DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (3): Silaturahmi Usai Pilpres 2019


Soekarno-Hatta | ist

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

SEUSAI salat subuh di masjid, saya menyusuri jalan setapak menuju sebuah tenda tempat kami berjanji untuk bertemu kembali. Tenda itu berdiri sendirian di sebuah lapangan rumput nan luas. Ukurannya cukup besar, berwarna putih mewah diterpa tempias lampu benderang. Udara sejuk berembus di sekitarnya.

Assalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh..” salam sapa saya setiba di depan kain berbentuk pintu terbuka.

Waalaikumsalam warahmatullohi wabarakatuh. Silakan masuk, Bung…” terdengar suara khas bariton menjawab dari dalam.

Sya masuk. Kedua Proklamator gagah berkaca mata dan kopiah hitam tampak duduk santai di sofa lebar beralaskan permadani. Mereka berpakaian putih terang ala baju koko jemaah haji. Tercium pengharum ruangan beraroma khas lavender.

Syafarudin: Izin Pak Proklamator, mengganggu sejenak, mau melanjutkan dialog. Seusai Pilpres 2019 terjadi pertemuan dua kontestan di stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta. Pertemuan itu ramai ditafsirkan dan dikomentari beragam oleh para netizen dan masyarakat luas, termasuk kalangan ulama. Bagaimana Bapak membaca ini? Tapi sebelum itu, bagaimana evaluasi terhadap penyelenggaraan Pilpres 2019 ini?”

Bung Karno: Pertanyaan soal evaluasi mungkin Pak Hatta yang administratur bisa bantu mengurainya lebih cermat.

Bung Hatta: Pemilu pertama pada zaman kami tahun 1955, itu pemilu legislatif dengan agenda tunggal, dinilai paling demokratis dan partisipatif dalam sejarah republik. Sementara zaman amandemen ke empat UUD 1945 sekarang kalian mengubahnya jadi pilpres langsung oleh rakyat dan meninggalkan MPR. Azas pemilunya luber jurdil. Langsung umum bebas rahasia jujur dan adil.

Lalu dibuat kompleks dengan digabungnya pilpres bersamaan dengan pemilu legislatif. Unit terkait pemilu pun beragam. Ada KPU, Bawaslu, Gakkumdu, saksi, MK, DKPP, KPPS, pers dan tim sukses. Pemilu tampaknya dijadikan arena proyek. Rp24 triliun ya.

Evaluasi pertama, terkait asas pemilu. Kedua kubu pasti berargumentasi diametral. Kubu yang menang bilang bahwa mereka menang dengan adil dan jujur. Sebaliknya kubu yang kalah mengatakan, kami kalah karena korban kecurangan, ketidakjujuran, dan ketidakadilan. Mahkamah sudah memutuskan, ya mesti dihormati bersama.

Ini sama seperti ketika Piala Dunia 1986, Diego Maradona mencetak gol dengan “hands of God”, sah diterima hakim garis dan wasit yang tidak melihat, atau pura-pura rabun. Semua penonton terkesima dengan gol dan kemenangan tersebut.

But the show must go on. Biarlah waktu yang mengurainya. Saya percaya kalangan milineal, Mereka paham dan cerdas mencatat jejak sejarah dalam bentuk digital.

Evaluasi kedua, pemilih 1955 itu barisan pemilihnya PIS yakni partisipatif, ikhlas, dan sederhana. Sedangkan sekarang cenderung pemilih NPWP: nomor piro wani piro. Petugas pemilu yang wafat lebih 500 jiwa. Rekor buruk pemilu.

Bung Karno: Hatta, you sebut NPWP. Amazing, you kritis sekali. By the way , terkait pertanyaan awal Bung tadi (Bung Karno menatap saya dalam), kira-kira menurut Bung sendiri, kenapa masyarakat antusias adanya pertemuan atau silaturahmi Prabowo-Jokowi di stasiun MRT?

Syafarudin: Jauh sebelum pemilu ada gerakan masyarakat “2019 Ganti Presiden” versus “2019 Lanjutkan Presiden”. Sejak start Pemilu 2019, lalu kampanye yang panjang, pemilihan di TPS, demo-demo, persidangan di MK, hingga usai putusan MK, masyarakat di lapangan dan media sosial terbelah dalam dua kubu yang saling serang. Cebong versus kampret. Dua kelompok yang hobinya saling mengolok-olok. Yang jelas, itu tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian bangsa kita yang diikat dengan Pancasila.

Bung Karno: Hatta, menurut analisaku, desain sistem pemilu yang membelah masyarakat menjadi dua kubu ini lah yang harus diperbaiki. Presidential threshold 20% membatasi calon lain muncul. Akibatnya, malah blunder, merusak kerukunan anak bangsa.

Padahal pada 2005 dan 2009, saat pilpres diikuti lebih dari dua pasang, masyarakat lebih rukun karena diberikan banyak pilihan. Ini yang harus diperbaiki. Kartelisasi parpol yang membuat syarat 20%, harus ditinjau ulang dan diakhiri.

Syafarudin: Sebelum bertemu Jokowi, Prabowo membuat surat klarifikasi ke para tokoh dan ulama pendukungnya bahwa dia akan melakukan pertemuan dan silaturahmi. Tapi, setelah Prabowo bertemu Jokowi, kenapa ada ulama yang belum mendapat surat tersebut berkata, “Dengan atau tanpa parpol dan Prabowo, perjuangan akan dilanjutkan.” Fantastis. Provokatif. Bagaimana Anda melihat hal ini dalam perspektif kedewasaan berdemokrasi dan berpolitik.

Bung Karno: Aku melihat Prabowo persis seperti yang dikatakan Gus Dur, dia sosok nasionalis, ikhlas berbuat demi keutuhan republik. Prabowo humanis, rendah hati, berbesar hati membuka pintu silaturahmi, meski disakiti.

Yang provokatif tentu ada di setiap zaman atau masa. Itu semua dinamika atau kembang-kembang dalam berpolitik dan membangun demokrasi.

Syafarudin: Proklamator, jangan-jangan Prabowo terinspirasi dan meneladani kisah konflik dan silaturahmi dari Anda berdua, pasangan Dwi Tunggal republik ini. Bisa diuraikan kisahnya. Kami dan generasi milineal siap mendengarkan.

Bung Karno: (Diam sejenak, menarik napas dalam-dalam) Hatta yang baik hati, mohon koreksi dan lengkapi uraianku. Ini penting bagi pendidikan bangsa Nusantara yang akan berusia 74 tahun.

Benar, aku dan Hatta beberapa kali pernah berbeda pandangan dan sikap sejak masa perjuangan hingga setelah Indonesia merdeka. Tapi silaturahmi kami secara personal tetap terjaga.

Strategi pergerakanku menggalang massa. Orang menyebutku “solidarity maker.” Sedangkan Hatta menggalang kaum intelek, terpelajar, dan kaum ambtenaar. Orang menyebutnya sosok pemimpin “administratur”.

Tatkala aku dan tiga rekanku ditangkap Belanda, secara sembunyi aku kirim pesan. Aku perintahkan elite partai membubarkan PNI (Partai Nasional Indonesia) dan aku sarankan diganti menjadi Partindo (Partai Indonesia). Melihat itu Hatta bereaksi keras dengan mengatakan, pembubaran PNI memalukan dan perbuatan itu melemahkan pergerakan rakyat.

Puncak konflikku dengan Hatta terjadi pada 1956. Aku selaku Presiden atau Kepala Negara tidak menginginkan sistem parlementer ala Inggris yang sering jatuh bangun dan ingin intrik politik diakhiri. Aku ingin ubah ke sistem baru, yakni sistem demokrasi terpimpin ala Ir Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi.

Aku melihat sistem parlementer membuat negara tidak stabil dan berujung kebuntuan dalam pengambilan keputusan. Akhirnya semua keputusan ditimpakan kepadaku selaku Kepala Negara, bukan kepada perdana menteri selaku kepala pemerintahan.

Sejak keputusanku memimpin demokrasi dan melanjutkan perjuangan revolusioner, Hatta secara terang-terangan beroposisi terhadapku. Aku diberi label “diktator baru”.

Puncaknya, pada Juli 1956, Hatta selaku Wapres mengajukan surat pengunduran diri ke DPR. DPR yang kebingungan dan kaget, baru berani membahas surat tersebut empat bulan kemudian.

Syafarudin: Selanjutnya bagaimana?

Bung Hatta: Tanggal 1 Desember 1956, aku secara resmi menanggalkan jabatan Wakil Presiden RI. Selanjutnya, aku sering keliling Eropa memberi ceramah kepada mahasiswa. Satu kesempatan aku ditanya soal kebijakan politik terakhir Soekarno. Aku jawab, baik buruknya Bung Karno, beliau adalah Presiden saya.

Akhir 1960-an, Bung Karno jatuh sakit. Aku diminta menggantikan Bung Karno menjadi wali pernikahan putranya, Mas Guntur Soekarno.

Syafarudin: Maaf Bung Hatta, kenapa meski kecewa di hati, tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan politik, dan cuma diberi tugas mengurusi koperasi Indonesia, hingga akhirnya mengundurkan diri, tapi tetap bersilaturahmi dengan Presiden Soekarno?

Bung Hatta: (Diam sejenak, lalu menatapku dalam) Nama depanku (Mohammad) itu berat. Penuh makna dan doa dari orangtua. Aku harus ikut meneladani sikap dan ajaran beliau. Salah satunya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia menyambung silaturahmi.” (HR Bukhari)

Ada hadis lainnya yang berbunyi, ”Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi.” (HR Bukhari-Muslim).

Syafarudin: Maaf dan izin, Proklamator. Matahari semakin meninggi, saya permisi. Mohon berkenan dialog lagi pekan depan.

Bung Hatta: Baik, Bung. Titip pesan kepada rakyat, lima tahun lagi kalian dapat presiden baru. Bersabarlah dengan yang ada. Bantu serta kawal agar bisa amanah.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

UIN Raden Intan & Gerakan Konservasi Lingkungan di PTKIN

Oleh MUDOFIR ABDULLAH| Penulis buku Al Quran dan Konservasi Lingkungan, Guru Besar Ilmu Pengkajian Islam, …