DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (8): Provokasi Konflik SARA, Agen 3G, dan Pancasila 4.0


PANCASILA | ist

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

KAMI bertiga (Syafarudin, Bung Karno, dan Bung Hatta), duduk manis di kursi dan sofa panjang dalam “room dialog imajiner”, menunggu sambil memperhatikan persiapan presentasi seorang milenial.

Peretas berusia dua puluhan tahun ini menghidupkan dua laptop di hadapannya. Salah satu laptop terkoneksi dengan monitor smart tv 70 inch yang menempel di dinding sebagai pendukung presentasinya.

Sudah sebulan mahasiswa strata satu ini mencari informasi di deep web yang bisa menjelaskan penyebab fenomena berita di surface web. Mahasiswa kampus hijau ini menjelaskan bahwa informasi yang kita baca melalui mesin pencari Google, Yahoo, dan Bing, lalu menyebar ke grup sosial media semisal WA, Telegram, Line, FB itu baru level info surface web dan ini hanya memuat 5% informasi. Sementara 95% informasi lainnya terkait pihak yang order atau penyebab munculnya fenomena berita tersebut harus kita cari di deep web dan mariana web.

Informasi permukaan (surface web) masih dipagari regulasi tiap-tiap negara, lebih sopan, dan rata-rata gratis. Sedangkan informasi di deep web, tanpa ada regulasi negara, lebih bebas, transparan, tidak gratis, tapi konsekuensinya informasi ada harganya di sana alias harus dibayar dengan bitcoin.

Untuk menyelami informasi deep web, tidaklah mudah. Banyak ranjau virus. Wajar milineal peretas ini mesti membawa banyak bekal. Komputer dengan settingan khusus, web browser yang digunakan TOR, bukan explorer biasa, bisa memahami beberapa bahasa dan aksara lingua franca, mengerti bahasa programmer, juga membawa uang cukup dalam bentuk bitcoin.

Dia pun harus memastikan koneksi internet, UPS, genset, listrik senantiasa terjaga. Lalu secarik kertas pertanyaan pesanan kami dan kata kunci yang mesti dicari. Hampir 60 menit lebih di melakukan presentasi, menunjukkan sejumlah nama agen, gambar tokoh, kaitan dengan tokoh atau agen lain di dalam maupun luar negeri, apa misi-misi tiap-tiap tokoh, agen, elite politik, elite ekonomi, dan elite pemuka agama. Dijelaskan detail dari masa kolonial sampai hari ini.

Milineal peretas secara berimbang menyebutkan beberapa nama yang sejatinya berdiri pada posisi protagonis dan antagonis. Tipe-tipe peran mereka ada kembarannya tersebar di belahan dunia barat dan timur, di bagian utara dan selatan bumi. Sumber informasi disebutkan semua detail dibeli dan diretas dari mana atau dari sumber lembaga mana, baik CCTV, link, bank, perusahaan, parpol, organisasi agama, dan grup konglomerasi.

Cara kerja milineal ini rapi dan detail sekali, mirip Edward Joseph Snowden. Setelah kami berdialog, pendalaman sekitar 30 menit, pemuda gondrong ini permisi pulang. Sambil menunjukkan di monitor 70 inch emoticon wajah senyum dan dua tangan (sebagai tanda permisi dan mohon maaf) lalu muncul lima hurup besar CMIIW (correct me if I’m wrong).

Syafarudin: Izin, Pak Proklamator. Alhamdulillah, sudah kita dengar paparan panjang lebar milineal tadi tentang tujuan dan siapa yang memelihara dan memadamkan benih konflik SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) di Nusantara hari ini dan dari masa kolonial.

Lalu trennya yang hampir sama terjadi di Timur Tengah, Afrika, Amerika selatan, dan Asia Tenggara. Lalu dalam rangka apa atau misi apa yang mereka bawa. Sudah jelas dipaparkan. Bagaimana Proklamator melihat semua hal ini?

Bung Hatta: Milineal sekarang kritis–kritis ya. Pandai membaca sejarah dan jejak digital. Milineal putra yang ini lebih kritis dibandingkan dengan milineal putri influencer yang viral seusai tampil di ILC TV One selasa pekan lalu. Aku setuju dengan yang disampaikan milineal peretas ini tadi. Bahwa ada kepentingan abadi dan ada agen 3G, dan khusus case Indonesia memang perlu revitalisasi penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila yang dia sebut etika Pancasila 4.0.

Bung Karno: Aku pun merasakan adanya upaya terstruktur dan sistematis sejumlah agen menciptakan konflik horizontal dan vertikal demi kepentingan gold (emas, ekonomi), glory (kekuasaan, politik) dan gospel (agenda tua penyebaran agama). Mereka mahir membenturkan antarsuku, agama, ras, dan antargolongan. Mereka juga mahir membenturkan perlahan
aparat dengan golongan tertentu.

Hal tersebut kasat mata terlihat dalam serial pemberitaan terkait kerusuhan atau konflik dipicu pernyataan rasis di sebagian Jawa Timur dan merembet ke sebagian Papua. Terlihat juga pada pemberitaan menyoal Enzo menjadi calon taruna Angkatan Darat, termasuk berita tiga laporan aktivis agama tertentu ke polisi dengan aduan senada soal ceramah Ustaz Abdul Somad tiga tahun lalu di masjid Annur Riau dan uniknya baru sekarang dilaporkan. Untung saja masih banyak nama dalam berita yang coba meredam dan menghentikan potensi konflik SARA tersebut.

Syafarudin: Proklamator setelah kerusuhan berbau SARA mereda, sekarang orang mulai ramai membicarakan urgensi nilai-nilai Pancasila yang mesti diamalkan dan juga mulai menuding nama atau lembaga yang mengurusi Pancasila BPIP, MPR, dan sekolah serta kampus. Bagaimana Proklamator melihat ini?

Bung Hatta: Sesuatu yang alami, ketika terjadi kerusuhan misalnya, maka orang akan bertanya kok bisa begitu, siapa yang bertanggung jawab mencegah, mengelola dan mengatasi konflik? Dan kita bisa urai satu persatu. Tapi ini pertanyaan buat Bung dulu, apakah zaman reformasi sekarang kalian sudah buat regulasi dan sistem terkait konflik?

Syafarudin: Alhamdulillah. Era reformasi, DPR dan Presiden SBY telah menerbitkan UU nomor 7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial. UU tersebut berusaha mengintegrasikan dan menyempurnakan regulasi UU 23/1959 tentang keadaan Bahaya yang terbit era Orde Lama dan UU 27/1997 tentang Mobilisasi dan Demobilisasi yang terbit era Orde Baru.

Bung Karno: Bung, apa saja isi regulasi penanganan konflik sosial tersebut?

Syafarudin: Enam puluh dua pasal UU tersebut sudah lengkap mengatur cara, sistem, dan organisasi. Regulasi tersebut mengatur soal pemetaan wilayah potensial konflik, peringatan dini sebelum konflik, upaya pencegahan konflik, upaya mengatasi konflik, penanganan pasca konflik, laporan berjenjang dari bawah sampai pusat baik di matra sipil, matra polisi, dan matra TNI. Lalu mengatur kelembagaan dan mekanisme penyelesaian konflik.

Bung Karno: Bagaimana implementasi dan dampak regulasi tersebut menurut, Bung?

Syafarudin: Not bad, But not good too. Masih sebatas proyek mendadak, kurang menjadi perhatian rutin. Laporan riset serius pemetaan wilayah potensial konflik berbasis desa atau kecamatan, sulit dicari dokumennya. Sistem peringatan dini konflik yang setara sistem peringatan dini tsunami belum muncul, dan parahnya oknum aparat di lapangan malah diduga ada yang terlibat ujaran rasis memicu kerusuhan tersebut.

Bung Hatta: Yang rusuh SARA tampak terlihat melibatkan oknum pemuda, mahasiswa, aparat dan para tokoh. Apa zaman kalian sekarang tidak diajarkan pendidikan kewarganegaraan dan pengamalan pancasila?

Syafarudin: Bila di zaman Orde Lama Bung Karno ada pelajaran civic education di sekolah dan kampus, maka di zaman Orde Baru lebih kompleks. Di sekolah ada Pendidikan Moral Pancasila, di kampus ada mata kuliah kewiraan dan Pancasila, di masyarakat ada penataran P4. Era reformasi sekarang tetap ada, di sekolah sampai kampus ada pelajaran PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan).

Bung Hatta: Apa nilai-nilai Pancasila yang diajarkan dan diamalkan pada era sekarang, Bung?

Syafarudin: Proklamator, ini lah yang jadi persoalan sekarang. Kurikulum, buku, guru, dan dosen yang mengajarkan Pancasila tidak lagi fokus Pancasila sebagai etika, tapi meluas Pancasila dalam tataran sejarah, Pancasila sebagai ideologi bangsa, Pancasila sebagai falsapah bangsa, Pancasila sebagai modal persatuan dan lain-lain.

Terlepas dari soal kritik pelajaran Pancasila dijadikan bahan indoktrinasi Orde Baru, harus diakui Orde Baru mampu menerjemahkan penghayatan dan pengamalan pancasila dalam eka prasetyapanca karsa atau 36 butir nilai penghayatan dan pengamalan Pancasila. Zaman sekarang ini tidak diajarkan lagi padahal isinya baik.

Bung Hatta: Bila nilai penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam eka prasetya pancakarsa itu baik, mohon Bung bacakan dua saja contoh nilai baik dari tiap-tiap sila Pancasila tersebut.

Syafarudin: Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai (1) Hormat menghormati dan bekerjasama antarpemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup; (2) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, nilai (1) Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia; (2) Saling mencintai sesama manusia.

Sila Persatuan Indonesia, nilai (1) Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan; (2) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Sila Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, nilai (1) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan; (2) Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah.

Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, nilai (1) Menghormati hak-hak orang lain; (2) Suka memberi pertolongan kepada orang lain.

Bung Hatta: Aku setuju, baik sekali contoh nilai penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam eka prasetya pancakarsa itu. Bagaimana etika Pancasila era 4.0 yang dimaksud milineal tadi.

Syafarudin: Milineal peretas tadi dengan santun sudah mengamalkannya. Bila seseorang sudah presentasi atau argumentasi panjang lebar maka tutuplah dengan humble, katakan CMIIW. Correct me if i’m wrong. Dia siap terima masukan kritik, dan saran.

Permisi Proklamator, mentari sudah meninggi, saya harus pulang duha. Minggu depan insha Allah dialog lagi. Terima kasih. Wassalamualaikum warrahmatulahi wabarakatuh.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB Ilham Malik: Pengusaha Batu Bara Harus Ubah Sistem Angkutan

Oleh Dr Eng IB Ilham Malik ST MT ATU | Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah …