Begini Tata Cara Pengelolaan Hewan Kurban


CAMAT Telukbetung Selatan Ichwan Adji Wibowo | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Lima hari lagi umat Islam akan merayakan Hari Raya Kurban atau Iduladha 1440 Hijriah. Untuk itu, masyarakat perlu tahu tata cara pengelolaan hewan kurban.

“Terdapat tiga tahapan dalam pengelolaan daging kurban,” kata Ichwan Adji Wibowo, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bandar Lampung, kepada duajurai.co via WhatsApp, beberapa waktu lalu.

Pertama, tahap pra pemotongan. Hewan harus ditempatkan di lokasi yang teduh. Selain itu, hewan juga harus diberi cukup air. Sekitar 12 jam menjelang pemotongan, hewan harus dipuasakan terlebih dahulu. Setelah itu, pemeriksaan kesehatan oleh petugas yang berwenang.

“Tahap berikutnya adalah pemotongan. Tempat pemotongan terpisah secara visual dengan tempat penampungan hewan kurban. Disediakan lubang penampung darah ukuran minimum 50x50x50 cm per ekor sapi,” ujarnya.

Sapi disembelih dileher bagian belakang jakun. Sekitar delapan sentimeter di belakang lengkung rahang bawah dengan memotong putus tenggorokan, kerongkongan, dan dua arteri carotis. Penyempurnaan pemotongan dilakukan sesudah hewan benar-benar mati otak. Hal itu ditandai dengan hilangnya refleks pupil dan kelopak mata.

“Tahap terakhir adalah penanganan daging kurban. Penanganan daging kurban hendaknya menggunakan prinsip tiga bersih, yaitu bersih petugas, bersih sarana, dan bersih proses-hasil kerja,” kata dia.

Camat Telukbetung Selatan itu melanjutkan, bersih petugas adalah petugas penanganan harus sehat dan tidak sedang luka. Selain itu, tubuh petugas mesti bersih. Kemudian, bersih sarana adalah pengelolaan menggunakan alat yang bersih. Pisau untuk bagian dalam (jeroan) tidak boleh untuk memotong daging.

Sedangkan bersih proses-hasil kerja adalah petugas tidak merokok dan tidak bercakap-cakap saat menangani daging. Kemudian, cuci tangan dengan sabun setiap dari toilet, batuk/bersin tidak dihadapkan ke arah daging, dan menjaga kebersihan terpal/lantai tempat daging.

“Dilakukan pemeriksaan pascamerta, terutama terhadap paru-paru, hati, limpa dan usus. Bagian yang berpenyakit/tidak layak konsumsi disingkirkan,” ujar Ichwan.

Penanganan daging/tulang terpisah dari penanganan jeroan. Jeroan merah ditangani terpisah dari jeroan hijau. Jeroan hijau dibersihkan dengan air bersih mengalir, bukan dicuci di sungai.

“Daging dikemas dalam plastik bersih transparan. Jeroan dikemas terpisah dari daging. Jika tidak disimpan di lemari pendingin atau dibiarkan dalam suhu ruang, maka daging harus segera diolah/dimasak paling lama enam jam,” kata dia.(*)

Laporan Umar Robani


Komentar

Komentar

Check Also

Nunik Sidak Kapal Asing di Keramba Jaring Apung Pulau Siuncal

PESAWARAN, duajurai.co – Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim didampingi Penjabat (Pj) Sekretaris Provinsi (Sekprov) Lampung …