OPINI IB ILHAM MALIK: Tantangan Bandar Lampung dan Kriteria Wali Kota Masa Depan (1)


GRAFIS joe chaniago/duajurai.co

IB ILHAM MALIK | Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota di Magister Teknik Universitas Bandar Lampung (MT-UBL)

PEMILIHAN Wali Kota Bandar Lampung tahun 2020 semakin dekat. Begitu banyak sosok yang muncul dan memiliki keinginan menjadi kepala daerah di kota ini.

Tentu saja keinginan mereka untuk menjadi kepala daerah patut kita apresiasi dan hargai, karena bagaimanapun untuk menjadi kepala daerah dibutuhkan investasi yang tidak sedikit dalam berbagai hal. Mereka pun harus mengeluarkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menjadi calon hingga kemudian bisa terpilih sebagai wali kota untuk menggantikan Herman HN, wali kota saat ini.

Keinginan mereka juga perlu kita lihat dari sisi kebutuhan Bandar Lampung di masa yang akan datang. Kita perlu melakukan evaluasi terkait kondisi kota ini dan kemudian mempertimbangkan kepala daerah seperti apa yang kira-kira layak untuk memenuhi kebutuhan kepemimpinan Kota Bandar Lampung masa depan.

Tanpa parameter terkait jenis kepala daerah yang dibutuhkan oleh kota ini, kita akan cenderung untuk memilih secara emosional tanpa melihat kebutuhan kota terkait kepemimpinan, juga terkait ide-ide untuk membangun kota yang lebih baik.

Seperti yang kita tahu, Bandar Lampung saat ini semakin berkembang dari sisi kependudukan dan kegiatan. Jumlah penduduknya saat ini mencapai 1 juta jiwa lebih. Kota ini pun menjadi kota inti dari beberapa pusat kegiatan ekonomi dan permukiman di sekitarnya.

Beberapa kabupaten di sekitar Bandar Lampung menjadikan kota ini sebagai kota inti, sementara mereka sebagai kota satelitnya. Hal ini bisa dilihat dari padatnya lalu lintas pada pagi dan sore hari antara Bandar Lampung dengan daerah lain seperti Gedongtataan, Pringsewu, Metro, Kalianda, juga mungkin Bandarjaya dan Sukadana.

Interaksi antara Bandar Lampung dengan kabupaten sekitarnya perlu dilihat sebagai sebuah interaksi yang saling melengkapi satu sama lain. Kondisi ini tentu saja seharusnya mempengaruhi pola kebijakan pembangunan.

Bandar Lampung harus betul-betul memberikan pelayanan kepada dirinya sendiri serta kawasan sekitarnya. Dengan begitu, kota ini memberikan manfaat dan menjadi berkah bagi kawasan sekitarnya.

Kalau ingin menjadi berkah, maka Bandar Lampung harus membangun dirinya semaksimal mungkin dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk meningkatkan kesejahteraan warganya, meningkatkan rasa aman dan nyaman warganya, yang kemudian menjalar ke warga lain di sekitar kota ini.

Untuk membangun kota yang menarik dan nyaman memang membutuhkan pemikiran yang sangat dalam. Karena bagaimanapun, kota kita saat ini sangat kompleks permasalahannya. Untuk itu harus bisa ditemukan langkah awal apa yang harus dilakukan untuk menjadikan Bandar Lampung sebagai kota yang aman, nyaman, dan menarik dari sudut pandang apa pun.

Bandar Lampung memiliki masalah dalam hal transportasi, tata ruang, pengelolaan lingkungan, kesenjangan kaya dan miskin, ketimpangan dalam kemudahan mobilitas, serta aneka masalah lainnya yang masih membutuhkan pembenahan di sana-sini. Keragaman atau kompleksitas masalah ini harus diramu dan dirancang agar dapat menjadi satu hal yang baik di masa mendatang.

Kondisi baik ini tentu saja kondisi yang baik di mata masyarakat dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Jika masyarakat sudah merasa aman, nyaman, sangat bangga, serta bahagia tinggal di kota ini, maka dengan sendirinya investor akan datang. Jika investasi banyak, kesejahteraan masyarakat juga akan semakin meningkat, meskipun di sisi lain urbanisasi juga bakal mengalami peningkatan.

Para calon wali kota harus bisa membedah masalah Bandar Lampung satu persatu. Tentu saja dalam tulisan ini saya tidak akan melakukan hal tersebut mengingat keterbatasan ruang dan waktu, yang membuat kita tidak bisa berdiskusi secara detail terkait langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah kota.

Tetapi, para calon harus memiliki kedalaman pemikiran terkait cara menyelesaikan masalah perkotaan di Bandar Lampung. Apalagi, mereka memiliki batasan waktu yaitu lima tahun menjadi kepala daerah. Juga ada batasan pembiayaan yang sudah tertuang dalam APBD, meskipun ada peluang untuk mendapatkan pembiayaan dari berbagai sumber lainnya.

Jika mereka sudah memiliki kedalaman dan pemahaman persoalan kota kita, juga kesadaran terkait keterbatasan ruang dan pembiayaan, maka mereka akan memiliki formulasi untuk menyelesaikan masalahnya.

Para calon ini tentu saja akan memiliki tim kerja guna memenangkan kampanye. Tetapi saya sangat berharap agar tim tersebut tidak melulu hanya tim politik yang bisa saja membuat masyarakat terlena dan memilih mereka, namun di sisi lain justru miskin muatan penyelesaian masalah perkotaan.(*/bersambung)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (11): Indonesia Berduka, Riau Berasap, dan Dilema Lembaga Sampiran Negara

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI ashar …