Diskusi Publik Perubahan Iklim, Bambang Pujiatmoko: Lampung Krisis Air 2020


WASH Advisor SNV Bambang Pujiatmoko saat diskusi publik soal perubahan iklim di Hotel Marcopolo, Bandar Lampung, Kamis, 7/11/2019. Aktivis lingkungan senior itu memprediksi Lampung akan krisis air, tahun depan. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Wash Advisor SNV Bambang Pujiatmoko memprediksi Lampung akan mengalami krisis air pada 2020. Prediksi tersebut berdasar penelitian ihwal debit air yang memperlihatkan perubahan.

Bambang menyampaikan hal itu pada Diskusi Publik “Perubahan Iklim, Air, dan Sanitasi untuk Mendukung Pembangunan yang Berkelanjutan (SDGs) Provinsi Lampung”. Diskusi yang digelar Mitra Bentala dan SNV bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung itu berlangsung di Hotel Marcopolo, Bandar Lampung, Kamis, 7/11/2019.

Dia mengatakan berdasar penelitian Governance in Water Resources Management (GGWRM) pada 2003, perbandingan antara debit maksimum air sungai dengan debit minimum naik dari sekitar 5 meter per kubik pada 1968 menjadi sekitar 33 meter per kubik pada 2001. Sementara, kondisi sungai yang masih baik perbandingannya kurang dari 20 sungai.

Kemudian, pada 2009 ada penelitian lagi dari Universitas Lampung (Unila). Penelitian itu melaporkan bahwa debit air saat musim hujan mencapai 84 liter per detik, dan musim kemarau 1 liter per detik.

“Artinya, hasil penelitian 2003 dan 2009 itu trennya sama. Debit air minimal semakin menurun, dan debit air maksimal trennya semakin naik. Jika kemarau, maka akan sangat kekeringan, dan ketika hujan akan banjir bandang. Ini disebut krisis air. Berdasar data itu, saya pada 2017 memprediksi bahwa Lampung krisis air pada 2020,” kata Bambang.

Adapun risiko bencana iklim, di antaranya kenaikan muka air laut. Pada 2025, muka air laut diperkirakan mencapai 10 cm, dan naik lagi menjadi 21 cm pada 2050. Hal tersebut berdasar analisis Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN).

“Daerah paling rawan khususnya di Bandar Lampung, yaitu Telukbetung Barat, Telukbetung Selatan, dan Panjang,” ujarnya.

Untuk risiko banjir di Bandar Lampung, 33% banjir mencapai ketinggian 0,5 meter, dan 18% mencapai 1 meter. Khsusus di Telukbetung Selatan, ketinggian banjir mencapai 1,7 meter.

“Daerah yang paling rawan banjir adalah Telukbetung Selatan, yang diperkirakan 12 kali setahun, dan durasi banjir rata-rata 48 jam, serta wilayah Tanjungkarang Timur,” kata dia.

Kemudian, risiko kekeringan terjadi setiap tahun selama beberapa bulan di berbagai daerah. Daerah paling rawan, antara lain Panjang, Sukabumi, Tanjungkarang Pusat, Telukbetung Barat, Telukbetung Selatan, dan Telukbetung Utara.

Sedangkan daerah rawan longsor, kawasan Tanjungkarang Barat, Tanjungkarang Pusat, Tanjungkarang Timur, dan Kemiling. Kemudian, Kedaton, Bumi Waras, Panjang, Telukbetung Timur, Telukbetung Barat, Telukbetung Utara, dan Sukabumi.(*)

Baca jug Pemred duajurai.co Juwendra Moderatori Diskusi Publik Perubahan Iklim

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Tangani Covid-19, Nanang Minta Dinas Kesehatan Lamsel Fokus 3 Kecamatan

KALIANDA, duajurai.co – Bupati Nanang Ermanto meminta Dinas Kesehatan Lampung Selatan untuk berkonsentrasi di tiga …