Menjejak Kampung Bali Sadhar Way Kanan (1)


SEKELOMPOK remaja memainkan alat musik saat menyambut rombongan Pemkab Way Kanan dan peserta field trip jurnalistik di Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kamis, 10/10/2019. | Imelda Astari/duajurai.co

BANJIT, duajurai.co – Suara genderang menyambut kami saat tiba di Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung, Kamis petang, 10/10/2019. Warga terlihat antusias tatkala melihat rombongan kepala Dinas Kesehatan setempat bersama aktivis Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS), SNV, dan sejumlah jurnalis yang menjadi peserta field trip jurnalistik potret sanitasi.

Warga membentuk barisan penyambutan rombongan sampai ke pintu balai desa. Senyum mengembang di wajah mereka. Rombongan tamu dan tuan rumah saling berjabat tangan. Ucapan selamat datang terdengar sahut-menyahut.

Pemain musik yang rerata remaja laki-laki terlihat energik memainkan berbagai alat musik, seperti gong, gamelan Bali, dan ceng ceng. Mereka pakai seragam serba putih, lengkap dengan penutup kepala khas Bali, yaitu Udeng.

Belum selesai menarik nafas setelah melihat kekaguman atas seni budaya Kampung Bali, kami kembali disuguhkan dengan penampilan tari kreasi dari tiga gadis kampung setempat. Mereka mengenakan kostum dan tarian yang memadukan budaya Bali dan Lampung.

Tari Sekar Wangi yang mereka pentaskan adalah tari kreasi kebudayaan adat Lampung dan Bali. Sekar artinya bunga, dan wangi berarti cantik. Gerakan tari memadukan tari tradisional Lampung seperti Melinting, Sigekh Penguten, serta gerakan-gerakan Tari Bali. Ini menggambarkan eratnya hubungan etnis Lampung dan Bali di Kampung Bali Sadhar.

Bagian rok kostum para penari menggunakan dua kain, yaitu Tapis dan Perada (kain Bali). Kemudian, pengikat pinggang motif Bali. Baju kemban atau disebut Angkin berwarna kuning dan hijau khas Bali. Ada siger terpasang di kepala penari, namun riasan rambutnya khas Bali, yakni panjang terjuntai. Lengan penari dihiasi gelang adat Lampung.

“Pesan dari tarian ini adalah bahwa Lampung dan Bali bisa disatukan dan selaras,” kata Komang Puja Regita Pramesti (14), salah satu penari. Ia ditemani dua penari lainnya, Luh Puja Prawita Sari (16) dan Ni Nengah Yesi Kartika (15).

Mereka memang biasa menari sejak usia dini. Hal itu guna melestarikan kesenian daerah. Juga sebagai ajang mempererat tali persaudaraan dan mengasah potensi diri.

“Kami berlatih tarian ini di Sanggar Saraswati asuhan Ni Ketut Sume Sariyanti. Semua konsep tarian dan konsep busana yang kami pakai juga ide Ni Ketut Sume,” ujar Luh Puja.(bersambung)

Baca juga Awig Awig, Kearifan Lokal Kampung Bali Sadhar Utara dalam Capai ODF (1)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Pindah Tugas, Mantan Sekda Lamsel Fredy Jadi Kepala Bappeda Lampung

KALIANDA, duajurai.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan (Lamsel) mengadakan acara pelepasan mantan Sekretaris Daerah …