OPINI IB IILHAM MALIK: Fenomena Memperbaiki dan Merusak Infrastruktur dalam Pembangunan Sapras


AIR bersih | ilustrasi/ist
Dr Eng IB Ilham Malik, ST., MT., ATU | Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota di Magister Teknik Universitas Bandar Lampung

PEMBANGUNAN jaringan air bersih perkotaan oleh pemerintah bersama pihak swasta dimulai sejak beberapa waktu lalu. Jaringan air bersih ini menggunakan bagian bawah badan jalan sebagai tempat menempatkan utilitas atau pipa distribusi air bersih tersebut. Air diambil dari Way Sekampung yang kemudian diolah sedemikian rupa sebelum didistribusikan ke kawasan Bandar Lampung, serta beberapa kawasan layanan di sepanjang koridor layanan jaringan air bersih tersebut.

Pembangunan sistem jaringan air bersih yang menjadikan Way Sekampung sebagai sumber penyediaan air bersih perkotaan dilatarbelakangi oleh beberapa hal, antara lain rendahnya layanan dan cakupan layanan perusahaan daerah penyediaan air bersih di Bandar Lampung. Kemudian, disusul fenomena yang sangat krusial di mana masyarakat menjadikan air tanah sebagai sumber air bersih. Padahal, air tanah seyogianya menjadi sumber air cadangan setelah kita menggunakan seluruh air permukaan untuk memenuhi kebutuhan air pada seluruh aktivitas kegiatan manusia.

Namun, pada kenyataannya saat ini air tanah menjadi sumber air utama masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka terhadap air di semua kegiatan sosial dan ekonomi perkotaan. Sebab, pengambilan air tanah secara besar-besaran dapat menimbulkan masalah pada keseimbangan dan keberlanjutan lingkungan hidup. Karena itu, perlu ada upaya dari berbagai pihak untuk mengurangi penggunaan air tanah dan diganti dengan penggunaan air permukaan sebagai sumber air utama warga. Untuk konteks Bandar Lampung dan kawasan aglomerasi-nya, penggunaan air sungai adalah penggunaan yang sangat memungkinkan jika dibandingkan dengan menggunakan air laut sebagai sumber air bersih.

Karena itu, pemerintah mencari sumber air permukaan berupa sungai yang terdekat dan dapat memenuhi kebutuhan penggunaan air bersih harian masyarakat. Pilihan yang paling memungkinkan adalah penggunaan air dari Way Sekampung. Namun, lokasi Way Sekampung relatif jauh dari kawasan kota. Itu sebabnya, dibutuhkan pembangunan sistem jaringan utama air bersih untuk membawa debit air dalam jumlah besar dari lokasi sumber air bersih ke kawasan layanan di Bandar Lampung dan sekitarnya. Ketika jaringan pipa tersebut dibangun, maka pertanyaan yang diajukan adalah lokasi mana yang menjadi tempat untuk menempatkan pipa jaringan air bersih untuk melayani masyarakat tersebut?

Dalam realisasinya, ternyata lokasi yang dipilih sebagai tempat untuk menanam utilitas berupa pipa jaringan air bersih tersebut adalah di bawah badan jalan. Dalam konteks pembangunan sistem pembangunan air bersih perkotaan di Bandar Lampung, badan jalan yang dipilih sebagai tempat untuk menanam pipa air bersih tersebut merupakan jaringan badan jalan yang dimiliki oleh pemerintah pusat. Padahal sebelumnya, pemerintah baru saja memperbaiki kualitas permukaan badan jalan itu. Namun, saat ini badan jalan yang semula dalam kondisi baik dan memberikan kenyamanan kepada pengendara, kembali terancam mengalami kerusakan yang dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Seperti biasanya, setiap kebijakan menggali badan jalan untuk menanam utilitas ditindaklanjuti oleh pihak yang melakukan galian dengan memperbaiki ruas jalan yang sudah mengalami kerusakan tersebut. Tetapi, seperti biasanya juga, badan jalan yang sudah diperbaiki tersebut ternyata tidak memiliki kualitas yang sama dengan kondisi sebelumnya. Ada banyak alasan yang bisa disampaikan oleh berbagai pihak terkait dengan mutu jalan, baik berupa badan jalannya maupun permukaan badan jalan tersebut, yang mengalami perbedaan kondisi dengan kondisi sebelumnya.

Karena kondisi ini sudah berlangsung selama puluhan tahun, seharusnya program pembangunan antara satu program dengan program lainnya tidak saling tumpang tindih. Bahkan, seperti pada saat ini, yaitu membawa konsekuensi pada terjadinya kerusakan terhadap sapras yang sudah dalam kondisi baik. Fenomena tahapan pembangunan yang tidak berjenjang dan tidak mematuhi tahapan pembangunan ini, seharusnya sudah tidak lagi terjadi. Apalagi, saat ini sudah ada banyak ahli yang bisa membangun atau membuat tahapan perencanaan pembangunan, yang kemudian bisa disokong oleh teknologi yang memadai.

Dengan begitu, pembangunan demi pembangunan tidak saling mengganggu kondisi hasil pembangunan yang sudah dilakukan sebelumnya. Tetapi, yang seharusnya adalah setiap pembangunan selesai dapat dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur lainnya yang semakin memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Juga meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat dalam berbagai hal.

Saya sangat menyayangkan masih adanya kelemahan di internal pemerintah dan berbagai pihak yang berkaitan dengan kondisi ini, yang mana seharusnya pembangunan demi pembangunan dapat secara bertahap dilakukan tanpa menimbulkan kerugian pada penggunaan infrastruktur sebelumnya. Seharusnya pembangunan utilitas pipa air bersih tersebut di lokasi sistem jaringan drainase jalan raya. Pembangunan sistem drainase ini disatukan desainnya dengan jaringan utilitas lain yang ke depan akan digunakan sebagai tempat untuk menempatkan jaringan sistem sanitasi, telekomunikasi, energi listrik, dan gas. Jadi, ketika pipa jaringan air bersih tersebut dibangun, maka secara bersamaan pemerintah dan pihak swasta dapat membangun sistem drainase terpadu (investasi tambahan).

Dan mereka (KPBU air bersih) bisa bersepakat dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak lainnya, agar jaringan sistem drainase tersebut dapat mereka sewakan kepada berbagai pihak lainnya. Sehingga, ketika utilitas tersebut dibangun, maka tidak perlu lagi harus melakukan pembongkaran badan jalan yang dapat merusak fasilitas infrastruktur eksisting. Konsep ini seharusnya menjadi konsep yang dijalankan oleh pemerintah dan pihak swasta ketika mereka membangun sistem utilitas perkotaan. Dengan begitu, secara bertahap daerah kita akan memiliki fasilitas sistem utilitas yang terpadu dan sesuai dengan konsep pengembangan utilitas kawasan Metropolitan.

Kalau saja sistem ini bisa dilaksanakan, maka koridor jalan akan relatif bersih dan tertata. Sebab, semua jaringan bersifat tertutup dan posisinya berada di bawah badan jalan atau di sisi badan jalan yang meliputi sistem drainase, sistem sanitasi, sistem air bersih, sistem telekomunikasi, energi, limbah dan juga gas. Pada saat ini pembangunan salah satu sistem utilitas perkotaan sudah dilaksanakan dan menimbulkan kerusakan pada utilitas lainnya. Semoga ke depan tidak lagi terjadi sepert ini.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Usai Konferensi PGRI, Menanti Harapan untuk Lampung Berjaya

Oleh AAN FRIMADONA ROZA | Wakil Ketua PGRI Kabupaten Way Kanan SALAH satu amanat Kongres …