DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (4): BELAJAR SILATURAHMI, MEMERINTAH, DAN MENGAWASI


MEGAWATI Soekarnoputri dan Prabowo Subianto | tirto

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

SORE ITU, udara sejuk, langit terang di teras halaman belakang sebuah bangunan bersejarah. Kami bertiga: saya, Bung Karno dan Bung Hatta, duduk di sofa sambil menatap serombongan rusa yang sedang asyik bercengkrama dan merumput.

Syafarudin: Indah sekali sore ini. Izin Pak Proklamator, saat dulu Bapak menempati kantor ini, rusa liar yang jantan ada 9 ekor dan betina 48 ekor. Bapak membuat komposisi itu dengan sebuah alasan rahasia. Cindy Adams yang kepo bingung ketika Anda mengatakan bahwa binatang pun poligami (saya menatap Bung Karno). Betulkah begitu? Lalu, dari hasil poligami itu tahukah Bapak berapa jumlah rusa-rusa ini sekarang?

Bung Karno: (Sambil mesem tersenyum) I remember Cindy Adams. She’s smart reporter, pretty, agresif…like Najwa Sihab now. Aku bersyukur dia bantu dokumentasikan pemikiranku. Lalu berapa jumlah rusa ini sekarang? Aku pun perlu tanya balik kepada Bung.

Syafarudin: Karena bebas berpoligami dan tidak ada lagi program KB seperti zaman orde baru, ya sekarang jumlah rusanya banyak, tak terhitung.

Bung Hatta: Bisaan saja kalian berdua ngelesnya (Bung Hatta mengedipkan sebelah matanya kepadaku lalu tertawa lepas bersama Bung Karno).

Bung Karno: Stop bahas rusa-rusa dan poligami. Ampuun saya. Apa yang ingin Bung dialogkan pekan ini? (Bung Karno menatapku sambil senyum)

Syafarudin: Begini Proklamator, netizen dan masyarakat lagi sibuk membincangkan dua silaturahmi politik di kawasan Teuku Umar dan Gondangdia, Jakarta. Megawati dan Prabowo ceria sambil makan nasi goreng, sementara Surya Paloh dan Anies Baswedan makan siang. Sebelumnya, Surya Paloh bertemu pemimpin parpol koalisi pendukung Jokowi. Bagaimana Proklamator melihat elite politik tebar pesona silaturahmi ini.

Bung Hatta: Bagus sekali. Mungkin mereka yang muslim mulai belajar mempraktikkan pesan khatib Jumat tentang manfaat menjalin silaturahmi dan bahaya memutuskan silaturahmi.

Syafarudin: Apa saja manfaat dan bahayanya?

Bung Hatta: Bahaya memutus silaturahmi.. Pertama, dilaknat oleh Allah SWT. “Jika kamu berkuasa akan membuat kerusakaan di bumi dan memutus silaturahmi, mereka itu lah orang-orang yang yang dilaknat Allah, ditulikan telinga mereka, dan dibutakan mata mereka (QS Muhammad: 22-23).

Kedua, mendapatkan siksa dunia dan akhirat. Sebuah hadis menyebutkan, ”Tidak ada dosa yang Allah SWT lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat, selain berbuat zalim dan memutus silaturahmi.” (HR Tirmidzi)

Masih banyak bahaya lain. Sedangkan manfaat silaturahmi juga banyak. Yang utama, mempererat persaudaraan, menghindari sikap sombong, dan egois. Kedua, diluaskan rezekinya dan diperpanjang usianya. Ketiga, bentuk ketakwaan kepada Allah.

Bung Karno: Saya sependapat dengan Bung Hatta. Silaturahmi-silaturahmi politik itu bagus, menciptakan keteladanan baik di tengah masyarakat. Silaturahmi membawa berkah bagi kedatangan rezeki politik dan memperpanjang usia politik.

Syafarudin: Izin, Bung Karno. Mendatangkan rezeki politik dan memperpanjang usia politik itu, menurut saya bisa diraih sangat tergantung sudut pandang dan niat. Bila menyimpan niat buruk dan sudut pandangnya negatif SMOS (susah melihat orang lain senang) silaturahmi, maka rezeki politik dan panjang usia politik tak akan diperoleh. Bila memiliki niat baik dan sudut pandangnya positif SMOS (senang melihat orang lain senang) silaturahmi, maka rezeki politik dan panjang usia politik insha Allah akan diperoleh.

Bung Karno: Apa ada politisi yang susah melihat orang lain senang silaturahmi?

Bung Hatta: Ada lah, Bung. Bumi itu bukan surga. Penghuni bumi itu manusia-manusia yang kadang dibisiki setan dan kadang ingat suara azan. Mereka ada yang khawatir dengan kemesraan Megawati-Prabowo-Jokowi. Power sharing di kabinet dan di parlemen nanti mungkin tidak seperti kalkulasi mereka pada awal. Makanya, mereka buat silaturahmi tandingan mengelus pengganti Jokowi kelak pada 2024.

Bung Karno: Aku melihat putriku sekarang mulai cerdas politik dan realistis. Dia kembali mengingatkan kita semua bahwa konstiusi Republik Indonesia dari awal sampai amandemen ke empat sekarang, tidak mengenal istilah koalisi dan oposisi. Kita menganut sistem presidensial, bukan parlementer.

Dalam sistem presidensial yang executive heavy , bandul kekuasaan lebih berat ke arah presiden. Meski demikian ada check and balances, sehingga ada yang memerintah (eksekutif, presiden, pembantu presiden) dan ada mitra DPR yang berfungsi mengawasi, bersama menyusun regulasi, anggaran, dan jaring aspirasi. Bung bisa lihat kecerdasan politik dan sikap realistis pimpinan partai moncong putih itu? (Bung Karno menatap saya dalam-dalam)

Syafarudin: Ya, dalam arena low politics, dia sedang membuat strategi tandingan dan bayangan politik sehingga remote politik masih dalam pangkuannya. Minimal untuk lima tahun ini dan bisa lima tahun selanjutnya.

Bung Hatta: Bisa Bung jelaskan agak lebih detail?

Syafarudin: Begini. Jokowi selaku Presiden adalah petugas partai. Meski sering konsultasi ke Jalan Teuku Umar, tapi di sekelilingnya banyak benalu seperti mantan jenderal, pimpinan parpol yang mendikte dan diam-diam mengambil keuntungan ekonomi politik dari keputusan Presiden selama ini.

Di sisi lain, KPK yang independen dalam penindakan, sejauh ini sudah pernah tercatat menyentuh menteri dan pimpinan parpol. Mega tidak ingin ada keserakahan ekonomi para pembantu presiden di kabinet yang bisa membuat jebakan OTT bagi Presiden.

Prabowo adalah sahabat dalam duka. Sama-sama dua kali calon presiden yang kandas. Prabowo dan Gerindra termasuk network-nya yang satu visi, bisa dipercaya atau dijadikan mitra strategis bagi Megawati dalam menata kabinet, dewan, dan majelis demi kelanjutan pembangunan Indonesia mendatang.

Bung Karno: Masuk akal. CLBK sesama nasionalis, patriot, memiliki kesamaan visi empat pilar: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI harga mati. Belum lagi program pembangunan yang ditawarkan Prabowo: kemandirian ekonomi, budaya, dan pertahanan; serta program ketahanan pangan, ketahanan energi, itu semua sejalan dengan cita-cita Trisakti-ku.

Bung Hatta: Semoga putrimu bisa belajar kembali silaturahmi dengan Pak SBY, HRS, ulama, dan para pihak yang berseberangan. Hal itu penting karena usia berdemokrasi dan berbangsa republik Nusantara ini baru mendekati 74 tahun. Beda dengan Amerika yang sudah belajar berdemokrasi lebih empat abad. Semoga silaturahmi elite ini mengokohkan persatuan Indonesia. Aamiin.

Syafarudin: Izin Proklamator, langit mulai redup, suara azan bersautan di masjid. Saya permisi pulang. Terima kasih dialognya. Mohon maaf bila ada yang keliru. Insha Allah pekan depan dialog lagi. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (11): Indonesia Berduka, Riau Berasap, dan Dilema Lembaga Sampiran Negara

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI ashar …