Rilda, Penulis Asal Lampung, Masuk Nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2019


NOVELIS asal Lampung Rilda A Oe Taneko menjadi narasumber Kafe Juwe di Studio Radio Andalas, Way Halim, Bandar Lampung, Kamis, 20/7/2017. | Imelda Astari/duajurai.co

JAKARTA, duajurai.co – Nama Lampung kembali berkibar dalam ajang sastra nasional. Rilda A Oe Taneko, penulis asal Bumi Ruwa Jurai, yang bermukim di Inggris, masuk nominasi Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2019 untuk kategori Prosa.

Ara, panggilan Rilda, dinominasikan untuk buku kumpulan cerita pendeknya ‘Seekor Capung Merah’. Bersama buku terbitan Aura Publishing ini ada sembilan karya lain yang masuk nominasi kategori Prosa. Selain itu, ada 10 nominasi untuk kategori Puisi.

Karya Ara, alumnus FISIP Universitas Lampung, bersaing dengan antara lain dengan Bertarung dalam Sarung karya Alfian Dippahatang, Cara Berbahagia Tanpa Kepala karya Henny Triskaidekaman, dan Teh dan Pengkhianat karya Iksaka Banu.

Para nominator KSK 2019 yang lolos seleksi diumumkan dalam daftar panjang (longlist) oleh Richard Oh, pendiri dan penyelenggara KSK, di akun media sosialnya.

“Malam Anugerah Khatulistiwa akan diselenggara pada 16 Oktober di Plaza Senayan. Selamat kepada semua yang terpilih,” tulis Richard Oh.

Merujuk Wikipedia, Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) adalah ajang penghargaan dalam dunia kesusastraan Indonesia yang didirikan oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki. Ajang ini pertama digelar pada 2001.

Awalnya bernama Khatulistiwa Literary Award, sejak 2014 berganti nama menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa. Pemenang KSK didasarkan kepada buku-buku puisi dan prosa yang terbit dalam kurun 12 bulan terakhir dan kemudian diseleksi secara ketat oleh dewan juri.

Selama 18 tahun, KSK berkembang berkat masukan dari berbagai pihak di komunitas sastra Indonesia. Sejak awal didirikan, KSK dirancang sebagai anugerah sastra dari komunitas sastra untuk para penulis.

Sejumlah nama besar dalam sastra Indonesia pernah meraih KSK. Mereka antara lain Goenawan Mohamad (2001), Remy Sylado (2002), Hamsad Rangkuti (2003), Sapardi Djoko Damono (2004), Linda Christanty (2004, 2010), Seno Gumira Ajidarma (2004, 2005), Joko Pinurbo (2005, 2015).

Kemudian, Gus tf Sakai (2007), Acep Zamzam Noor (2007), Nirwan Dewanto (2008, 2011), Ayu Utami (2008), F Rahardi (2009), Leila S Chudori (2013), Afrizal Malna (2013), Dorothea Rosa Herliany (2015), dan Yusi Avianto Pareanom (2016).

Tahun 2018 lalu, dua penyair Lampung juga masuk 5 besar nominasi KSK. untuk kategori Puisi. Keduanya ialah Ahmad Yulden Erwin lewat karyanya Perawi Rempah dan Ari Pahala Hutabarat dengan puisinya Rekaman Terakhir Beckett.

Berikut 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke-19 tahun 2109 berdasarkan urutan abjad nama penulisnya.

Kategori Prosa
1. Bertarung dalam Sarung karya Alfian Dippahatang
2. Bugiali karya Arianto Adipurwanto
3. Republik Rakyat Lucu dan Cerita-cerita Lainnya karya Eko Triono
4. Cara Berbahagia Tanpa Kepala karya Henny Triskaidekaman
5. Teh dan Pengkhianat karya Iksaka Banu
6. Atraksi Lumba-lumba dan Kisah-kisah Lainnya karya Pratiwi Juliani
7. Tango & Sadimin karya Ramayda Akmal
8. Seekor Capung Merah karya Rilda A.Oe Taneko
9. Dekat dan Nyaring karya Sabda Armandio
10.Jamaloke karya Zoya Herawati

Kategori Puisi
1. Membaca Lambang karya Acep Zamzam Noor
2. Karena Cinta Kuat Seperti Maut karya Adimas Immanuel
3. Suara Murai dan Puisi-puisi Lainnya karya Andre Septiawan
4. Hari Minggu Ramai Sekali karya Eko Saputra Poceratu
5. Igauan Seismograf kaarya Halim Bahriz
6. Aviarium karya Hasan Aspahani
7. Struktur Cinta yang Pudar karya Ibe S Palogai
8. Anjing Gunung karya Irma Agryanti
9. Keledai yang Mulia karya Mario F Lawi
10.Catatan-catatan dari Bulan karya Rieke Saraswati.


Komentar

Komentar

Check Also

Fruits Coconut, Sup Buah Banyak Peminat di Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Anda yang menyukai sup buah bisa mencoba fruits coconut. Berlokasi di Jalan Rajawali …