DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (6): Pohon Soekarno dan Masjid Kemerdekaan


POHON mindi atau pohon Soekarno di Arab Saudi | ist

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

SEROMBONGAN siswa usia sekolah dasar seusai salat tahiyatul masjid melanjutkan latihan manasik haji di teras Masjid Kemerdekaan. Pagi jelang siang itu, suasana riuh, udara terasa hangat.

Kami bertiga (Syafarudin, Bung Karno, dan Bung Hatta) duduk santai di pojokan atas teras tersembunyi sambil memandang pucuk menara Monas (Monumen Nasional). Tampak kecil sekali menara yang dilapisi emas itu dari kejauhan ini.

Syafarudin: Alhamdulillah masih mengalir udara hangat dan sinar mentari hari ini. Izin, Pak Proklamator, hari-hari tasyrik ini saudara-saudara kita yang muslim sedang melaksanakan rangkaian prosesi ibadah haji di Tanah Armina (Mina, Arafah, Muzdalifah, kembali ke mina lontar tiga jumroh) di tanah Kerajaan Arab Saudi.

Generasi milineal bahkan yang sudah tua sekalipun mungkin tidak tahu atau ketika tahu pun bingung, kok ada pohon-pohon bernama Soekarno di Padang Arafah sebagai peneduh dari gersang dan terik. Menjelang kemerdekaan dan dalam suasana Idul Adha ini saya ingin berdialog seputar makna pohon Soekarno itu, plus Masjid kemerdekaan ini. Bisa diceritakan, Pak.

Bung Karno: Bung Hatta, silakan duluan, bantu menjelaskannya, terutama tentang Masjid Kemerdekaan ini.

Bung Hatta: Biar generasi kalian cepat paham, saya sebut masjid ini dengan nama yang biasa kalian lafalkan yakni, Masjid Istiqlal, yang bisa diartikan dalam bahasa melayu sebagai masjid kemenangan atau kemerdekaan.

Masjid ini spesial karena simbol kemerdekaan bangsa Nusantara, sekaligus juga simbol persatuan, kerukunan, dan toleransi umat Islam dengan pemeluk agama lain. Mengapa? Karena desainer atau arsitek awal masjid ini adalah seorang Batak kristiani bernama Frederich Silaban yang memenangkan sayembara.

Awalnya, pada 1953, tokoh-tokoh Islam di Nusantara berkumpul di Batavia. Mereka di antaranya Wahid Hasyim, Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan sejumlah tokoh lain. Mereka bertemu dengan tujuan membuat sebuah masjid simbol kemerdekaan bangsa ini.

Setahun kemudian, tepatnya 7 Desember 1954, dibentuklah Yayasan Masjid Istiqlal. Tahun 1955, Yayasan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara untuk mendapatkan desain ideal masjid yang mampu merepresentasikan kemerdekaan Indonesia dan nilai-simbol Islam.

Ada 30 peserta yang mengikuti sayembara, tapi yang serius 27 orang. Mereka melampirkan gambar desain masjid. Seleksi berikutnya tersisa 22 peserta. Seleksi ketat dewan juri mengerucut, dan terakhir tersisa lima. Dari lima, dipilih satu desain terbaik di mana pemenangnya Saudara Frederich Silaban. Dia seorang pemuda Batak kristiani.

Syafarudin: Izin melanjutkan, Bung Hatta. Sejarah mencatat Masjid Istiqlal berada di lahan seluas 9,5 hektaer, dibangun selama 17 tahun, mulai dari pemerintahan Soekarno dan diresmikan era pemerintahan Soeharto pada 1978.

Silaban mendesain kubah utama dengan diameter 45 meter melambangkan tahun kemerdekaan, kubah kecil ukuran 8 meter melambangkan bulan kemerdekaan Agustus. Dia juga mendesain 12 pilar utama penopang masjid yang merupakan simbol 12 Rabiulawal, tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw.

Bung Hatta: Bila sampai hari ini masih saja ada anak bangsa di Nusantara yang mengalami islamophobia dan suka bikin meme di media sosial yang mendeskreditkan muslim sebagai teroris dan tidak toleran, mungkin ada baiknya literasi komik sinchan-nya dikurangi, lalu perbanyak baca buku sejarah dan biografi yang bermutu.

Syafarudin: Setuju, Bung Hatta. By the way, Bung Karno mohon Anda ceritakan bagaimana pohon mindi di Nusantara bisa tumbuh di Padang Arafah dan namanya berubah menjadi pohon Soekarno.

Bung Karno: sebelum cerita soal pohon mindi atau pohon Soekarno itu, aku mau cerita soal perjalanan hajiku kala itu. Perjalananku beda dengan kalian yang dari bandara di Tanah Air langsung penerbangan direct 9 jam ke Jeddah atau Madinah. Aku dan rombongan berangkat pakai pesawat Garuda tanggal 18 juli 1955. Sampai di Arab Saudi setelah mampir-mampir dulu sekitar enam kota: Singapura, Bangkok (Thailand), New Delhi(India), Sarjah (Uni Emirat Arab), Bagdad (Irak), dan Kairo (Mesir). Di setiap negara yang kusinggahi, aku berjumpa dengan diaspora Indonesia atau pejabat negara setempat.

Tanggal 24 Juli 1955 rombongan kami mendarat di Jeddah dan disambut Raja Saud Bin Abdul Azis. Saat penyambutan, Bendera Merah Putih dikibarkan. Meriam ditembakkan 21 kali, lalu dikumandangkan lagu kebangsaan Arab Saudi dan Indonesia.

Syafarudin: Bung Karno, izin. Sejarah mencatat Raja Arab Saudi memberi hadiah (meminjamkan) sebuah mobil Chrysier Crown Imperial selama Bung prosesi haji dan berada di Arab Saudi. Di sela prosesi haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, Bung menerima kunjungan pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mekkah. Bung juga sempat memberikan amanat di depan warga mukimin Indonesia, serta mengunjungi perkemahan jemaah.

Bung Karno: Betul, dan aku atau kita yang pernah ke Tanah Suci, terutama di daerah Padang Arafah pasti pagi sampai sore merasakan udara dan suhu yang terik 40-50 derajat celcius, lingkungan tanah berpasir, tanah tandus dan pohon kurma yang gersang. Aku berpikir, andai saja banyak pohon di sini mungkin bisa menjadi tempat berteduh dan sedikit menyejukkan seperti di Tanah Air.

Aku usul ke Raja Arab Saudi agar memperbanyak tanaman di Mekkah dan Padang Arafah. Alhamdulillah, di antara rombonganku dari Tanah Air, ada ahli tanaman. Dia sudah bawa beberapa bibit pohon mindi. Bibit pohon itu lah yang aku serahkan ke Raja dan langsung ditanam di Mekkah dan Padang Arafah. Pohon ini bisa hidup di tanah gersang, minim air, dan tanah berpasir.

Tahun selanjutnya, aku kirim ahli tanaman dari Indonesia untuk menanam pohon mindi di areal 1.250 hektare Padang Arafah dengan menggunakan campuran tanah subur dari Indonesia dan Thailand.

Bung Hatta: Pohon mindi sekarang menghijaukan Padang Arafah. Orang Timur Tengah menyebutnya sebagai pohon Soekarno.

Syafarudin: Sejarah juga mencatat bahwa usulan Bung karno yang memiliki jiwa arsitek lah yang menjadi musabab Arab Saudi membuat dua jalur lintasan prosesi sa’i, dan bertingkat.

Sekarang beralih pertanyaan cukup berat seputar berhaji atau umrah yang berbau politis. Saat Bung Karno dan rombongan berhaji kala itu muncul kritik tajam bahwa Bung Karno “haji politis” untuk meredam pemberontakan DI/TII yang bergolak di Nusantara.

Kritik tajam ini berulang kembali ketika Presiden yang juga calon presiden beserta rombongan umrah menjelang Pilpres 2019, lalu disiarkan aneka televisi. Hal itu dinilai sebagai “umrah politis” untuk meraih dukungan suara umat Islam. Bagaimana Proklamator menanggapinya?

Bung Karno: Aku berhaji tidak minta disiarkan live lewat televisi atau radio. Aku bukan “haji pencitraan”. Soal kritik itu biasa, bahkan mereka yang kritis sudah dijamin haknya bersuara dalam konstitusi, UUD 1945 pasal 28.

Yang membungkam kritik berarti melawan konstitusi. Aneka kritik dan tuduhan kepadaku sempat Cindy Adams konfirmasi dan sudah aku jawab semua. Termasuk tuduhan, apakah Bung Karno seorang komunis?.

Bung Hatta: Amal perbuatan kita bernilai, dilihat dari keikhlasan dan arah dalam berniat. Apakah niat karena Allah atau mengejar dunia. Hadis pertama dari empat puluh hadis Rasul yang dikumpulkan Imam Nawawi, jelas Rasul bersabda bahwa sesungguhnya amalan itu bergantung niatnya.

Syafarudin: izin, Proklamator. Pertanyaan ini serius. Bila membuat sebuah masjid simbolik dan strategis saja dulu diadakan sayembara, kenapa kini Presiden dan pembantunya, tidak membuat sayembara, malah mengkaji sendiri dan memutuskan sendiri ibu kota di Jakarta sebaiknya dipindahkan ke Kalimantan.

Bung Karno: Biarkan saja dulu. Nanti kan mentok sendiri hadapi DPR, MPR, netizen, oposisi, juga kenyataan listrik byar pet Jawa-Bali, kas negara yang minim, dan berharap ada utangan baru.

Bung Hatta: Bila literasi pemimpin sebatas komik, maka literasi pembantunya pun paling sebatas komik pula. Bersabarlah.

Syafarudin: Izin, Proklamator. Mentari sudah meninggi, kita belum duha. Terima kasih dialognya. Insya Allah pekan depan kita dialog lagi. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: BUMDes, E-Desapolitan, dan Industrialisasi Desa (1)

Dr Andi Desfiandi MA | Ketua Bravo 5 Lampung, Ketua Yayasan Alfian Husin SERING mendengar …