DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (10): Disertasi Kontroversi, Hikmah Hijriah, dan Kesetiaan Hatta


ABDUL AZIZ, dosen IAIN Surakarta | suara.com

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

SEUSAI berjamaah subuh itu, kami bertiga (Syafarudin, Bung Karno, dan Bung Hatta), sepakat melanjutkan dialog di teras samping masjid komplek Istana Kepresidenan Yogyakarta. Suasana lengang karena jemaah sudah bubar, pulang ke rumah masing-masing.

Angin musim kemarau berembus dingin di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta ini. Petugas kebersihan tampak cekatan menyapu dan membersihkan halaman kompleks. Tembang Jawa khas keraton terdengar mengalun kecil, mendayu dari arah Gedung Negara.

Bung Karno: Bung Syafar, mengapa mengajak kami ke lokasi bersejarah ini? Bung ingin berdialog tentang apa pekan ini?

Syafarudin: Maaf dan mohon izin, Proklamator Saya bawa ke lokasi 72 tahun lalu saat Bung berdua mesti kemari, sebelum pindah lagi ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Alhamdulillah sekarang kita memasuki bulan Muharam atau awal tahun baru Hijriah 1441. Kali ini saya tidak ingin membahas soal sejarah di mana mulai 6 Januari 1946 Kota Gudeg ini resmi menjadi ibu kota negara dan Bung Karno sebagai Presiden pertama tinggal di bangunan peninggalan Belanda ini.

Kita juga tidak akan membahas Wakil Presiden Mohammad Hatta tinggal di bangunan sederhana yang sekarang menjadi markas Korem Pamungkas/072. Kita ingin mendialogkan disertasi kontroversial yang dihasilkan kampus UIN Sunan Kalijaga yang jaraknya tidak jauh dari masjid ini.

Bung Hatta: Disertasi kontroversial apa itu? Bisa bung ceritakan?

Syafarudin: Adalah Abdul Aziz, seorang dosen Jurusan Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, IAIN Surakarta. Ia menulis disertasi untuk menyelesaikan program doktoral Interdisciplinary Islamic Studies di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Disertasi yang diajukan Abdul Aziz diujikan pada 28 Agustus 2019 lalu di UIN Sunan Kalijaga. Lewat disertasinya yang membedah pemikiran cendekiawan liberal asal Suriah, Muhammad Syahrur, tentang konsep milk al-yamin, Abdul Aziz dinyatakan lulus dengan beberapa catatan dari penguji.

Konsep milk al-yamin secara harfiah berarti “kepemilikan tangan kanan” atau “kepemilikan penuh”. Fukaha (ahli fikih) masa lalu mengartikan milk al-yamin sebagai wewenang pemilik atas jariyah (budak perempuan) untuk mengawininya.

Namun Syahrur memiliki penafsiran berbeda mengenai konsep milk al-yamin. Menurut Syahrur, bukan hanya budak yang boleh dikawini, tapi juga mereka yang diikat dengan kontrak hubungan seksual. Pandangan Syahrur itu lah yang dikaji Abdul Aziz.

Penafsiran Syahrur yang dikaji Abdul Aziz dalam disertasinya ternyata menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Terutama pada bagian kesimpulan dan rekomendasi disertasi yang membuka peluang dihalalkannya hubungan seks lelaki dan perempuan muslim, meski tidak menikah. Yang sebelumnya jelas dihukumi sebagai zina dan berdosa, perbuatan itu, hubungan seks di luar nikah malah menjadi halal dalam pemikiran Syahrur dan Abdul Aziz.

Disertasi yang ditulis Abdul Aziz menimbulkan reaksi keras dari sejumlah pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan MUI terang-terangan mengkritik institusi UIN Sunan Kalijaga, yang meloloskan disertasi kontroversial tersebut.

MUI menyebut, disertasi tentang konsep milk al-yamin Muhammad Syahrur sebagai keabsahan hubungan seksual nonmarital yang ditulis Abdul Aziz mengandung cacat. Pasalnya, disertasi itu tidak menggunakan ilmu tafsir yang terverifikasi.

“Secara akademis umum mungkin memenuhi syarat karena mengikuti metodologi penulisan karya ilmiah. Namun menurut saya ada cacat karena riset kepustakaan ini menggunakan pisau analisis hermeneutika, bukan ilmu tafsir yang mu’tabar (terverifikasi). Padahal ini UIN, sekolah pasca Agama Islam,” kata Ketua Komisi Hukum MUI Mohammad Baharun kepada detikcom, Selasa (3/9/2019).

Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Noorhaidi Hasan menanggapi santai kritik dari MUI. Menurutnya, disertasi yang ditulis Abdul Aziz adalah kajian akademis biasa, bukan fatwa hukum yang mengikat seluruh umat Islam.

Untuk mengakhiri polemik, Abdul Aziz akhirnya meminta maaf kepada umat Islam dan berjanji mengubah isi dan judul disertasinya.

“Termasuk (saya akan) mengubah judul menjadi ‘Problematika Konsep Milk al-Yamin dalam Pemikiran Muhammad Syahrur’, dan menghilangkan beberapa bagian kontroversial dalam disertasi,” kata dosen asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu.

Bagaimana tanggapan Proklamator?

Bung Hatta: Alhamdulillah. Pertama, orang cepat mengingatkan dan yang dingatkan segera menyadari keliru, lalu berjanji memperbaiki yang keliru, dan meminta maaf kepada umat Islam atas kegaduhan yang ditimbulkan. Semoga tidak timbul kegaduhan berikutnya karena salah tafsir yang mungkin tidak disengaja.

Kedua, institusi pendidikan tinggi perlu instrospeksi diri, lebih arif, dan hati-hati. Meski skripsi, tesis, dan disertasi adalah kajian ilmiah dan bukan fatwa, tapi bila karya ilmiah telah disetujui dan ditandatangani profesor kampus, maka sebagian masyarakat menilai itu lah sikap begawan akademik dan sikap kampus sebagai sumber mata air ilmu pengetahuan.

Ketiga, kebebasan mimbar dan kebebasan akademik kampus semoga bisa dikelola secara bertanggung jawab, baik di dunia maupun di akherat. Jadikan modal kebebasan itu untuk membawa umat ini lebih memiliki akhlak mulia yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bukan sebaliknya, malah merusak pemikiran umat. Ini lah hikmah momentum peringatan tahun baru hijriah.

Syafarudin: Riset sebagai syarat memperoleh gelar sarjana S1, S2, dan S3 itu sebuah pekerjaan serius yang disengaja, bukan sesuatu yang tidak disengaja. Apalagi melibatkan banyak pihak: penulis, pembimbing dan dewan penguji.

Proses dan prosedur penelitian itu panjang dan lama sehingga kekeliruan bisa diperbaiki dari awal. Riset yang kontroversial tidak perlulah disosialisasikan di televisi sehingga menimbulkan kegaduhan.

Sebagian muslim yang kritis melihat kampus Islam dan kampus sekuler kita sekarang memang telah terpapar “virus” Jaringan Islam Liberal.

Bung Karno: Apa pula itu Jaringan Islam Liberal? Yang kutahu Sarekat Islam, Persis, Masyumi, NU, dan Muhammadiyah.

Syafarudin: Kelompok Jaringan Islam Liberal ini, meski jumlah aktivisnya sedikit, tapi ada di tiap-tiap negara. Mereka awalnya bersikap kritis atas pandangan mazhab, tapi meningkat mengkritisi hadis dan Alquran.

Mereka di-support oleh donatur internasional yang bertujuan melemahkan Islam. Tapi karena Allah SWT yang memelihara ajaran-Nya, maka serbuan virus Islam liberal mudah dipadamkan. Topik yang mereka sampaikan mudah dipadamkan dan tidak laku dijual. Upaya jaringan dan pemikiran Islam liberal sejauh ini mudah sekali dipatahkan dalil dan argumentasinya.

Bung Karno: I See. Oo…begitu Islam liberal. Mengerikan sekali, mau membuat barisan Islam protestan tampaknya.

Syafarudin: Pemikiran aktivis Islam liberal ini, Insha Allah tidak ada pada pemikiran tokoh/sosok yang menjadi sumber atau referensi Bung Karno menimba ilmu Islam. Mulai dari HOS Cokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, Ahmad Hassan. Termasuk Ustaz Prof Kadirun Yahya yang juga ahli fisika.

Bung Karno: I See. Bung hafal mentor-mentorku. By the way, Setelah kucermati dan kurasakan sebagai pelaku poligami, aku melihat pemikiran Syahrur yang diikaji dan diamini Abdul Aziz ini tampaknya berangkat dari upaya mempertuturutkan hawa nafsu tapi tidak mau repot dan bertanggung jawab. Tidak mau ikut koridor syariat menikah kembali atau poligami.

Bung Hatta: Maaf, soal poligami, aku tidak ikutan.

Bung Karno: Ampuun. Aku nyerah deh dengan kalian para pria yang setia…setiap tikungan ada..hahaha.

Kami bertiga tertawa lepas.

Syafarudin: Maaf dan izin, Proklamator. Anak bangsa sekarang memiliki apresiasi yang berbeda menanggapi kehidupan pribadi dan keluarga Bung berdua.

Bung Hatta: Bagaimana apresiasimu kepadaku?

Bung Karno: Bagaimana apresiasimu tentangku?

Syafarudin: Bung Hatta lebih setia, tapi Bung Karno juga gentlemen dan bertanggung jawab mengikuti syariat karena poligami yang dilakukan resmi dan dikabarkan terang, tidak ada yang disembunyikan.

Bung Karno teman setia karena ikut melamarkan Ibu Rachmi untuk Bung Hatta yang telat menikah demi perjuangan kemerdekaan. Permisi Proklamator, mentari sudah meninggi, kita mesti duha. Minggu depan insha Allah kita dialog lagi. Terima kasih. Wassalamualaikum warrahmatulohi wabarakatuh (*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB ILHAM MALIK: Tantangan Baru Ibu Kota Negara di Kalimantan

RENCANA pemerintah mendirikan ibu kota negara (IKN) di Kalimantan mendapat tantangan. Baru-baru ini terjadi kerusuhan …