OPINI IB ILHAM MALIK: Tantangan Bandar Lampung dan Kriteria Wali Kota Masa Depan (2-habis)


GRAFIS joe chaniago/duajurai.co

IB ILHAM MALIK | Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota di Magister Teknik Universitas Bandar Lampung (MT-UBL)

BACA OPINI IB ILHAM MALIK: Tantangan Bandar Lampung dan Kriteria Wali Kota Masa Depan (1)

BANDAR LAMPUNG merupakan salah satu kota besar di Indonesia. Kita juga sangat berharap kota ini bisa terdeteksi dan menjadi pusat perhatian kota-kota lain, bahkan kalau bisa masuk dalam radar perhatian warga dunia.

Kita bisa melihat begitu banyak kota di negara lain yang menjadi pusat perhatian warga dunia ketika wali kota yang memimpinnya mampu mengoptimalkan sumber daya yang mereka miliki untuk membenahi kotanya dengan baik. Ketika kota terbentuk dengan baik atau berproses untuk terbentuk menjadi baik, maka kota-kota di seluruh dunia akan melihat dan mencoba untuk belajar dengan kota tersebut.

Logika ini sudah dilakukan oleh Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Ketika wali kotanya melakukan proses untuk memperbaiki kota, mereka eksplorasi, lalu mereka kabarkan kepada warga kota di seluruh dunia, maka dengan sendirinya mereka menjadi bagian dari kota-kota yang diperbincangkan oleh warga kota dunia. Solusi-solusi untuk menyelesaikan masalah perkotaan pun menjadi viral, bahkan dibantu pemikiran-penyelesaiannya oleh warga kota dunia.

Sebenarnya, Bandar Lampung merupakan bagian dari kota-kota dunia. Karena itu, kota ini harus dipimpin oleh figur yang tidak hanya berkutat kepada interaksi dengan warganya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan komunitas yang lebih besar dari kotanya sendiri.

Kota ini harus bisa berinteraksi dengan kawasan di sekitarnya yang sering disebut sebagai Balamekasupringtata. Ia harus juga bisa berinteraksi dengan kota-kota lain di Jawa dan pulau-pulau lainnya, serta aktif dalam pergaulan kota-kota dunia.

Ada begitu banyak acara yang diselenggarakan oleh kumpulan wali kota dunia yang bisa diikuti oleh Wali Kota Bandar Lampung mendatang. Dan, menurut saya ini bukan sebuah hal yang berlebihan. Kita akan menganggapnya berlebihan ketika memiliki rasa rendah diri dengan kondisi kota ini.

Padahal, secara geografis kota kita memiliki lokasi dan kondisi yang sangat menarik. Tinggal mengolah seluruh sumber daya yang dimiliki dan melakukan pembenahan di sana-sini, maka Bandar Lampung akan menjadi sebuah kota yang tidak kalah dengan kota-kota di negara lain.

Masalahnya adalah kita memiliki keterbatasan dalam hal kemampuan wali kota untuk melihat positioning Bandar Lampung sebagai bagian dari kota dunia itu tadi.

Saya menyebutkan dan selalu mengulang ulang tentang kota-kota di dunia dan menjadikan Bandar Lampung sebagai bagian dari kota-kota tersebut dalam rangka meyakinkan bahwa kita memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi kota yang maju, modern, menarik, serta memberikan rasa aman dan nyaman kepada warga kotanya.

Ketika kita sudah mampu untuk melakukan hal tersebut, itu berarti kita sudah menjadi bagian dari kota-kota dunia. Karena kota-kota di manapun telah berupaya untuk memaksimalkan seluruh sumber daya yang mereka miliki untuk menjadikan kotanya sebagai kota yang aman dan nyaman.

Tidak ada pasar tradisional yang becek kumuh dan berbau. Tidak ada angkutan umum yang tidak nyaman. Semuanya nyaman dan mampu mengangkut penumpang dalam jumlah yang banyak. Mereka memiliki monorel, subway, busway, jalur pejalan kaki, dan jalur sepeda.

Mereka memiliki sistem air bersih yang bisa diminum langsung oleh warganya. Seluruh warga terakses oleh sistem air bersih dan air minum tersebut. Tidak ada yang bergantung dengan galon.

Masalah persampahan pun tidak lagi ada karena semuanya terangkut, juga ada kesadaran masyarakatnya untuk mengelompokkan jenis sampah organik dan anorganik. Seluruh sampah dikumpulkan oleh pengelola sampah dan dimanfaatkan untuk menjadi barang lain yang memberikan manfaat, bukan menjadi sampah yang harus ditimbun.

Setiap kelurahan dan kecamatan memiliki taman kelurahan dan taman kecamatan yang bisa menjadi tempat berinteraksi bagi warga kota di sekitar taman itu sendiri. Secara bersamaan, tentu saja kota memiliki taman yang besar, yang kalau dianalogikan dengan ukuran Kota Bandar Lampung maka taman kota itu setidaknya memiliki luas lebih dari 25 hektare. Sementara taman Kecamatan memiliki luasan kurang lebih 2-3 hektare, serta taman Kelurahan mencapai 1 hektare.

Kita punya lahannya, tetapi kita tidak menjadikan lahan tersebut sebagai bagian dari upaya untuk menyediakan ruang publik. Tentu saja pada beberapa kasus, lahan tersebut harus dibeli dari masyarakat. Ini merupakan bagian dari upaya untuk memberikan rasa nyaman kepada warga kota.

Tidak ada juga sungai-sungai seperti saat ini, karena seharusnya setiap sungai di Bandar Lampung harus bersih, jernih, dan menjadi objek wisata bagi warga sekitarnya.

Hari ini kita belum memiliki kota seperti itu. Hari ini kita masih merasakan situasi seperti kota-kota terbelakang di negara lain yang juga menghadapi masalah kemiskinan dan keterbelakangan dalam berbagai hal.

Padahal, secara geografis kita memiliki potensi untuk menjadi kota yang sangat maju dan menarik bagi warga dunia. Tapi, bagaimana kita bisa membayangkan masuk dalam radar kota-kota dunia jika masalah drainase tidak terselesaikan, masalah sampah terjadi di mana-mana, angkutan umum tidak kunjung terintegrasi, pencemaran udara terus terjadi karena kota ini begitu dekatnya dengan kawasan industri.

Pelabuhan masih kumuh atau paling tidak berkontribusi kepada kekumuhan kota. Pasar-pasar tradisional tidak tertata dengan baik dan ketika ditata malah membuat pedagang asli tergusur dan muncul pedagang-pedagang tanpa punya sejarah dengan pasar tersebut. Dan masih banyak masalah lainnya.

Nah, kita tentu menginginkan calon wali kota mendatang memiliki kesadaran terkait kondisi kota dan bisa melakukan formulasi terkait apa yang harus dilakukan demi menjadikan kota ini sebagai kota yang menarik sekaligus memberikan kesejahteraan kepada warganya.

Ketika kita memilih wali kota yang layak untuk memimpin kota ini, maka kita harus menggunakan perspektif tentang masa depan kota yang lebih baik. Kita tentu harus memiliki keinginan agar kota ini dipimpin oleh wali kota yang memiliki kemampuan serta komitmen untuk membenahi kota.

Tentu saja wali kota tersebut juga harus memiliki pengetahuan yang memadai soal kota ini, juga tentang interaksi antara aktivitas di dalam kota. Dengan begitu dia bisa merekayasanya menjadi sumber daya yang bisa dioptimalkan demi sejahterakan masyarakat Bandar Lampung.

Tantangan terberat berada di setiap partai politik di kota ini. Partai-partai dapat mengidentifikasi siapa yang layak menjadi kepala daerah di kota ini. Setiap partai harus melakukan identifikasi mengenai tantangan kota dan melakukan formulasi terkait karakteristik calon wali kota yang layak menjadi pemimpin masa depan.

Sementara itu, warga juga harus memiliki kesadaran soal masa depan kota dan memperkirakan jenis wali kota seperti apa yang layak untuk dipilih agar Bandar Lampung menjadi kota yang semakin baik dan tidak begini-begini saja.

Kota ini memiliki segudang potensi yang belum dikembangkan. Sementara segudang masalah terus menimpa keseharian warga kota. Siapakah calon wali kota yang diberkahi oleh Allah untuk menjadi pemimpin bagi kota ini di masa akan datang? Kita akan melihatnya setelah hari pencoblosan itu tiba.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (11): Indonesia Berduka, Riau Berasap, dan Dilema Lembaga Sampiran Negara

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI ashar …