Duajurai Dalam Memori Saya


GRAFIS joe chaniago/duajurai.co

KARINA LIN | Penulis freelance, aktivis AJI Bandar Lampung, penyintas lupus

DUA BELAS Agustus lalu merupakan hari yang sangat berarti untuk duajurai.co. Pada tanggal tersebut, salah satu media online di Bumi Ruwa Jurai ini memperingati hari lahirnya yang ke lima.

Secara usia, duajurai.co masih terbilang belia. Ini kalau kita menilik dari keberadaan media-media di Lampung yang jauh lebih lama. Namun mempertahankan eksistensi media bukanlah hal yang mudah, meskipun usianya masih hitungan jari.

Meminjam kata-kata Dilan (dengan sedikit modifikasi), mendirikan media online itu mudah tapi mempertahankannya berat. Tidak semuanya kuat, biar duajurai.co saja.

Ada beragam hal yang perlu diberikan perhatian supaya sebuah media bisa bernafas panjang, selain (tentu yang utama) kualitas pemberitaan. Saya sendiri pernah menjadi bagian dari media ini. Meskipun hanya sebentar, tetap masa-masa itu menjadi memori yang indah, dan terpenting memberi banyak pengalaman serta pelajaran berharga.

Suatu Ketidaksengajaan

Jujur, tak pernah tersirat sedikit pun saya akan menjadi bagian duajurai.co. Karenanya ketika pada akhirnya saya bisa menjadi bagian darinya, semua itu di luar rencana, akan tetapi “di luar rencana yang indah”.

Bila direka-reka, semua berawal dari ketidaksengajaan. Dalam bulan-bulan Agustus 2015 saya kerap ber-Facebook messenger dengan Bang Juwe (Juwendra Asdiansyah) yang tak lain merupakan pemimpin redaksi (pemred) duajurai.co.

Lupa apa tepatnya yang diobrolkan, tetapi kemungkinan menyoal jurnalistik dan jurnalisme. Lalu pada suatu percakapan, Bang Juwe menanyakan apa aktivitas terkini saya, dan sesudah saya jawab hanya menulis secara freelance, dia pun berpesan supaya saya menyempatkan datang ke kantornya.

Saat itu tak terbersit apa-apa. Hanya berpikir datang ke sana sekadar main dan silaturahmi. Tidaklah aneh. Toh, Bang Juwe senior saya di AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Bandar Lampung. Juga saat itu, para jurnalis duajurai juga teman-teman sesama anggota AJI.

Jadilah suatu hari, tak lama dari dia berpesan, saya datang ke kantornya. Lokasi redaksi duajurai pada 2015 masih di Jalan KH Mas Mansyur Nomor 26, Rawalaut, Bandar Lampung. Tiba di sana, hanya ada Hendry Sihaloho (editor), yang saat itu lah kali pertama saya bertatap muka dengannya. Sebelumnya hanya pernah ketemu melalui “titip beli pulsanya” Adian Saputra (kini pemred Jejamo.com).

Sekitar setengah jam kemudian barulah Bang Juwe datang disusul yang lain-lain. Barulah kemudian saya tahu, bahwa yang dimaksudnya mengajak saya ngobrol, juga dua orang lainnya, sesungguhnya sebuah tes interviu untuk calon karyawan.

Untung saja obrolannya santai, tidak sakelijk seperti wawancara di perusahaan-perusahaan lain pada umumnya. Singkat cerita, diputuskan saya diterima sebagai reporter dan mulai besok bekerja di duajurai.

Mungkin sebagai tes awal wartawan baru saya ditugaskan untuk membuat artikel berita. Saya sempat bingung, lalu ingat di seberang kantor ada lapak bakso ikan. Ya, kenapa tidak mencoba menulis tentang itu saja? Tak apa-apa tak menarik, kan ini sekadar untuk memenuhi persyaratan.

Bersamaan itu, tak diduga muncul tiga laki-laki ABG sekira usia 17-an tahun, berkostum khas dan menari jaran kepang. Mereka rupanya mencari nafkah dengan mengamen menari jaran kepang. Langsung saya wawancara mereka dan saya tulis artikelnya.

Hari pertama bekerja, saya dilanda sejumlah kebingungan. Tapi saya berupaya beradaptasi. Maklum, sekian tahun menjadi freelance dan kini mulai ngantor lagi.

Sebenarnya posisi saya sebagai reporter di duajurai agak berbeda. Sedari awal, Bang Juwe sudah membebaskan saya menulis tentang apa saja. Hanya saja saya dimintanya untuk fokus menulis artikel-artikel ringan bergaya feature. Menurutnya, ini lah kekuatan saya dalam menulis. Bahasa ringan dan mengalir.

Selain itu ada pertimbangan kondisi kesehatan. Ketika mulai bekerja di duajurai, September 2015, saya berstatus odapus (orang dengan lupus). Meski bukan penyakit menular, lupus merupakan penyakit dalam yang kronis.

Secara sederhana, lupus adalah penyakit karena imunitas tubuh yang error atau tidak normal lagi sehingga tidak mampu mengenali mana yang harus ditangkal, dilindungi atau diserang. Baginya semua dianggap benda asing termasuk organ-organ tubuh odapus. Penyakit ini bisa menjadi bersifat multiorgan (SLE) tetapi bisa juga spesifik seperti menyerang kulit (discoid lupus) dan menimbulkan peradangan (inflamasi) yang menahun atau kronis. Muncul dan hilang.

Ada banyak pantangan bagi odapus antara lain tidak boleh terpapar matahari, debu, asap rokok dan terlalu lelah. Sekali lagi, saya yakin ini lah yang juga mendasari Bang Juwe berkeputusan membebaskan saya menulis apa saja.

Menjadi Editor

Sebulan bekerja di lapangan, pada bulan berikutnya (Oktober 2015) saya dipindah pos ke kantor untuk mengedit. Jujur saya senang. Tapi di saat yang bersamaan saya tidak percaya diri.

Saya sadar masih hijau sekali dalam hal edit-mengedit. Saya merasa tulisan yang selama ini dibuat masih belepotan terutama dalam hal tata bahasa, kalimat, dan sebagainya. “Gue yang acakadut begini dijadikan editor? Nggak salah nih?” Pikir saya saat itu.

Tapi Bang Juwe percaya saya bisa. Ia bilang saya punya kapabilitas, pengetahuan yang luas dan bisa belajar mengedit. Ya sudahlah saya manut saja dan jangan ditanya bagaimana kinerja saya sebagai editor.

Jujur lagi, saya merasa malu karena untuk mengedit satu berita saja super duper lama. Ini lah yang membedakan media cetak dan media online. Pokoknya, online tuh serba cepat. Kerja di media online dituntut punya energi dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat daripada di media cetak. Tidak heran banyak jurnalis yang tumbang karena tidak kuat mengikuti ritme online yang cepat itu.

Saat saya pertama kali menerima gaji dengan posisi editor, ada dua rasa bergulat. Satu sisi saya senang jerih upaya saya dihargai. Akan tetapi saya juga merasa berat, seperti tidak pantas menerimanya karena kinerja saya yang masih jauh dari harapan.

Saya tahu, gaji memang hak saya, kewajiban kantor kepada pegawai atau karyawannya. Namun rasa-rasanya kok saya masih belum pantas. Saya agak-agak gimana gitu.

Selain persoalan edit mengedit yang lelet, sebenarnya saya nyaman-nyaman saja kerja di kantor karena artinya tak perlu berlelah ria di lapangan, terpapar debu, dan sebagainya. Praktis tenaga fisik lebih dihemat.

Akan tetapi, sesudah berjalan beberapa pekan lalu berganti bulan, saya mulai bosan di kantor melulu. Belum lagi dengan posisi kerja yang hanya duduk di depan layar komputer. Aduh Mak, betapa kakunya badan gara-gara berjam-jam duduk.

Akhirnya saya menemui ke Bang Juwe dan meminta ditugaskan ke lapangan saat-saat tertentu. Saya perlu bergerak untuk mengusir kejenuhan, seimbang di body, mind and soul (kayak jargon-jargon kesehatan itu loh), sekaligus mengasah ilmu liputan dan kepenulisan. Entah karena mengerti atau bagaimana, yang jelas Bang Juwe mengabulkan permintaan ini.

Resign, Pengalaman dan Kenangan

Saya mungkin tidak selama Imelda Astari atau Hendry Sihaloho di duajurai. Keduanya adalah reporter dan editor. Mereka sudah lima tahunan bekerja di sana atau seusia media online itu sekarang.

Saya? Hanya enam bulan, sungguh suatu masa yang singkat. Keputusan resign saya ambil sekitar bulan Januari 2016, dan bukan tanpa alasan kuat. Saat itu saya merasa kondisi kesehatan menurun.

Mulai muncul lagi gejala lupus yang pernah saya rasakan. Pernah selama seminggu sekujur badan terasa nyeri sendinya sehingga menyulitkan untuk bangun pagi atau beraktivitas.

Nyeri sendi ini pernah saya rasakan sebelumnya pada Oktober 2014. Bahkan saat itu lebih parah, nyeri sendi bercampur pegal-pegal dan lemas tanpa diketahui penyebabnya berlangsung selama sebulan. Datang tiba-tiba dan hilang tiba-tiba. Pameonya seperti datang tak diundang, pergi tak diantar.

Bedanya, dahulu saya tidak tahu bahwa itu salah satu gejala lupus. Sementara Januari 2016 itu saya sudah resmi menjadi odapus dan mengetahui bahwa itu merupakan gejala lupus yang kambuh dan masih aktif.

Selain nyeri sendi sekujur tubuh saat tidur, ada gejala-gejala lain dari lupus yang saya rasakan. Pada momen itu lah saya berpikir matang-matang sampai akhirnya berkeputusan untuk resign dari duajurai.

Suatu keputusan yang sulit, berat, tetapi berdasarkan pertimbangan rasional. Harapan saya, dengan resign, saya bisa membenahi kesehatan yang kondisinya masih naik dan turun.

Meskipun rasional, tak bisa dipungkiri ada sisi emosionalnya. Ketika saya mengutarakan niatan untuk mundur kepada Bang Juwe, dia mendengarkan seksama. Lucunya, malah saya sendiri yang menangis.

Yah, bagaimana tidak berat. Duajurai selama enam bulan telah menjadi bukan sekadar tempat bekerja. Bagi saya, duajurai adalah keluarga.

Mungkin ia bukanlah media yang besar, bonafit, jor-joran dan mampu menggaji karyawannya dengan nominal wah , ditambah berbagai fasilitas atau tunjangan lain. Tetapi ada hal lain yang…ahh bagaimana ya saya menjelaskan. Apakah melalui cerita ini, yang membaca tulisan saya ini bisa merasakan?

Cukup sering, sore hari sehabis proyeksi, kami makan gorengan dan ngopi bersama. Lalu dalam sekali sebulan kami kerja bakti membersihkan kantor. Mulai dari menyapu, mengepel lantai, menguras air bak mandi dan menyikat porselen kamar mandi.

Kadang Bang Juwe mentraktir kami makan di luar. Yang saya ingat ketoprak di kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan, Kotabaru, dan pernah juga bubur kacang ijo di Jalan Gajahmada.

Saya juga masih ingat kala Bandar Lampung kerap dilanda pemadaman listrik sehingga kami harus mengungsi ke warnet dekat kantor untuk melakukan proses editing dan upload berita. Itu lah duajurai, meski banyak keterbatasan, the show must go on. Untuk mewujudkan show must go on , berbagai opsi harus diikhtiarkan.

Dari sini saya belajar sangat banyak. Salah satunya tentang nilai keteguhan. Duajurai bukanlah media yang besar, namun mereka berteguh untuk terus berjalan. Mereka menginformasikan Lampung melalui pemberitaan yang independen.

Mereka bukan media online yang gegabah atau semata mengejar clickbait. Masih ingat mengenai heboh salah satu calon gubernur Lampung saat pilkada 2018 yang di-OTT KPK? Kala itu berlomba-lomba media menurunkan berita seputar penangkapan. Sementara duajurai tidak. Mereka memilih menunggu beberapa waktu karena ingin memastikan informasi tersebut sesungguhnya “benar”.

Secara personal, saya sangat mengapresiasi Bang Juwe yang mau “menampung” saya bekerja dengan segala kekurangan yang saya miliki. Bisa memaklumi kondisi sakit saya, namun tetap memberi kepercayaan bahwa saya bisa.

Selama enam bulan saya terus dibimbingnya di kancah jurnalistik. Bagi saya, Bang Juwe merupakan seorang “bos” yang demokratis, sekaligus mentor, teman dan sahabat.

Demikian pula, teman-teman seperjuangan kala itu, Hendry Sihaloho, Imelda Astari, dan lain-lain. Terkhusus Imelda Astari, kebersamaan di duajurai menjadikan kami sebagai karib. Bahkan sesudah saya tak lagi di duajurai, kami tetap berkomunikasi dengan baik. Bahkan seluruh awak duajurai tetap memberikan support-nya terhadap saya, khususnya pada kondisi saya yang terus berjuang melawan kesakitan.

Sungguh saya merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga duajurai. Meskipun singkat, seumur jagung, tetap selalu menjadi salah satu memori terindah dalam hidup dan perjalanan jurnalistik saya.

Bukan suatu harapan yang muluk apabila saya mempercayai bahwa duajurai akan terus hidup mewarnai dunia pers di Lampung. Malahan mungkin menjadi yang terbaik di Bumi Lada ini.

Duajurai.co punya ciri khas sebagaimana yang telah saya urai dalam paragraf sebelumnya, dan hal ini lah yang membedakannya dari media-media online lain di Lampung.

Semoga terus memberitakan segala hal mengenai Lampung secara kritis dan berimbang. Semoga duajurai.co tetap survive melintas zaman. Tabik.

Jakarta, 21 Agustus 2019.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB Ilham Malik: Pengusaha Batu Bara Harus Ubah Sistem Angkutan

Oleh Dr Eng IB Ilham Malik ST MT ATU | Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah …