CATATAN HARI SANTRI 2019: Momentum Santri untuk Berbenah


GRAFIS joe chaniago/.duajurai.co

Oleh Muhammad Idris MPdI | Ketua STIT Tanggamus

TAK TERASA bertemu lagi dengan 22 Oktober. Tanggal ini pada 15 Oktober 2015 ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Hari Santri Nasional dengan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Pemilihan tanggal dan keputusan ihwal perlunya Hari Santri tentu saja tidak sekadar penamaan. Tapi lebih dari itu, ada makna besar yang ingin dicapai. Ada spirit yang tak boleh terabaikan. Ada sejarah perjuangan kebangsaan yang tak ingin dikaburkan. Ada nilai-nilai moralitas yang harus terus dipupuk. Ada kebaikan yang wajib dijaga.

Berangkat dari situ, Hari Santri Nasional sejatinya perlu dimaknai lebih dalam. Tentang peran besar para kiai juga santri melawan penjajahan bangsa asing yang menurut catatan bertepatan dengan terbitnya Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober.

Melihat ke belakang, dan sejarah mencatat bahwa ulama dan santri bersama komponen bangsa lainnya memiliki peran sangat besar dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah, hingga masa kemerdekaan. Itu tak boleh dinafikan, apalagi sampai dilupakan.

Karena itu lah, peran ulama dan santri, seperti KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah, A Hassan dari Persis, Abdul Rahman dari Matlaul Anwar, Ahmad Soorhati dari Al Irsyad, para tokoh agama serta para pejuang lainnya (yang banyak dari kalangan santri) dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia, harus selalu dijadikan spirit.

Tanggal 22 Oktober setiap tahunnya menjadi momentum renungan untuk mengingat kembali sejarah perjuangan kaum pondok pesantren dalam melawan penjajah. Renungan untuk mengingat kembali sejarah. Renungan untuk selalu berbenah. Renungan memperbaiki kualitas diri.

Kita menyadari sepenuhnya, kaum santri pada era modernitas dan globalisasi kini, memiliki tantangan yang lebih berat. Jika tak berbenah dan meningkatkan kualitas diri, maka perlahan kita akan tergerus oleh zaman. Untuk itu, Hari Santri menjadi momentum dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Kaum santri harus berani menjawab sekaligus mengisi era globalisasi yang pengaruhnya sangat massif. Kaum santri harus tampil di setiap lini dalam menghadirkan perubahan nyata untuk bangsa dan agama. Kaum santri mesti menjadi penggerak menjaga moralitas bangsa.

Terkait itu pula, tekad santri mengisi dan menghadirkan perubahan positif mesti disinergikan, sekaligus mendapat dukungan penuh dari berbagai komponen bangsa. Terutama dengan perhatian serius pemerintah.

Kita berharap, Hari Santri bukan pemanis semata. Harapan kita, pesantren yang menjadi ‘rumah’ santri, sekaligus tempat pencerahan bangsa untuk berbenah, tak dipandang sebelah mata. Tak boleh dianaktirikan.

Pesantren wajib diperhatikan. Harus diberi ruang untuk mencetak generasi yang intelek dan bermoral. Generasi yang memahami sejarah bangsa dan agamanya. Tempat generasi kita ditempa untuk mewakafkan diri, mengisi, sekaligus mengawal kemerdekaan. Pesantren harus menjadi laboratorium lahirnya cendikiawan.

Khusus untuk Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung, Kota Santri ini tak boleh pudar. Harus ada kesadaran bersama untuk tetap melekatkan stigma tersebut.

Kabupaten yang menjadi tuan rumah MTQ Tingkat Provinsi Lampung pada 2020 mendatang ini bersiap menyambut tamu para kafilah dari kabupaten/kota. Daerah yang tak membiarkan pengaruh negatif menjangkiti generasi muda.

Pringsewu yang syiar Islamnya selalu didengungkan, terlebih ada sosok KH Ghalib. Kabupaten yang selalu menjaga etika dan moralitasnya menuju Pringsewu yang Bersahaja (Berdayasaing, Harmonis dan Sejahtera).

Jika itu semua mampu kita jaga dan tingkatkan, maka yakinlah Kabupaten Pringsewu akan selalu bangga punya pesantren. Pesantren yang setiap saat memberikan konstribusi untuk kemajuan daerah. Pesantren yang selalu membentengi generasi dan umat dari berbagai pengaruh negatif.

Terakhir, sebagai pribadi dan santri, izinkan saya turut berbahagia dan menyampaikan selamat Hari Santri Nasional. Saya bangga menjadi santri.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Usai Konferensi PGRI, Menanti Harapan untuk Lampung Berjaya

Oleh AAN FRIMADONA ROZA | Wakil Ketua PGRI Kabupaten Way Kanan SALAH satu amanat Kongres …