DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (5): Rencana Impor Rektor dan Dosen Asing


MENTERI Riset dan PendidikanTinggi M Nasir | ristekdikti.go.id

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

PAGI itu suasana masih sepi. Udara sejuk. Sinar mentari perlahan menerobos daun ranting pepohonan dekat sebuah gazebo kampus tua di kawasan Dago, Bandung. Kami bertiga (Syafarudin, Bung Karno, dan Bung Hatta) duduk di bangku semen berhadapan sambil menatap sebuah patung batu Ganesha yang tampak kusam.

Syafarudin: Alhamdulillah masih terasa sejuk pagi ini. Izin, Pak Proklamator, sejarah mencatat Bung Karno memasuki kota Bandung ini akhir Juni 1921. Bung pasti gagah karena baru berusia 20 tahun pada tanggal 6 Juni.

Kenapa Bung menilai kota Bandung merupakan pintu gerbang ke dunia putih layaknya kota Princeton? Ini berbeda ketika Bung menilai kota Mojekerto sebagai kesedihan di masa muda, dan kota Surabaya sebagai “dapur nasionalisme”.

Bung Karno: Kota-kota itu dan kota ini adalah fase, tempat, lingkungan bagi pembentukan wawasan, karakter, dan jati diriku. Kampus ini, technische hoogeschool, pribumi menyebutnya sekolah teknik tinggi. Aku kuliah di bidang keilmuan teknik sipil bersama sebelas orang pribumi, sedangkan yang lain mahasiswa bule, peranakan londo. By the way, apa yang ingin Bung dialogkan pekan ini? (Bung Karno bertanya sambil menatapku dalam)

Bung Hatta: (menyela) Tadi sambil menunggu Bung Karno datang, Syafarudin cerita sekilas bahwa Menristekdikti (Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi) sekarang berencana mengimpor rektor dan dosen asing. Lanjutkan ceritanya Bung yang mengutip detiknews.com.

Syafarudin: Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan bahwa Presiden Jokowi setuju dengan usulan “impor” rektor asing. Lampu hijau sudah diberikan, tinggal persiapan saja agar bisa dilaksanakan tahun 2020.

Nasir mengatakan, banyak hal yang harus dipersiapkan mengingat gagasan yang dilontarkan awal 2016 ini banyak mendapat penolakan calon rektor, civitas akademika, dan netizen. Persiapan itu seperti revisi regulasi, juga memetakan universitas negeri atau swasta mana yang akan menerapkannya. Indonesia memiliki sekitar 4.700 perguruan tinggi. Kita ambil dua atau lima kampus percontohan selama 2020-2024.

Nasir menjelaskan, beberapa kampus di negara lain sudah mempercayakan pemimpin kampusnya dari luar negeri. Hal itu terbukti mendongkrak peringkat akademik universitas tersebut di tingkat dunia.

Nasir berharap hal sama, kampus di Indonesia yang dipimpin rektor dari luar negeri, peringkat akademiknya meningkat di tataran dunia. Bagaimana Proklamator melihat rencana dan gagasan ini?

Bung Hatta: Ayo kita sama-sama kembali membaca dokumen administrasi yang memuat visi-misi pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai sebuah janji yang dipidatokan di hadapan 200 juta lebih rakyat Nusantara. Lalu kita lihat lagi apa agenda dan kebutuhan mendesak nasional menjelang pelantikan Presiden Jokowi periode kedua pada Oktober 2019.

Apakah agenda reshuffle kabinet, stabilitas ekonomi, pemindahan pusat pemerintahan ke luar Jawa, mencari utang baru untuk APBN 2020, memadamkan titik-titik api di Sumatera dan Kalimantan, mengatasi dampak erupsi Gunung Tangkuban Perahu, menyambut Idul Adha, perayaan Kemerdekaan 17 Agustus, ataukah menyusun kabinet baru periode ke-2?

Bung Karno: Ampuun aku Bung Hatta. Pertanyaan dan narasimu itu amat beruntun. Sesak napasku. Jangan tanyakan semua kepadaku dulu, mohon Bung Syafarudin yang pilah dan jawab.

Syafarudin: Saya paham maksudnya. Lihatlah orang dari perkataan, tulisan, sebagai janji dan komparasikan dengan perbuatannya kelak. Apakah koheren, satu kesatuan, atau biasa distorsi. Lalu lihat bagaimana sense of crisis dan skala prioritas dan keputusan seorang pemimpin.

Let’s we check and see. Visi pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin yang dibacakan dalam debat kampanye April 2019 adalah Terwujudnya Indonesia Maju, Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Bberlandaskan Gotong Royong. Sedangkan pidato kemenangan Jokowi di Sentul, 14 Juli 2019, berjudul Visi untuk Pembangunan Indonesia Periode Kedua, yakni Melanjutkan Pembangunan Infrastruktur, Pembangunan Sumberdaya Manusia, Investasi, Reformasi Birokrasi, dan Efektifitas serta Efisiensi Aalokasi dan Penggunaan APBN.

Dalam pidatonya, Jokowi menyampaikan, kita harus menyadari bahwa kita hidup dalam lingkungan global yang dinamis. Penuh perubahan, penuh kecepatan, penuh kompleksitas, dan penuh kejutan, yang sering jauh dari kalkulasi kita. Oleh sebab itu, kita harus mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru, dalam mencari solusi dari setiap masalah dengan inovasi-inovasi. Kita semua harus mau, dan akan kita paksa untuk mau.

Jokowi mengatakan, kita harus meninggalkan cara-cara lama, pola lama, baik dalam mengelola organisasi, lembaga, atau mengelola pemerintahan. Yang sudah tidak efektif kita buat lebih efektif. Yang tidak efisien kita buat lebih efisien.

Bung Hatta: Bila kita cermati seksama isi pidato tersebut, tampaklah penyusun naskah-naskah pidato calon presiden atau presiden belum dilantik itu orang yang berbeda. Lain saat kampanye, dan lain saat pidato kemenangan periode kedua. Atau mungkin juga orang atau tim yang sama, tetapi suasana yang berbeda, terlena dengan kemenangan semu.

Bung Karno: Bung Hatta selaku administratur selalu jeli melihat blind spots. Tapi kami insinyur sipil Ganesha mudah juga mendeteksinya, tatkala bentuk pondasi bangunan, tiang rangka dan atapnya terlihat sungsang, atau tidak klop. Terasa ada kontradiksi interminis dan membuat petugas partai itu tercitrakan split mentality. Sebaiknya istirahatkan segera ghost writer tua yang ceroboh itu.

Dalam visi Jokowi dinyatakan bahwa terwujudnya Indonesia maju, berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Soekarno dulu menyebutnya cukup dua kata: Indonesia Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri.

Berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong itu nilai dan pola-pola lama yang aku terapkan selaku pemimpin besar revolusi era Demokrasi Terpimpin. Bung Hatta menyebut gotong royong itu dengan istilah kooperasi.

Pola dan nilai lama diadopsi selaku visi atau arah kiblat, tapi dalam penutup pidato, pola-pola lama itu mau digusur dan ditinggalkan. Ini keblinger.Akhirnya para pembantu Presiden ikut beri usulan keblinger.

Bila Menristekdikti beri usul impor rektor dan dosen asing, maka Menteri Tenaga Kerja usul impor tenaga kerja asing bidang infrastruktur dan bidang teknik lainnya. Seolah para lulusan dan jurusan yang ada tidak relevan lagi. Baik jurusan yang ada di ITB, ITS, atay Itera di Sumatera.

Bung Hatta: Saya prihatin. Sebagian elite dan anak bangsa Nusantara ini ingatannya pendek. Literasi sebatas komik Sinchan. Motivasinya pun rendah.

Padahal kalau baca seksama riwayat karier dan pemikiran Soedjatmoko Mangoendiningrat, insya Alloh generasi milineal akan termotivasi. Pria kelahiran Sawah Lunto, Sumatera Barat, 10 januari 1922 ini adalah kakak Prof Miriam Budiardjo, guru besar Ilmu Politik UI.

Adik ipar Sutan Syahrir ini adalah pengkritik cerdas pemerintahan Bung Karno. Untuk menghindari pencekalan, Soedjatmoko pergi ke luar negeri dan bekerja sebagai dosen di Universitas Cornell di Itacha, New York, AS, selama dua tahun. Peraih penghargaan Ramon Magsaysay bidang hubungan internasional ini belakangan malah diangkat sebagsi Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Tokyo, Jepang, tahun 1980.

Bung Karno: Pesanku bagi civitas akademika, tetaplah kalian kritis, inovatif dan peduli. Produksilah wacana dan gagasan yang memotivasi, bukan melemahkan mental anak bangsa untuk bersaing. Khusus untuk Lampung, jangan kalian latah ikutan impor kopi, dan gula rafinasi, ya.

Syafarudin:
Insya Allah yang baca dialog ini akan menyampaikan pesan-pesan Proklamator. Oh My God, mentari sudah meninggi, kita belum duha. Saya permisi pulang duluan. Terima kasih dialognya. Mohon maaf bila ada yang keliru. Insya Alloh pekan depan kita dialog lagi. Wassalamualaikum warrahmatullohi wabarakatuh.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (11): Indonesia Berduka, Riau Berasap, dan Dilema Lembaga Sampiran Negara

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI ashar …