Walhi Lampung: Longsor Bukit Perahu akibat Penambangan Batu


SEJUMLAH pemecah batu di Bukit Perahu, Sukamenanti, Bandar Lampung, Kamis, 31/10/2019. Kemarin, bukit yang ditambang untuk diambil batunya itu longsor. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Eksekutif Daerah Lampung menduga longsor di Bukit Perahu akibat penambangan batu, bukan peristiwa alam. Dugaan itu berdasar pantauan Walhi bahwa lokasi longsor berada di titik penambangan.

“Longsor tersebut bukan terjadi secara alami, melainkan adanya campur tangan manusia,” kata Direktur Eksekutif Walhi Lampung Irfan Tri Musri melalui keterangan tertulis, Kamis, 31/10/2019.

Dia mengatakan terlihat jelas perubahan bentang alam dan bentuk/kontur lahan akibat pengerukan dengan alat berat yang membuat tanah mudah longsor. Bahkan, hari ini, beberapa truk terpantau memuat material longsor.

“Peristiwa ini peringatan keras bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung agar segera sadar bahwa kondisi gunung dan bukit sudah kritis karena alih fungsi lahan. Saat ini, hampir seluruh bukit di Bandar Lampung beralih fungsi menjadi perumahan, tempat wisata, dan lokasi pertambangan,” ujarnya.

Menurut Irfan, mustahil menjadikan Bandar Lampung bebas dari bencana ekologis bila pemerintah setempat tidak mulai menata lingkungan hidup. Untuk itu, Pemkot Bandar Lampung perlu membuat regulasi khusus perlindungan dan pengelolaan bukit. Juga menjalankan upaya-upaya pengawasan. Sebab, selama ini, Pemkot Bandar Lampung terkesan abai terhadap eksploitasi bukit yang terbilang masif.

“Dinas Lingkungan Hidup selalu berkilah terhadap aktivitas pertambangan bukit/gunung terkait dengan aspek izin pertambangan yang kewenanganya ada pada pemerintah provinsi. Seharusnya, pemkot tidak perlu kaku terkait dengan aspek administrasi pertambangan dan melakukan terobosan ihwal lingkungan hidup,” kata dia.

Berdasar catatan Walhi Lampung, dari 33 bukit/gunung di Kota Tapis Berseri, hanya tiga bukit yang masih terjaga kealamannya dan belum terjamah manusia. Hal ini gambaran sangat buruk terkait pengelolaan lingkungan hidup. Ruang terbuka hijau juga masih minim, yakni sekitar 11%.

Bukit Perahu di Kelurahan Sukamenanti, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, longsor pada Rabu, 30/10/2019, sekitar pukul 14.30 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, bagi pemecah batu longsor itu suatu keberkahan. Sebab, mereka tak perlu mendaki untuk menambang batu.(*)

Baca juga Punya Perorangan, Bukit Perahu Bandar Lampung Bakal Jadi Perumahan-Kantor Lurah


Komentar

Komentar

Check Also

Jelang Tahun Baru, Chandra Mal Boemi Kedaton Diskon Snack-Minuman

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Supermarket Chandra Mal Boemi Kedaton (MBK) memberikan harga spesial untuk aneka makanan ringan …