Workshop TKT Itera Dorong Dosen-Peneliti Hasilkan Riset Aplikatif


WORKSHOP Uji Kasus Perhitungan Tingkat Kesiapterapan Teknologi di Itera, Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan, Kamis, 1/8/2019. | Humas Itera

JATIAGUNG, duajurai.co – Dosen dan peneliti didorong mampu menghasilkan riset yang aplikatif atau dapat diterapkan, baik di tingkat industri hingga masyarakat umum. Untuk itu, setiap penelitian yang dilakukan melalui uji Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT), seperti yang saat ini diterapkan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristek-Dikti).

Guna mendorong hal tersebut, Kementerian Ristek-Dikti melalui program Riset Pro bekerja sama dengan Institut Teknologi Sumatera (Itera) menggelar Workshop Uji Kasus Perhitungan Tingkat Kesiapterapan Teknologi. Workshop berlangsung di kampus Itera, Kecamatan Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan, Kamis, 1/8/2019.

“Melalui kegiatan ini, kami mengharapkan sinergi antara lembaga untuk bisa memahami dan menerapkan uji TKT dengan maksimal,” kata Bagus Setiawan, Kepala Seksi Pendidikan Luar Negeri Direktorat Kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) Kementerian Ristek-Dikti, melalui rilis dari Humas Itera, kemarin.

Direktur Itera International Office (IIO) Acep Purqon mengatakan, workshop penting untuk mengetahui sejauh mana kesiapan teknologi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian di bawah Kementerian Ristek-Dikti di Lampung. Terlebih, Lampung memiliki SDM Iptek yang banyak di perguruan tinggi dan lembaga lain.

“Sebagai bagian dari perkembangan teknologi global, kami harus tahu bagaimana cara mengukur kesiapan teknologi yang dihasilkan,” ujarnya.

Dalam sesi materi, pemateri utama Dedi Suhendri menyatakan, sebuah penelitian harus memiliki nilai inovasi, termasuk dapat dimanfaatkan secara langsung dan mampu memenuhi konsep hilirisasi dan komersialisasi. Sebab, tidak semua penelitian baik yang dilakukan perguruan tinggi atau lembaga penelitian dapat diaplikasikan. Bahkan, hanya sekitar 10% dari total riset yang memiliki nilai ekonomi, dan sekitar 22% yang dapat dimanfaatkan oleh pasar.

Menurutnya, TKT adalah kondisi kematangan atau kesiapterapan hasil penelitian dan pengembangan teknologi tertentu yang diukur secara sistematis. Tujuannya, dapat diadopsi oleh pengguna, baik oleh pemerintah, industri hingga masyarakat. TKT menjadi ukuran yang menunjukkan tingkat kesiapan teknologi untuk diaplikasikan yang diklasifikasikan lewat skala 1 sampai 9.

“Dengan dilakukan pengukuran atau uji TKT, sebuah riset dapat ditawarkan untuk dikerjasamakan dengan pihak industri. Sehingga, hasil penelitian bisa dipasarkan dan banyak potensi lain yang bisa dikembangkan,” kata dia.

Dedi menambahkan, sebuah riset yang hanya konsep di atas kertas memiliki risiko gagal yang tinggi. Sehingga, perlu pengujian untuk memastikan riset tersebut layak diterapkan, dan dapat diketahui kendala yang dihadapi saat diterapkan.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Pindah Tugas, Mantan Sekda Lamsel Fredy Jadi Kepala Bappeda Lampung

KALIANDA, duajurai.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan (Lamsel) mengadakan acara pelepasan mantan Sekretaris Daerah …