Melihat Pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal di Pringsewu (2-habis)


SISTEM Pengolahan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) di Pekon Wonodadi, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, Rabu, 9/10/2019. | Imelda Astari/duajurai.co

PRINGSEWU, duajurai.co – Asisten I Bidang Pemerintahan Kabupaten Pringsewu Andi Wijaya mengatakan, meski usianya baru 10 tahun sebagai kabupaten, tapi untuk persoalan sanitasi, Pringsewu jauh lebih maju dari kabupaten lain. Hal itu karena pemerintah setempat punya komitmen yang sangat luar biasa terkait sanitasi.

“Prinsip kami adalah bagaimana membuat program menjadi gerakan. Masyarakat dilibatkan dan ada partisipasi luar biasa. Pemerintah hanya sebagai fasilitator,” kata Andi.

Menurutnya, kerja sama antara pemerintah dan masyarakat menjadi penilaian yang baik bagi pemerintah pusat. Sehingga, menambah tinggi kucuran APBN ke Pringsewu.

“Pemerintah pusat kan menilai. Anggaran Dana Insentif Daerah (DID) untuk kami selalu naik, bukan karena ada lobi-lobi. Tapi, karena memang pusat menilai kami layak diberi anggaran. Artinya, ini menjadi pintu masuk untuk anggaran ke Pringsewu,” ujarnya.

Pariyem (46), warga Pekon Wonodadi, mengaku banyak sekali perubahan perilaku pada warga, termasuk dirinya. Hal itu sejak Pemkab Pringsewu melakukan gebrakan untuk mencapai open defacation free (ODF) pada 2017. Perubahan perilaku terutama soal BAB sembarangan.

“Dahulu banyak yang BAB sembarangan di sungai. Sebab, banyak yang belum punya WC, bahkan ada BAB yang di kolam ikan lele. Setelah puluhan tahun, saya hidup, baru beberapa tahun ini saya BAB di jamban,” kata Pariyem malu-malu.

Wahadi (80), warga lainnya, mengaku dengan sukarela menghibahkan tanahnya sekitar 15×5 meter untuk pembangunan SPALD-T. Tadinya, dia menghibahkan lahan untuk musala. Disebelah musala ada sisa lahan, dan diminta kesediaannya untuk dibangun SPALD-T tersebut.

“Saya ikhlas, ini dibangun untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Sumpeno, tokoh masyarakat setempat, juga merasa SPALD-T memberi manfaat. Dahulu, sebelum ada SPALD-T, warga sering terserang demam berdarah dengue (DBD) karena banyak genangan semacam kolam yang digunakan untuk BAB.

“Tapi, Alhamdulillah dengan ada SPALD-T tidak ada kolam untuk BAB atau comberan. Sudah tidak ada bau tak sedap di lingkungan ini. Selain itu, kami ingin memanfaatkan tempat itu untuk pendidikan anak dan perpustakaan gratis. Kalau bisa dinas terkait memberi dukungan, misal pengadaan buku,” kata dia.

Selain itu, masyarakat juga mesti konsisten menjaga fasilitas tersebut dengan baik. Salah satu caranya, yakni tidak membuang sampah ke dalam saluran IPAL. Sebab, perilaku demikian dapat merusak sistem kerja IPAL.

“Harus sama-sama menjaga, merawat, dan memanfaatkan ini dengan baik, serta sesuai prosedurnya,” ujar Sumpeno.(*)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

35 Honorer Tak Diupah 7 Bulan, Plt Kepala DKP Lampung: Tak Ada Anggaran

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung Makmur Hidayat …