DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (1): Timur Sumatera Alternatif Ibu Kota RI


Soekarno-Hatta | ist

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

SAYA beruntung sekali sore itu. Berkat rekomendasi Bung Christianto Wibisono, mantan Direktur PDBI (Pusat Data Bisnis Indonesia) yang kini banyak bermukim di Amerika Serikat, saya dapat bertemu Bung Karno dan Bung Hatta.

Kedua founding fathers RI ini sudah menunggu dan meluangkan waktu untuk saya ajak berdialog. Berpakaian putih bersih seperti pakaian ihram jemaah umrah-haji, mereka tampak duduk-duduk santai dalam tenda yang sejuk.

Assalamualaikum…” salam pembuka saya.

Waalaikumsalam…” jawab mereka.
“Ini Bung Syafarudin, ya. Bagaimana, Bung, katanya mau dialog? Apa yang mau didiskusikan?” tanya Bung Karno.

Setelah memperkenalkan diri, saya lebih dulu memaparkan sedikit perkembangan agenda pemerintahan dan pembangunan di Indonesia, termasuk di Lampung saat ini. Berikutnya, saya sampaikan maksud dan tujuan diskusi atau dialog ini. Keduanya tampak paham dan mengangguk dengan penuh arif.

Saya mengajukan konfirmasi dan beberapa pertanyaan. Mereka menanggapinya dengan serius, sesekali diselingi guyonan, dan bahkan sempat muncul debat panas dingin. Berikut sekilas petikan dialognya.

Syafarudin: Bapak Proklamator mengapa Anda begitu bersemangat menanggapi usulan pembangunan Jembatan Sungai Musi dari tokoh-tokoh Sumatera Selatan kala itu, juga usulan Jembatan Selat Sunda penghubung Pulau jawa dan Sumatera oleh Profesor Soedyatmo dari ITB pada 1960?

Bung Karno: Bung ini terlalu bersemangat. Bertanya berat dan beruntun dua hal. Saya mesti pilah satu-satu dulu. Jembatan melintasi Sungai Musi adalah sebuah kebutuhan darat karena tidak semua orang suka naik sampan kecil. Selain itu, saya tidak sedikitpun ragu dengan kemampuan masyarakat Palembang. Wong Palembang itu luar biasa. Jangankan membuat jembatan sekian ratus meter, membuat kapal selam pun mereka mampu bahkan mereka santap dengan nikmat…haha. (Saya dan Bung Hatta ikut tertawa).

Syafarudin: Satu hal yang menarik, Pak. Setelah jembatan rampung, ada masyarakat yang mengusulkan namanya Jembatan Musi, dan ada pula yang mengusulkan nama Jembatan Soekarno. Tetapi era pada Orde Baru jembatan itu resmi dinamai Jembatan Ampera (amanat penderitaan rakyat). Sebuah nama dari simbol perjuangan melawan Anda dan rezim Orde Lama.

Bung Karno: (Diam sejenak) Saya belajar dari para guru. Mereka mungkin dilupakan secara verbal, tapi senantiasa dikenang sepanjang masa sebagai sosok pahlawan tanpa tanda jasa.

Bung Hatta: Ya, Pak Presiden betul. Alhamdulillah, syukur generasi kalian saat ini masih ada yang ingat sejarah perjuangan bangsa. Ada sebuah jembatan sepanjang 1.127 meter di Manado yang beres dibangun tahun 2015 kalian namakan Jembatan Ir Soekarno.

Syafarudin: Tapi yang unik nama Jembatan Suramadu. Dilihat dari sejarah, itu jembatan terkait pengembangan gagasan Tri Bima Nusasakti yang didiskusikan Presiden Soekarno dengan Prof Soedyatmo. Saat itu, dibahas mengenai penghubung Jawa ke Sumatera, Pulau Jawa ke Bali, plus Jawa ke Madura.
Jembatan itu baru dimulai pembangunnnya era Presiden Megawati, selesai dan diresmikan era Presiden SBY. Saat hendak diresmikan, tidak ada yang berani mengusulkan nama jembatan Soekarno, Soedyatmo, Megawati, atau SBY. Mereka ambil jalan tengah: Suramadu.

Bagaimana gagasan Jembatan Selat Sunda penghubung Jawa dan Sumatera usulan Prof Soedyatmo dari ITB pada 1960?

Bung Karno: Jembatan itu banyak fungsi dan makna. Bukan sekadar alternatif sarana perhubungan setelah laut atau sungai, helikopter, atau pesawat terbang. Jembatan adalah simbol, landmark dan obyek wisata. Jembatan adalah simbol pencapaian teknologi, puncak kolaborasi bangsa, simbol persatuan, simbol dignity bangsa, mercusar kawasan. Jembatan adalah bisnis perlintasan ekonomi.

Saya pernah melihat Golden Gate di San Fransisco, California. Itu kan cuma sepanjang 2,7 kilometer yang Amerika bangun pada 1937. Saya percaya bangsa kita mampu membuat lebih daripada itu. Makanya saya senang saat kader bangsa dari Lampung Sjachroedin ZP usul ke Presiden SBY agar merancang dan membangun JSS bersama konsorsium swasta. Sayang mandek lagi. Sekarang dunia mencatat Cina lah yang memiliki jembatan terpanjang di dunia.

Syafarudin: Bung Karno, gagasan Anda dan Semaun tentang ibu kota negara sebaiknya di kalimantan, sekarang mulai kembali dibincangkan Presiden Jokowi dan anak bangsa. Termasuk mereka yang di Lampung.

Bung Karno: Temen-temenmu yang di Lampung dan di Istana Negara mestinya banyak lagi baca sejarah dan memahami makna pidato dan pokok pikiran yang aku sampaikan. Aku ini pemimpin besar revolusi dari sebuah bangsa besar dengan penduduk yang banyak, terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Aku ini seorang insinyur sipil Ganesha yang simpel. Buka peta Indonesia lalu lipat ke kiri dan lipat ke bawah. Lalu buka kembali dan lihat titik pusat lipatan berada di pulau apa?

Tapi, perlu disadari, geoposisi itu baru satu aspek, dari sekian banyak aspek pertimbangan dalam kita mengambil keputusan demi bangsa besar ini. Belum lagi aku bicara saat itu beda kondisinya dengan sekarang. Perkembangan lokal, nasional, regional dan internasional sekarang begitu maju pesat. Kalian anak muda dan generasi milineal yang akan melanjutkan bangsa ini. Bukan generasi 45, bukan generasi baby boom oils.

Syafarudin: Maaf, Bung Karno. Tahun 1964, melalui UU Nomor 10 tahun 1964, bukankah Anda memutuskan Jakarta sebagai daerah khusus ibu kota. Kenapa bukan Kalimantan?

Bung Karno: Anda peneliti yang jeli.

Bung Hatta: Soal ibu kota atau pusat pemerintahan berpindah-pindah, itu bukan barang baru bagi bangsa ini. Saat agresi militer Belanda, pusat pemerintahan kita sempat berpindah ke Yogyakarta dan Bukit Tinggi.

Syafarudin: Bung Karno, masih di tahun 1964, kenapa banyak keputusan Anda lebih berat ke Sumatera daripada ke Pulau Jawa?

Bung Karno: putusan yang mana Bung? Yang jelas.

Syafarudin: Tahun 1964, Bapak selaku Presiden bersama DPR mengeluarkan UU Nomor 14 tahun 1964, membentuk Provinsi Lampung, memisahkan diri dari Sumatera Selatan. Tapi kenapa usulan Banten untuk jadi provinsi pada tahun 1964 itu juga tidak terealisasi. Paadhal mereka (Banten) mempersiapkannya sudah lama, sejak 1953. Meski gagal mereka terus berjuang dan akhirnya tahun 2000 barulah Banten merdeka, eh maaf, maksud saya jadi provinsi sendiri, terpisah dari Jawa Barat?

Bung Karno: Lampung saat itu punya kelebihan dan memang lebih siap dibanding Banten. Baik di tinjau dari sisi administrasi, teknis, fisik, geopolitik-strategis, dan sumber daya manusia. Lampung memiliki potensi dan kekuatan di sisi ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, SDM dan kependudukan, luas daerah, pertahanan, keamanan, dan faktor lain yang memungkinkan terselenggaranya pemerintahan.

Saya memang sempat berjanji kepada masyarakat Banten untuk membentuk provinsi tersendiri. Sayang kekuasaan saya tidak lama. Saya keburu lengser dan dilengserkan akibat Supersemar. Saya mohon maaf kepada warga Banten. Terima kasih, Gus Dur sudah mewujudkan cita-cita Banten.

Bung Hatta: Saya menilai Provinsi Lampung dan sepuluh provinsi di Sumatera sekarang sudah siap menjadi substitusi fungsi Pulau jawa.(*/bersambung Senin depan)


Komentar

Komentar

Check Also

DIALOG IMAJINER DENGAN SOEKARNO-HATTA (11): Indonesia Berduka, Riau Berasap, dan Dilema Lembaga Sampiran Negara

Oleh SYAFARUDIN RAHMAN | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung SEUSAI ashar …