Studi Literasi Sejarah, MGMP IPS SMP Way Kanan Undang M Arman AZ


PENELITI sejarah M Arman AZ menerima piagam dari MGMP IPS SMP Kabupaten Way Kanan usai menjadi pemateri studi literasi di SMPN 7 Banjit, Senin, 16/9/2019.|ist

BANJIT, duajurai.co – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS jenjang SMP Kabupaten Way Kanan menggelar kegiatan studi literasi, Senin, 16/9/2019. Berlangsung di SMPN 7 Banjit, kegiatan menghadirkan pemateri M Arman AZ yang merupakan peneliti sejarah, penulis, dan sastrawan.

Dalam rilis yang diterima duajurai.co, Rabu, 18/9/2019, disebutkan, studi dilakukan dengan model pelatihan in-on dengan tugas akhir mengirimkan tulisan mengenai sejarah kearifan lokal di sekitar tempat mengajar guru IPS SMP Kabupaten Way Kanan.

Menurut Arman AZ, banyak tema yang bisa diangkat untuk dijadikan bahan tulisan dalam kaitan dengan mata pelajaran IPS, sekaligus mendokumentasikan sejarah kearifan lokal di sekitar, khususnya di Kabupaten Way Kanan.

“Ada beberapa tema yang bisa dijadikan bahan penulisan, yakni bangunan lama, bangunan era kolonial/Jepang, tempat-tempat ibadah bernilai budaya, juga makam tokoh penyebar agama/pahlawan,” kata pria yang akhir Agustus lalu didaulat sebagai Tokoh Pilihan Duajurai.co 2019 Bidang Sejarah. Arman juga baru pulang meneliti peninggalan sejarah Lampung yang berada di Museum Leiden Belanda.

Ketua MGMP IPS SMP Kabupaten Way Kanan Siti Rusmiyatun mengatakan, studi literasi sejarah kearifan lokal yang dilaksanakan MGMP IPS SMP Way Kanan merupakan kedua kalinya. Tahun lalu kegiatan serupa dilaksanakan di SMPN 2 Kasui yang menghasilkan kumpulan tulisan dari berbagai guru IPS di Way Kanan dan rencananya dibuat edisi kedua.

“Produk tulisan studi literasi tahun lalu sudah dibuat dalam bentuk manuskrip. Yang kedua ini mudah-mudahan segera mungkin biar bisa dicetak bersama sebagai dokumentasi dan memiliki nilai pembelajaran untuk di kelas. Kita tinggal cari solusi dalam penerbitanya yang ber-ISBN sehingga dapat dimanfaatkan oleh guru yang menulis,” jelas Siti.

“Gerakan literasi sekolah (GLS) bukan hanya menumbuhkan budaya baca dan menulis tetapi lebih memiliki nilai untuk mencintai budaya kearifan lokal,” sambungnya.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Pertama di Indonesia, 6.351 Tahfizh Alquran Madrasah se-Lampung Diwisuda

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sebanyak 6.351 tahfizh Alquran lulusan madrasah se-Lampung diwisuda. Wisuda berlangsung di Gedung Serbaguna …