, masyarakat mesti waspada terhadap cuaca ekstrem, angin kencang, kemarau panjang, dan hujan yang sebentar, tetapi menghancurkan.

“Kami yang orang klimatologi juga masih gagap soal itu. Faktornya banyak, dari suhu muka laut, arah angin, dan lainnya. Justru karena terlalu banyak faktor itu agak susah kami memprediksi,” kata Tumiyar usai diskusi publik soal perubahan iklim, air, dan sanitasi di Hotel Marcopolo, Bandar Lampung, Kamis, 7/11/2019.

Atas dasar itu, dia meminta agar lebih baik pakai saja konsep bahwa iklim sudah berubah. Sehingga, jangan lagi terjebak pada zona nyaman.

“Masyarakat harus beradaptasi dengan perubahan iklim. Beradaptasilah bahwa iklim tidak segampang dahulu,” ujarnya.

Menurut akademisi yang biasa disapa Rita itu, perubahan iklim karena meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Gas rumah kaca merupakan kelompok gas-gas yang dihasilkan oleh aktivitas manusia maupun secara alami. Jika terakumulasi di atmosfer akan mengakibatkan bumi semakin panas.

Cuaca ekstrem, termasuk banjir dan kekeringan yang meningkat dalam frekuensi dan intensitas merupakan dampak dari perubahan iklim. Hal ini memengaruhi operasional penyediaan air, infrastruktur drainase dan pembuangan, dan instalansi pengolahan sampah. Dampaknya, perlindungan bagi kesehatan masyarakat, terutama masyarakat yang dikategorikan miskin, juga terganggu.

“Ada efek domino. Kalau satu tersinggung, maka akan menyambar ke yang lainnya,” kata dia.

Dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim, perlu difokuskan pada kapasitas dari sektor lingkungan dan kesehatan, serta peranan dari pimpinan penyediaan air. Kemudian, strategi komunikasi pada publik adalah kunci dari pengurangan resiko kesehatan akibat masalah sanitasi.

“Misalnya air, meskipun tidak langsung anjlok, tak ada air sama sekali, tetapi harus mulai berpikir untuk penghematan air, atau menahan air hujan agar tidak langsung turun ke laut. Harus ada gerakan untuk mengurangi efeknya,” ujar Rita.(*)

Baca juga Perubahan Iklim Ubah Perilaku Manusia, Pasokan Air Bersih Berkurang

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Tangani Covid-19, Nanang Minta Dinas Kesehatan Lamsel Fokus 3 Kecamatan

KALIANDA, duajurai.co – Bupati Nanang Ermanto meminta Dinas Kesehatan Lampung Selatan untuk berkonsentrasi di tiga …