Saksi Meletusnya Krakatau, Rambu Kapal De Brow di Gedung Pakuon Tidak Terawat


LURAH Gedung Pakuon Musa Shaleh memperlihatkan mercusuar Kapal De Brow, Selasa, 29/10/2019. Saat ini, kondisi mercusuar yang menjadi saksi meletusnya Gunung Krakatau 1883 itu tidak terawat. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Salah satu rambu milik Kapal De Brow berada di belakang Musala Nurul Iman, RT 1/Lingkungan III, Kelurahan Gedung Pakuon, Kecamatan Telukbetung Selatan, Bandar Lampung. Kapal asal Belanda itu terhempas ke pesisir Bandar Lampung saat meletus Gunung Krakatau pada 1883. Mercusuar lainnya berada di Taman Dipangga, depan Mapolda Lampung.

“Saat ini, kondisi rambu kapal tidak terawat, berada di tengah impitan rumah warga dan musala,” kata Lurah Gedung Pakuon Musa Shaleh di lokasi mercusuar, Selasa, 29/10/2019.

Dia mengatakan, sejak peristiwa meletusnya Krakatau 1883, keberadaan rambu tersebut belum pernah berpindah. Hal itu karena warga tidak ada yang berani dan tidak mampu memindahkan rambu kapal dengan berat yang diperkirakan mencapai satu ton.

“Itu besinya tebal sekali. Beratnya kira-kira satu ton, tingginya sekitar dua meter. Jadi, warga gak mampu memindahkannya dari situ,” ujarnya.

Menurut Ridwan Syah (55), warga setempat, sebenarnya sudah ada beberapa pihak yang meninjau keberadaan rambu tersebut. Namun, sampai sekarang belum ada tindakan apa-apa hingga kondisi rambu kapal semakin buruk, bahkan keropos di beberapa bagian.

“Beberapa bulan lalu ada yang datang, katanya dari Dinas Kebudayaan. Mereka mengecek kondisi rambu kapal, tapi saya tidak tahu apa kelanjutannya,” kata dia.

Pria yang tinggal di sana sejak 1970’an itu menyatakan bahwa semula posisi mercusuar tidak terimpit bangunan. Awalnya, mercusuar berada di lahan kosong milik warga. Namun, seiring berjalannya waktu, pembangunan terus dilakukan karena kebutuhan warga, dibangun pula Musala Nurul Iman.

“Bagian belakang itu juga ada gudang. Jadi, memang sulit kalau mau melihat dari dekat,” ujar Ridwan.

Pantauan duajurai.co, posisi rambu Kapal De Brow berada di belakang musala, terimpit tembok musala dan rumah warga. Untuk mendekati rambu, mesti melompati parit dan berhati-hati karena hanya ada ruang kecil untuk lewat dan mendekat ke rambu kapal. Bagian badan rambu kapal sebagian tertimbun tanah. Pada bagian bawah terlihat besi mulai keropos, namun pada bagian atas terlibat masih kokoh.

Lurah Gedung Pakuon didampingi Serda Redi A Gusti, Babinsa Kelurahan Gedung Pakuon. Juga tampak kesulitan memasuki area tersebut. Pengambilan foto juga mesti memanjat tembok bangunan musala.(*)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Jelang Tahun Baru, Chandra Mal Boemi Kedaton Diskon Snack-Minuman

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Supermarket Chandra Mal Boemi Kedaton (MBK) memberikan harga spesial untuk aneka makanan ringan …