Itera-3 Universitas Jepang Kaji Penanganan Bencana Selat Sunda


WORKSHOP “Coastal Disaster Management” di Aula Gedung C Itera, Jatiagung, Lampung Selatan, Kamis, 16/8/2019. | Humas Itera

JATIAGUNG, duajurai.co – Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengadakan internasional workshop penanganan kebencanaan bertajuk “Coastal Disaster Management” di Aula Gedung C Itera, Jatiagung, Lampung Selatan, Kamis, 16/8/2019. Lokakarya itu menghadirkan dua pembicara asal Jepang, Dr Takahito Mikami dari Tokyo City University, Dr Ryota Nakamura dari Niigata University, serta dua mahasiswa peneliti asal Waseda University.

Workshop membahas sejumlah hal. Beberapa di antaranya kajian ilmiah gempa dan tsunami yang melanda Palu, Sulawesi Tengah, pada 2018. Selain itu, potensi bencana di Selat Sunda.

Rektor Itera Ofyar Z Tamin mengatakan, topik manajemen penanganan bencana penting dikaji lebih mendalam oleh para dosen dan mahasiswa. Sebab, letak geografis Indonesia yang berada di jalur ring of fire membuat hampir seluruh daerah rawan gempa bumi yang dapat mengakibatkan tsunami, termasuk di Selat Sunda. Bahkan, belum lama ini, bencana tsunami terjadi di Selat Sunda akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang mengakibatkan kerusakan di daerah Banten dan Lampung Selatan.

“Pengetahuan baik secara teknik ataupun material sangat dibutuhkan untuk menunjang penelitian yang berkaitan dengan kebencanaan sebagai langkah mitigasi bencana, baik di Lampung dan Pulau Sumatra,” kata Ofyar melalui rilis dari Humas Itera.

Menurut Takahito, sekitar 65% penyebab tsunami adalah gempa bumi saja. Namun, dalam kasus di Palu, penyebab tsunami adalah gempa dan longsor.

Sementara, Ryota menyampaikan materi seputar bencana topan dan badai yang biasa melanda kawasan beriklim tropis. Termasuk seluruh kawasan Indonesia.

Mengenai kebencanaan di Selat Sunda, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (MKG) Itera Zadrach L Dupe menyatakan, Selat Sunda memiliki sejarah kebencanaan panjang dan sangat rawan terhadap bencana gempa, letusan gunung berapi, dan tsunami. Oleh karena itu, penting bagi Itera yang berkedudukan di Provinsi Lampung untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap semua jenis bencana alam. Serta membangun infrastruktur yang melindungi masyarakat dari ancaman tersebut.

Kepala Itera International Office (IIO) Acep Purqon menambahkan, mitigasi bencana yang dilakukan dapat meminimalkan korban jiwa serta membantu mengedukasi masyarakat lokal agar menanggapi bencana dengan lebih sistematik. Selain itu, penelitian tentang kebencanaan Selat Sunda dapat melibatkan para dosen dan mahasiswa Itera dari berbagai disiplin ilmu untuk bersama-sama mengatasi permasalahan yang ada.

“Jepang telah memiliki teknologi yang canggih untuk meneliti tentang kebencanaan. Namun, keberhasilan penelitian tersebut tidak luput dari bantuan penduduk lokal. Sehingga, baik hasil maupun data yang didapat dari penelitian bersama dapat berguna bagi pemerintah maupun lembaga terkait,” ujarnya.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

STIT Tanggamus Gandeng Universiti Malaysia Perlis dan Fatoni University Thailand

GISTING, duajurai.co – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Tanggamus melakukan krjasama dengan perguruan tinggi luar …