DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (12): Terjebak Adu Domba, Lupa Kematian dan Berbuat Baik


BUNG Karno dan Prof Kadirun Yahya | ist

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

Ist.
Seusai subuhan berjemaah di Masjid Attarbiyah, saya, Bung Karno, Bung Hatta, dan mahasiswa milenial bergeser duduk di teras masjid yang lengang.

Syafarudin: Izin proklamator. Sebelum dan usai Pilpres 2019, hampir tiap pekan bangsa ini senantiasa berdebat, timbul pro-kontra. Apapun topik dan kebijakan yang muncul, akan diulas publik. Perdebatan terjadi mulai dari media sosial, gedung DPR, gedung KPK, termasuk di sebagian provinsi yang terpapar asap pembakaran hutan.

September dan Oktober 2019 ini pun hari-hari jelang peringatan peristiwa G30-S/PKI dan Hari kesaktian Pancasila. Para keturunan PKI yang bermukim di alam deep web sudah merancang mengeluarkan isu bahwa dalang peristiwa G30-S/PKI bukan PKI. Akan mereka geser opininya dari PKI ke Soeharto, Soekarno, CIA atau ke konflik internal tentara kala itu. Bangsa ini sepertinya terjebak adu domba berkelanjutan, lupa kematian dan berbuat baik.

Saya sengaja meminta mahasiswa milenial untuk membacakan dialog Bung Karno dengan Prof Kadirun Yahya di Istana Negara pada Juli 1965 atau dua bulan sebelum terjadi pemberontakan PKI.

(Setelah menghidupkan laptop, milenial peretas ini membacakan catatan dialog yang panjang ditulis Rusman Siregar dikutip dari berbagai sumber.)

“Profesor Kadirun Yahya silakan duduk dekat saya,” pinta Presiden Soekarno kepada Prof Kadirun Yahya, terkesan khusus. Profesor ini ahli fisika, ulama sufi, juga Rektor Universitas Panca Budi Medan.

“Saya dengar tentang engkau sudah sejak 4 tahun, tapi baru sekarang aku ketemu engkau. Sbenarnya ada sesuatu yang akan aku tanyakan kepadamu,” kata Bung Karno.

“Ya, tentang apa itu Bapak Presiden?”

“Tentang sesuatu hal yang sudah kira-kira 10 tahun saya cari-cari jawabannya, tapi belum ketemu jawaban yang memuaskan. Saya sudah bertanya kepada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu, tetapi semua jawabannya tetap tidak memuaskan saya.”

“Lantas soalnya apa Bapak Presiden?”

“Saya bertanya terlebih dahulu tentang yang lain sebelum saya majukan pertanyaan yang sebenarnya,” jawab Presiden Soekarno.

“Baik Presiden,” kata Prof Kadirun Yahya.

“Manakah yang lebih tinggi, presiden atau jenderal atau profesor dibanding dengan surga?” tanya Presiden.

“Surga!” jawab Kadirun Yahya.

Accord (setuju),” jawab Bung Karno.

“Saya telah melihat teman-teman saya meninggal dunia lebih dahulu dari saya, dan hampir semuanya matinya jelek karena banyak dosa rupanya. Saya pun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Alquran dan Alhadis bagaimana caranya supaya dengan mudah menghapus dosa saya dan dapat ampunan, dan bisa mati tersenyum.”

“Lantas saya ketemu dengan satu hadis yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut: Rasulullah SAW bersabda: Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing yang kehausan. Wanita tadi mengambil sepatunya, diisinya air dan memberi minum anjing yang kehausan itu. Rasul berkata: Hai para sahabatku. Lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, hapus dosa wanita itu dunia dan akherat. Ia ahli surga.”

“Nah Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan surga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun untuk Allah baru dapat masuk surga. Itu pun barangkali. Sementara seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itu pun kepada seekor anjing pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli surga. How do you explain it Professor?” tanya Bung Karno.

Profesor Kadirun Yahya terlihat tidak langsung menjawab. Ia hening sejenak. Lantas berdiri dan meminta kertas. “Presiden, tadi Bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, coba kita lihat, mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam 2 menit saja saya coba memberikan jawabannya dan memuaskan,” katanya.

Keduanya sama-sama orang eksakta. Bung Karno seorang insinyur dan Kadirun Yahya ahli fisika. Di atas kertas Kadirun Yahya mulai menuliskan penjelasannya dengan rumus matematika.

“…Ini artinya, sang wanita, walaupun hanya satu zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, tapi mengaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar.”

“Mengikutsertakan yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan kepada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh pahala yang Maha Besar itu. Satu zarah dikali tak terhingga hasilnya tak terhingga. Dan dosa dibagi tak terhingga sama dengan nol.”

“Itu lah jawabannya Presiden,” jawab Kadirun Yahya meyakinkan.

Bung Karno diam sejenak dan kemudian mengatakan, “Geweldig (hebat)”.

Bung Karno semakin penasaran. Masih ada lagi pertanyaan yang ia ajukan. “Bagaimana agar dapat berhubungan dengan Tuhan?” katanya.

Kadirun Yahya menjawabnya dengan lugas. “Dengan mendapatkan frekuensi-Nya. Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan.”

“Lihat saja, walaupun satu milometer mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati,” jelasnya.

“Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya, sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan?” tanya Bung Karno.

“Melalui isi dada Rasulullah SAW,” jawab Prof Kadirun. “Dalam Hadis Qudsi disebutkan, bahwasanya Alquran ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia.”

Mendengar itu, sontak Bung Karno berdiri. “You are wonderful” teriaknya.

Pada akhir perbincangan, Bung Karno merangkul kedua tangan profesor sembari berkata, “Profesor, doakan saya supaya dapat mati dengan tersenyum di belakang hari nanti.”

Bung Hatta: Menarik ringkasan dialog yang sejatinya cukup panjang tersebut. Hanya saja hadis tentang wanita pendosa memberi minum anjing jangan dipahami secara liberal dan hermeneutika. Kalau memberi minum air saja baik, dapat amal, apalagi jika memeliharanya. Ini penyimpangan. Rasululullah tidak pernah mengajarkan umat Islam memelihara anjing. Tapi apa sebetulnya yang Bung ingin garis bawahi dari sejarah dialog di atas?

Syafarudin: Bung Karno, seorang pejuang dan pemimpin besar revolusi, yang berkuasa hampir dua puluh tahun. Meskipun cerdas, orator ulung, pergaulan internasional, literasinya ternyata juga mendalami Alquran dan hadis. Dan pada senjakala kekuasaannya, Bung Besar ingat kematian dan beramal.

Sekarang kontras. Pemimpin-pemimpin di Indonesia jabatannya berumur paling lima atau sepuluh tahun, tapi sibuk mempertahankan kekuasaan, sibuk pencitraan, dan kadang lupa mempersiapkan diri menghadapi kematian yang pasti, serta lupa berbuat baik bagi rakyat.

Permisi Proklamator, kami undur diri mau ikut jalan sehat pagi ini dalam rangka Dies Natalis ke-54 kampus kami. Terima kasih. Sampai jumpa dalam dialog selanjutnya.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (10): Disertasi Kontroversi, Hikmah Hijriah, dan Kesetiaan Hatta

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI berjamaah …