DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (9): Rusuh Papua, Humor Gus Dur, Kerisauan Mochtar Lubis, dan Preman Pensiun


UNJUK rasa mahasiswa Papua di depan Istana Negara, Jakarta | suara.com

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

KAMI bertiga (Syafarudin, Bung Karno, dan Bung Hatta), duduk bersama di kursi dan sofa panjang dalam ”room dialog imajiner”, menunggu sambil memperhatikan persiapan presentasi terkini pemuda berkacamata.

Peretas berusia dua puluhan tahun ini menghidupkan dua laptop di hadapannya. Salah satu laptop terkoneksi dengan monitor smart tv 70 inch yang menempel di dinding sebagai pendukung presentasinya.

Kali ini dia membacakan berita terkini yang tayang di televisi. Eskalasi kerusuhan di Papua. Di Kabupaten Diyai, Papua, unjuk rasa berakhir rusuh. Sejumlah bangunan dibakar, beberapa aparat dan warga tewas.

Menkopolhukam Wiranto di Gedung DPR, Jakarta, Kamis, 29/8/2019, menjelaskan prajurit TNI tewas satu orang, dua luka-luka, empat polisi luka-luka, dan satu warga meninggal, serta 10 senjata TNI dirampas pengunjuk rasa.

Bendera Bintang Kejora hampir serentak dikibarkan di beberapa tempat di Indonesia. Termasuk di dekat Istana Merdeka dan di depan Mabes TNI.

Sang pemuda melanjutkan dengan tayangan video beberapa pembantu Presiden seperti Mendagri dan Kepala Staf Kepresidenan kepada pers bicara dan berusaha menenangkan keadaan.

Dalam video sidang di gedung PBB, tampak juru bicara indonesia mati-matian berargumentasi meyakinkan peserta sidang PBB bahwa laporan 16 negara kepulauan pasifik terkait pelanggaran HAM di Papua adalah tidak benar.

Uniknya, ujar si mileneal, Kamis malam, 29/8/2019, di alun-alun Purworejo, Jawa Tengah, Presiden Jokowi didampingi para pembantu yang lain, tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan ulah pelawak Kirun dalam pembukaan pertunjukan wayang.

Show must go on, tidak ada sikap risau, prihatin, semua biasa saja atas kerusuhan Papua dan propaganda OPM yang mulai dapat ruang di PBB,” kata milineal.

Si peretas mengabarkan info dari deep web bahwa berbagai pihak tengah berupaya dan bertaruh tentang masa depan Nusantara apakah akan menuju labirin commedian state, weak state, failured state, atau collapse state?

Pada bagian akhir presentasi dia menampilkan 2 slide tentang humor
Gus Dur dan kerisauan Mochtar Lubis serta pesan preman pensiun.
Di monitor tertulis CMIIW dan emoticon dua tangan menghadap ke depan. Dia mengucapkan permisi dan salam. Kami bertiga membalas salamnya.

Syafarudin: Alhamdulillah masih bisa silaturahmi. Izin Proklamator. Pekan ini dialog kita masih sama seperti pekan lalu. Kerusuhan Papua semakin merisaukan beberapa pihak, tapi bagi yang lain, kerusuhan cukup dan dinikmati saja. Sedangkan gagasan perpindahan ibu kota ke Kaltim terus diucapkan Presiden. Bagaimana proklamator melihat ini semua.

Bung Karno: Apa yang dikatakan ketua umum partai moncong putih pengusung Presiden Jokowi pekan lalu. Coba Bung kabarkan juga.

Syafarudin: Alhamdulillah. Komentar dan pikirannya mulai arif pekan lalu (28/8). Beliau dalam rilis mengatakan bahwa pemerintah kalau sudah memutuskan memindahkan ibu kota atau sesuatu kebijakan haruslah dengan alasan yang baik. Bu Mega mengusulkan dan menyarankan tolong dilihat dengan baik dan untuk jangka waktu yang panjang.

Bung Hatta: Putri Bung tampaknya sedang memberi warning ke petugas partai agar lebih cermat, terutama soal waktu sisa periode kedua Presiden yang tidak lebih dari lima tahun apa bisa membangun dan memindahkan pegawai di tengah kondisi kas negara terbatas dan dililit utang, serta dihadapkan keengganan jutaan ASN di ibu kota yang bersiap ingin pensiun dini ketimbang pindah ke Kalimantan.

Bung Karno: Bung Syafar, mohon Anda perjelas apa maksud milineal tadi yang mengatakan berbagai pihak tengah berupaya dan bertaruh tentang masa depan Nusantara ini apakah akan menuju commedian state, weak state, failured state, atau collapse state?

Syafarudin: Ooo…itu terkait klasifikasi kondisi, indikator, dan evolusi sebuah negara yang ditulis pakar bernama Robert I Rotberg dalam bukunya berjudul ”When States fail: Causes and Consequences” (2002). Bahwa sebuah negara berdaulat dan stabil bisa berevolusi atau menjadi negara kuat (strong states), tapi sebaliknya bisa juga menuju kuadran negara lemah (weak state), negara gagal (failured state), dan yang berbahaya menuju negara runtuh (collapse state).

Indikator utama ialah, secara internal negara tersebut memiliki kemampuan menyediakan rasa aman, menjaga ketertiban, menjaga ekonomi dan pasar masih bisa menyediakan public goods. Sedangkan secara eksternal negara tersebut mampu membuat pertahanan dan mengatasi infiltrasi, serta tekanan negara tetangga dan
tekanan internasional.

Robert mencontohkan Uni Sovyet dan Yugoslavia yang dulu kuat akhirnya melemah, gagal, dan kolaps, terpecah menjadi negara-negara kecil. Kerangka konsep Robert ini lah yang menjadi dasar bagi ilmuwan Amerika dan majalah Foreign Policy sejak 2005 menyusun laporan berkala indeks negara gagal (failure state index/FSI) bagi tiap-tiap negara anggota PBB, termasuk indonesia.

Skor dan kondisi Indonesia dalam laporan FSI sempat mengkhawatirkan. Pada pemerintahan Presiden SBY, Indonesia dapat skor lemah, plus tambahan julukan dari pengamat sebagai negara auto pilot (auto pilot states). Sedangkan pada masa Presiden Jokowi ini, kata milineal tadi, Indonesia tetap dengan skor lemah dan mendapat julukan netizen sebagai negara dagelan (commedian state).

Bung karno: Bung, coba cek mengapa dua kali PKI berontak (1948 dan 1965), ditambah pemberontakan DI/TII, pemberontakan PRRI Permesta, tapi Indonesia tidak gagal dan tidak runtuh.

Syafarudin: Pemberontakan masa Bung karno jadi presiden masih mudah dipadamkan oleh tentara dan polisi yang loyal karena pemberontak tidak mendapatkan dukungan negara lain dan PBB. Tapi, lepasnya Timor-timor jadi pelajaran dan bukti bahwa dengan dukungan sebuah negara seperti Portugal dan sidang PBB yang merekomendasikan referendum lokal, maka runtuhlah sebagian wilayah
negara berdaulat kita.

Bung Karno: Bung, bagaimana ending kerusuhan Papua ini?

Syafarudin: Wallahualam bishsawab. Hanya Allah yang tahu. Kita berharap yang terbaik.

Maaf Proklamator, terkait wilayah dan saudara kita Papua atau dulu bernama Irian ini, sejarah mencatat benderang soal perbedaan sikap Bung berdua. Tapi saya memaklumi dasar argumentasi Bung berdua.

Bung Hatta: Memang aku berbeda sikap dan pandangan tentang Papua dari sebelum dan sesudah Indonesia merdeka. Aku lihat dan aku tahu dirimu lebih setuju dengan sikap dan dasar argumentasi Bung karno tentang wilayah dan bangsa Irian (ikut republik Indonesia anti Nederland).

Bung Karno: Hatta, bukankah Bung Syafar tadi sudah katakan bahwa dia juga bisa memahami sikap dan dasar argumentasi Bung terkait Papua. Aku kira kita sudah berdamai tentang Papua. mari kita buka pembahasan lain.

Bung Hatta: Oke. eace. Bung syafar, apa yang dimaksud milineal tadi soal label negara komedi (commedian state) dan humor Gus Dur?

Syafarudin: Maksud pemuda tadi, saat sebagian wilayah negara dalam kondisi genting, elite kita malah masih banyak asyik menonton pertunjukan lawak hingga tertawa terpingkal-pingkal. Bisa jadi mereka ingin keluar dari tekanan persoalan atau menghindari stres. Tapi milenial kritis melihat ini bentuk pemimpin yang lari dari tanggungung jawab.

Humor Gus Dur itu penjelasannya. Humor Gus Dur itu sebuah cerita satire. Gus Dur pernah berkata, di dunia ini konon ada empat macam sifat bangsa: (1) sedikit bicara, sedikit kerja, contoh Nigeria dan Angola; (2) sedikit bicara, banyak kerja, contoh Jepang dan korea; (3) banyak bicara, banyak kerja contoh Amerika dan Cina; (4) banyak bicara, sedikit kerja contoh Pakistan dan india.

Lalu ada yang bertannya, Bangsa Indonesia termasuk yang mana Gus?”

Gus Dur menjawab, “Tidak bisa masuk keempat golongan tersebut.”

“Kenapa Gitu, Gus?”

Gusdur berkata, “Karena di Indonesia, yang dibicarakan beda dengan yang dikerjakan.”

Kami bertiga tertawa terpingkal mendengar jawaban kocak ala Presiden ke-4 RI ini.

Bung Hatta: Bung, apa pula yang dimaksud milineal tadi soal kerisauan Mochtar Lubis dan pesan preman pensiun?

Syafarudin: Mochtar lubis seorang novelis dan jurnalis pendiri kantor berita Antara . Mochtar Lubis menyampaikan pidato kebudayaan di TIM Jakarta, 6 april 1977 yang dibukukan dengan judul “Manusia Indonesia”.

Sejak 1977 sampai hari ini, isi buku itu memunculkan pro-kontra soal sepuluh karakter manusia Indonesia yang di antaranya: munafik, enggan bertanggung jawab, artistik, berjiwa feodal, manusia sok tahu, tukang tiru, kurang peduli nasib orang lain, dan berhati lembut.

Sedangkan preman pensiun itu adalah tokoh Kang Maman dalam sinetron Preman Pensiun di televisi. Kang maman ini pernah berkata dan ucapannya banyak dikutip anak-anak milineal seingga viral.

Kang maman atau preman pensiun itu berkata: ”Di bawah pemimpin yang baik, anak buah bodoh pun akan ada gunanya. Tapi di bawah pemimpin yang bodoh pasukan terbaik pun akan hancur kocar-kacir.”

Syafarudin: Permisi proklamator, mentari sudah meninggi saya harus pulang duha. Minggu depan insya Allah dialog lagi. Terima kasih. Wassalamualaikum warrahmatulahi wabarakatuh (*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (8): Provokasi Konflik SARA, Agen 3G, dan Pancasila 4.0

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung KAMI bertiga …