Melihat Pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal di Pringsewu (1)


PERTEMUAN peserta field trip jurnalistik dengan pemerintah dan pengurus Pekon Wonodadi di atas bangunan SPALD-T, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Rabu, 9/10/2019. | Imelda Astari/duajurai.co

PRINGSEWU, duajurai.co –  Hingga tahun ini, Kabupaten Pringsewu memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal sebanyak 63 titik. Pembangunan IPAL Komunal merupakan salah satu alternatif untuk mencapai target universal akses untuk sanitasi dan air minum.

Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, memiliki manajemen yang baik dalam pengelolaan IPAL. Hal itu karena pemerintah melibatkan langsung masyarakat dalam pembangunan dan pengelolaannya. Selain itu, ada pendampingan, penyuluhan, serta pemantauan secara konsisten dari pemerintah setempat dan pihak terkait kepada masyarakat agar kesadaran akan sanitasi selalu terjaga. Sehingga, masyarakat akan menjaga fasilitas itu dengan baik karena merasa memiliki.

Araina, Kasi SPAM dan Sanitasi Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) Pringsewu, mengatakan, pihaknya membangun infrastruktur sanitasi, yaitu fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) sejak 2012 hingga 2014. Namun, pembangunan fasilitas MCK itu dirasa belum optimal. Sebab, banyak fasilitas jauh dari lokasi pemanfaat atau masyarakat. Sehingga, banyak warga yang tak memanfaatkan fasilitas tersebut. Berbeda dengan IPAL yang menggunakan pipa jaringan yang dapat menjangkau rumah warga, sehingga lebih efektif.

“Sejak 2014, kami hanya menganggarkan fasilitas MCK untuk tempat-tempat publik saja, dan lebih fokus pada pembangunan IPAL,” kata Araina di Pekon Wonodadi, Pringsewu, Rabu, 9/10/2019.

Sebanyak 63 lokasi IPAL Komunal yang sudah terbangun sejak 2015 hingga 2019, tersebar di sembilan kecamatan di Pringsewu. Fungsinya tidak hanya untuk pengolahan limbah domestik. Tapi, juga pada bagian atasnya dimanfaatkan untuk fasilitas masyarakat, seperti taman baca, taman bermain anak, rembuk warga, dan tempat mengaji anak-anak.

“Per IPAL rata-rata bisa untuk 50 saluran pipa dari rumah warga, tapi kalau kawasan padat ada yang sampai 70 saluran,” ujarnya.

Salah satunya di Pekon Wonodadi. Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) yang beroperasi sejak November 2018. Memiliki lebar 2,5×10 meter dengan kedalaman tiga meter, SPALD-T dapat menampung kurang lebih 150 saluran limbah rumah. Jangkauan saluran IPAL Komunal tersebut, yaitu sejauh 1.200 meter.

“Anggaran pembangunannya sekitar Rp425 juta per IPAL untuk 50-70 sambungan rumah,” kata dia.

Junaidi, Ketua KSM Karya Muda Pekon Wonodadi, menyatakan, pengerjaannya kurang lebih 120 hari, dibagi dalam tiga termin. Pengerjaan dilakukan langsung oleh masyarakat secara swadaya. Kalaupun ada tukang (pekerja lapangan) yang digaji, tak sebesar gaji tukang semestinya.

“Sebesar 5% dari anggaran itu untuk operasional. Memang yang turun ke lapangan diberi upah sebesar Rp60 ribu per hari. Kalau kepala tukang kisaran Rp90 ribu. Itu sebenarnya tak sebanding, karena kalau standarnya kepala tukang bisa Rp150-200 ribu. Tapi, masyarakat tetap mau mengerjakannya karena ada kesadaran bahwa itu untuk kepentingan bersama,” ujarnya.(bersambung)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

35 Honorer Tak Diupah 7 Bulan, Plt Kepala DKP Lampung: Tak Ada Anggaran

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung Makmur Hidayat …