UIN Raden Intan & Gerakan Konservasi Lingkungan di PTKIN


GRAFIS Joe Chaniago | duajurai.co

Oleh MUDOFIR ABDULLAH| Penulis buku Al Quran dan Konservasi Lingkungan, Guru Besar Ilmu Pengkajian Islam, Rektor IAIN Surakarta

LOKAKARYA Nasional Green Campus di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung 14-16 Agustus 2019 membuka mata peserta yang berasal dari perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) tentang pentingnya sustainable university—universitas berkelanjutan. Konsep ‘keberlanjutan’ merupakan konsep lingkungan yang berarti pembangunan yang memenuhi kebutuhan hari ini tanpa membahayakan kebutuhan generasi mendatang. Dalam konteks green campus, hal ini mengandung arti kampus yang dikelola dengan komitmen dan tindakan kepada penghijauan dan keberlanjutan lingkungan.

Berdasarkan penilaian UI Green Metric tahun 2018, UIN Raden Intan Lampung menempati ranking ke-18 kampus paling hijau dari 56 PTN peserta di Indonesia, dan ranking 1 di lingkungan PTKIN.

Di level dunia, dari 516 perguruan tinggi dunia di 74 negara peserta, University of California Davis, California USA, meraih ranking 1 kampus paling hijau. Menyusul di peringkat ke dua University of Gottingen, Inggris.

Penting dicatat, metodologi penilaian ini menggunakan 6 kriteria dari 36 indikator yang meliputi pengaturan lahan dan infrastruktur, energi dan perubahan iklim, pengelolaan sampah, air, transportasi, edukasi, dan hasil.

Yang menarik adalah mengapa UIN Lampung ikut menjadi peserta UI Green Metric yang bersifat internasional sementara UIN/IAIN/STAIN lain tidak? Saya mencoba menelisik keseriusan dan kesadaran lingkungan UIN Lampung.

Ternyata, visi kampus ini sudah menyebut lingkungan. Visi dimaksud adalah “mewujudkan UIN Radin Intan Lampung sebagai rujukan internasional dalam pengembangan ilmu keislaman integratif-multidisipliner berwawasan lingkungan tahun 2035”.

Konsep ‘berwawasan lingkungan’ adalah konsep paling visioner mengingat ancaman krisis lingkungan merupakan masa depan paling nyata yang akan menjadi problem global. Bumi sebagai satu-satunya warisan dunia kini sedang berjalan ke arah destruksi akibat teknologi industri, teknologi transportasi, dan teknologi militer.

Ilmu pengetahuan dikembangkan bukan untuk menghadirkan kearifan tapi justru untuk pengendalian serta penaklukan. Perang-perang pada masa kini dan masa depan akan ditentukan oleh perebutan sumber-sumber daya alam yang semakin terbatas.

Karena itu, penyebutan ‘berwawasan lingkungan’ dalam visi UIN Radin Intan Lampung, bagi saya, sangat spiritual, bersifat profetik, dan sangat unik. Ada kesadaran pikiran dan tindakan lingkungan sejak dari dasar. Selain itu, ada konsekuensi-konsekuensi yang harus dilakukan jika visi ini hendak direalisasikan: komitmen tinggi, literasi ekologis yang terus-menerus, anggaran besar, dan tanggung jawab profetik.

UIN Raden Intan Lampung harus mengarahkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan sekadar untuk pengendalian tetapi juga produksi kearifan sebesar-sebesarnya bagi perdamaian dunia serta keberlanjutan lingkungan. Perlu prodi fikih lingkungan, tasawuf lingkungan, tafsir lingkungan, dan atau etika lingkungan dengan seluruh percabangannya.

Secara fisik, wajah lingkungan kampus UIN Lampung sudah sangat ekologis. Komitmen dan tindakan penghijauan berwawasan lingkungan telah diwujudkan dalam bentuk pemanfaatan energi surya di sebagian perkantoran, biopori di hampir setiap halaman, taman yang asri, gemericik air, ikan-ikan yang berenang di tiap selokan dan empang, pengelolaan sampah yang konsisten, infrastruktur yang mendukung untuk itu, dan lain-lain. Dengan kriteria-kriteria lingkungan semacam ini, UI Green Metric memberi pengakuan dan menempatkannya di urutan ke-18 dari 58 PTN peserta pada 2018.

Lokakarya pekan lalu di UIN Lampung dengan tagline “Greening Your Campus, Greening Your Life” menjadi penyegar tentang makna penting visi lingkungan kampus berkelanjutan yang harus diwujudkan secara bertahap di kampus-kampus kita. Dimulai dari kampus diharapkan menyebar ke masyarakat luas.

Kampus-kampus merupakan tempat berkumpulnya kelompok-kelompok elite strategis yang menjadi garda depan gerakan lingkungan hidup berkelanjutan. Dimulai dari gerakan mencintai lingkungan, maka akan mendorong gerakan mencintai manusia dan mensyukuri ciptaan Tuhan.

Dari sini lah gerakan lingkungan akan dengan sendirinya memoderasi sikap-sikap radikalisme beragama. Bila menebang pohon tidak sah saja dianggap sebagai sebuah dosa, maka seseorang akan terhindar untuk merusak atau melukai sesamanya.

Karena itu, apa yang dilakukan UIN Radin Intan Lampung dengan komitmen dan penghijauan lingkungan berkelanjutan perlu menjadi awal gerakan konservasi lingkungan hidup di PTKIN. Meski ini sangat terlambat, masih lebih baik ketimbang tidak sama sekali.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB Ilham Malik: Pengusaha Batu Bara Harus Ubah Sistem Angkutan

Oleh Dr Eng IB Ilham Malik ST MT ATU | Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah …