OPINI IB ILHAM MALIK: Desain Kota Global untuk Istana Presiden (2-habis)


GRAFIS Joe Chaniago/duajurai.co

BACA OPINI IB ILHAM MALIK: Desain Kota Global untuk Istana Presiden (1)

APA yang saya sampaikan ini menunjukkan bahwa desain pusat pemerintahan baru Republik Indonesia nanti tampaknya tidak boleh disederhanakan prosesnya. Jangan juga sampai ada anggapan bahwa seolah-olah jika sudah didesain oleh konsultan maka sudah bisa langsung dilaksanakan. Harus ada ada diskusi yang intens antara pemerintah dengan berbagai pihak yang memiliki komitmen dan harapan untuk masa depan pusat pemerintahan yang baru itu nanti.

Dan, tentu saja, jangan sampai serta merta mengadopsi apa yang ada di negeri lain. Pasalnya, negara-negara lain membangun pusat pemerintahan yang baru dengan kekuatan atau modal yang mereka miliki sendiri. Kita tidak bisa meniru mereka dan mengadopsi apa yang mereka lakukan semata-mata agar hal itu juga ada di negeri kita.

Indonesia tidak bisa seperti itu. Kita harus bisa memberdayakan seluruh sumber daya yang ada dan menghimpun berbagai macam informasi yang berkaitan dengan lanskap ruang dari Sabang sampai Merauke. Dari masa kerajaan hingga masa modern sekarang ini untuk melihat pola yang pada akhirnya menjadi ciri khas lanskap Indonesia.

Meskipun di sisi lain, harus diakui juga bahwa hingga hari ini kita masih belum memiliki database yang berkaitan dengan lanskap ruang kota di seluruh Indonesia, yang kemudian bisa kita formulasikan bentuk-bentuknya sehingga bisa dibuat kelompok ruang kota. Kalau saja kita memiliki database dan sudah membuat kelompok desainnya, maka bisa dilanjutkan dengan melihat kecenderungan pola bentuk ruang.

Hal ini juga harus dilakukan terhadap ruang kota kerajaan yang kita miliki beberapa ratus tahun lalu. Hal ini untuk melihat lanskap ruang kota kerajaan yang pernah ada.

Semakin baik jika ditambah dengan kampung-kampung tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Semuanya perlu kita himpun untuk mendapatkan suatu pola ruang yang bisa diambil kecenderungan pola ruangnya.

Terus terang saja, hal ini masih belum ada. Karena itu, kita perlu menghimpun berbagai pihak dan banyak elemen untuk bekerjasama melakukan pengumpulan. Hasilnya nanti digunakan sebagai database dalam perencanaan ruang kota baru.

Kita perlu mengelompokkannya dan kemudian melakukan analisis sehingga menemukan pola kecenderungan bentuk ruang yang bisa menjadi ciri khas pola ruang Indonesia. Apa yang dimiliki kota-kota kita selama ini jelas ada intervensi desain dari pola ruang kota-kota lama yang dibentuk oleh pemerintah kolonial.

Padahal, kita memiliki pola ruang sendiri yang memang dibentuk oleh masyarakat tradisional dari Sabang sampai Merauke. Apa yang mereka lakukan itu harus kita hargai dengan menerapkannya kepada kota baru sebagai pusat pemerintahan RI.

Maka, saya berpesan agar pemerintah tidak terkesan terburu-buru merancang kota baru. Kita harus memiliki kebiasaan untuk menyusun rencana kota yang bercirikan keindonesiaan dengan cara mengumpulkan seluruh database pola ruang yang pernah ada dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Setelah ditemukan, pola ruang yang bercirikan Indonesia harus dipadukan dengan perspektif membangun kota yang berwawasan global. Dengan begitu kita bisa meramu suatu pola ruang dan desain kota yang tetap menjaga pola ruang tradisional yang ada, namun secara bersamaan juga bisa diterima atau bahkan disukai oleh masyarakat global.

Untuk melakukannya tidak bisa menggunakan tim kecil. Harus ada tim besar yang meliputi berbagai macam ahli di Indonesia. Jangan sampai nanti pemerintah, atau Kementerian PU mengatakan, ketika desain yang dikerjakan oleh konsultan selesai maka desain itu lah yang diterapkan. Saya berharap tidak seperti itu.

Apa yang akan didesain oleh konsultan harus didiskusikan di berbagai daerah untuk menemukan kritik-kritik desain pada desain yang dibuat. Dengan begitu, kita bisa memiliki desain kota yang bercirikan keindonesiaan, tetapi juga dapat diterima oleh masyarakat global. Bahkan bisa menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia generasi yang akan datang.

Saya tahu, mengerjakan pekerjaan semacam ini tidak mudah dan memang juga tidak murah. Tetapi kita harus belajar dari berbagai negara yang mampu membangun kotanya dengan baik. Di negara-negara itu, kota yang baru dibangun juga tidak serta merta menjadi kota yang baik. Mereka terus menerus mematangkan desain, yang jika sudah diyakini akan mereka laksanakan.

Ada hal lain yang juga ingin saya sampaikan berkaitan desain kota. Ada banyak tulisan di jurnal-jurnal yang menunjukkan bahwa desain kota yang salah dapat menimbulkan kejahatan atau meningkatkan kejahatan secara sosial serta ekonomi kepada warganya.

Kita tentu saja tidak ingin hal tersebut terjadi. Hal yang kita inginkan adalah bagaimana caranya ketika desain nantinya diterapkan sebagai pusat pemerintahan baru, maka etika keindonesiaan dan semangat kegotongroyongan yang menjadi ciri Indonesia dapat berjalan dengan sendirinya.

Prinsip keindonesiaan, prinsip keberagaman, prinsip keberagamaan, serta etika yang baik, yang lemah lembut, serta agamis, harus terbangun dari desain kota yang diwujudkan di lokasi itu nanti. Jngan sampai, desain kota yang dibuat malah membuat kesenjangan semakin meningkat, kebersamaan berubah menjadi perpecahan, dan akhirnya bisa menimbulkan konflik-konflik sebagai efek desain kota yang keliru.

Kita berharap, desain kota yang akan dibangun merupakan desain yang betul-betul menunjukkan keindonesiaan dan kebhinnekaan kita. Sekaligus bisa menjaga marwah indonesia sebagai negara yang memiliki rakyat yang sopan dan agamis.

Jangan lupa, ada banyak agama di negeri ini. Karena itu dibutuhkan banyak jenis tempat ibadah di dalam kota baru. Belum lagi tradisi-tradisi baru yang akan menyerang kota baru nanti.

Yang jelas, tradisi baru tidak boleh menang. Yang boleh menang adalah tradisi kebersamaan, kegotongroyongan, yang harus bisa diolah sedemikian rupa melalui desain kota nanti.

Kita harus bisa mengubah pola hidup masyarakat yang saat ini cenderung hedonis dan meninggalkan ciri khas keindonesiaan. Mereka harus berubah menjadi memiliki dan menerapkan pola hidup serta pola bermasyarakat yang indonesianis melalui desain kota yang diterapkan di pusat pemerintahan baru.

Danm pada akhirnya, nanti kita harus mengucapkan selamat datang di pusat pemerintahan Republik Indonesi. Pusat pemerintahan yang bercirikan keindonesiaan dan menjadi kota global yang dihargai juga disegani dunia.(*/habis)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (11): Indonesia Berduka, Riau Berasap, dan Dilema Lembaga Sampiran Negara

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI ashar …