Menjejak Kampung Bali Sadhar Way Kanan (2-habis)


TIGA gadis Kampung Bali Sadhar yang membawakan Tari Sekar Wangi, Kamis, 10/10/2019. | Imelda Astari/duajurai.co

BANJIT, duajurai.co – Seperti permukiman warga Bali pada umumnya, setiap rumah di Kampung Bali Sadhar memiliki tempat sembahyang di sudut utara dan timur rumah. Pohon kamboja mendominasi di antara tanaman hias lainnya. Sebuah Pura berdiri di tengah kampung. Balai adat juga tersedia sebagai tempat berkumpul dan acara adat.

Kampung Bali Sadhar Utara merupakan daerah yang terbilang cepat mencapai open defacation free (ODF), atau bebas buang air besar (BAB) sembarangan di Kabupaten Way Kanan. Banyak kontribusi Kampung Bali Sadhar Utara dalam membangun Way Kanan, terutama soal sanitasi.

“Di sini dibangun dengan pendekatan norma adat agar masyarakat tidak BAB sembarangan. Ternyata ini cara jitu, karena hanya dalam dua bulanan, beres urusan BAB sembarangan,” kata Dinas Kesehatan Way Kanan Anang Risgiyanto.

Wayan Lameg, Ketua Adat Pekon Bali Sadhar, mengatakan, pihaknya melakukan pendekatan adat untuk menerapkan lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), terutama pilar pertama, yaitu setop BAB sembarangan. Pihaknya menggunakan Awig Awig, yaitu peraturan adat yang mengatur berbagai hal, mulai tata pemerintahan, letak desa, hubungan manusia dengan tuhan, dan perilaku manusia.

“Jadi mulai dari lahir, menikah hingga meninggal, itu sudah diatur di Awig Awig. Bahkan, sampai persoalan cerai, mengangkat anak, itu juga sudah diatur dalam Awig Awig, termasuk urusan sanitasi,” ujarnya.

Semula, warga Kampung Bali Sadhar adalah transmigran dari Bali pada 1963. Kala itu, para transmigran banyak yang kelaparan dan terserang penyakit. Sehingga, puluhan transmigran meninggal dunia di bedeng-bedeng.

Sebagian orang kemudian memilih kembali ke Bali. Namun, sebagian lainnya memilih bertahan. Maka, dinamakanlah Kampung Bali Sadhar, yang bermakna bahwa mereka yang bertahan itu sadar mau bertempat tinggal dan hidup di Lampung, menjadi putra asli Lampung yang berasal dari Bali.

Dalam perkembangannya, Bali Sadhar dimekarkan menjadi tiga bagian pada 1984-1985. Ketiganya, Bali Sadhar Tengah, Bali Sadhar Selatan, dan Bali Sadhar Utara. Saat ini, terdata sebanyak 618 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.250 jiwa yang termasuk dalam masyarakat adat.(*)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Tangani Covid-19, Nanang Minta Dinas Kesehatan Lamsel Fokus 3 Kecamatan

KALIANDA, duajurai.co – Bupati Nanang Ermanto meminta Dinas Kesehatan Lampung Selatan untuk berkonsentrasi di tiga …