Kronologis Meninggalnya Aga Trias Versi Panitia Diksar UKM Cakrawala Unila


PANITIA Diksar Cakrawala Shintya Claudia didampingi Ferdiansyah (kaus hitam) memberikan keterangan kepada wartawan ihwal kematian peserta Diksar, Senin, 30/9/2019. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung (FISIP Unila) Aga Trias Tahta meninggal dunia saat mengikuti pendidikan dasar (Diksar) yang diadakan UKM Cakrawala di Kabupaten Pesawaran. Diksar bagi pencinta alam itu berlangsung selama lima hari, 25-29 September 2019.

“Itu (Diksar) kegiatan rutin kami setiap tahun. Targetnya, untuk membentuk mental dan fisik peserta agar kuat. Tujuannya, supaya anggota siap menghadapi berbagai kondisi ketika berkegiatan di alam,” kata panitia Diksar Cakrawala Shintya Claudia kepada para jurnalis di Kedai Kopi Aceh, Way Halim, Bandar Lampung, Senin, 30/9/2019.

Ferdiansyah dari Ikatan Alumni (IKA) Cakrawala yang turut dalam Diksar mengatakan, Aga memang sempat dua kali terjatuh saat Diksar. Pertama, pada Kamis, dan kedua pada Sabtu lalu. Panitia hanya melakukan tindakan pertolongan pertama saat Aga jatuh pertama kalinya, dan tidak membawa Arga untuk mendapatkan tindakan medis profesional.

“Yang dialami oleh almarhum ini kondisinya di luar yang kami perkirakan. Jatuh pertama itu pada Kamis, dianggap biasa oleh panitia. Karena memang kami bukan tim medis profesional. Kami hanya mengira jatuh karena kelelahan,” ujarnya.

Saat jatuh kedua kalinya, lanjut dia, panitia langsung mengambil tindakan pertolongan pertama. Kemudian, pihaknya berupaya membawa Arga ke permukiman penduduk. Saat itu, lokasi kegiatan berada di lembah, sementara pemukiman penduduk berada di atasnya.

“Ada upaya panitia atau senior yang mencoba melakukan tindakan pertolongan pertama. Karena lokasinya semacam lembah, sehingga untuk ke atas (rumah penduduk) kami siapkan tandu. Tapi, kebetulan ada warga yang berkebun membawa sepeda motor. Lalu, kami minta tolong untuk membawa Arga ke atas (permukiman),” kata dia.

Setelah sampai permukiman, kemudian Arga dibawa ke Rumah Sakit Bumi Waras, Bandar Lampung. Namun, tak lama, pihaknya mendapat kabar bahwa Arga telah mengembuskan napas terakhirnya.

“Kami semua berduka. Kondisi ini di luar perkiraan kami,” ujar lelaki yang biasa disapa Ferdi itu.

Menurutnya, dalam Diksar tersebut, UKM Cakrawala memang tidak melibatkan tim medis profesional. Pihaknya memiliki tim medis internal yang telah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama saat menghadapi berbagai kondisi di lapangan.

“Tidak ada satupun PA (pencinta alam) di Indonesia yang bawa tenaga medis profesional. Tapi, kami sudah mendapat pendidikan pertolongan pertama saat menghadapi berbagai situasi. Misal, situasi hipotermia, kelaparan, dan lain sebagainya,” kata dia.

Ferdi melanjutkan, dalam kegiatan itu memang ada kontak fisik. Namun, menurutnya, itu masih bersifat standar. Dalam artian standarnya untuk memenuhi pengetahuan anggota sebagai pencinta alam.

Berdasar biodata, Aga mempunyai riwayat penyakit tuli atau telinga bagian kanannya tidak bisa mendengar. Hal itu menjadi wanti-wanti bagi panitia agar tidak ada kontak fisik di area telinga Aga. Tujuannya, untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

“Setiap anggota Diksar sudah mengisi biodata dan ada riwayat penyakitnya. Jadi, kami bisa mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan,” ujar Ferdi.(*)

Baca juga Mahasiswa Sosiologi Unila Meninggal saat Diksar UKM Cakrawala

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Tangani Covid-19, Nanang Minta Dinas Kesehatan Lamsel Fokus 3 Kecamatan

KALIANDA, duajurai.co – Bupati Nanang Ermanto meminta Dinas Kesehatan Lampung Selatan untuk berkonsentrasi di tiga …