OPINI SYAFARUDIN RAHMAN: OTT KPK, Pencegahan, dan Drama Kancil? 


GEDUNG Komisi Pemberantasan Korupsi | ist

 

Syafarudin Rahman | Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap dua jaksa, yakni jaksa Kejati Jakarta dan jaksa gedung bundar, Jumat, 28 Juni 2019. Sebagaimana pewartaan detik.com, turut pula terjaring dalam OTT tersebut dua advokat, dua pihak swasta, dan uang sebanyak SGD21 ribu. Selanjutnya, terjadi ketegangan dan tarik-menarik antara kedua institusi penegak hukum itu.

Pemberantasan Tak Menjerakan

Uniknya bangsa ini, meski tiap pekan menyaksikan OTT, ada tersangka berpakaian oranye diborgol, disorot kamera televisi, ada yang duduk pesakitan di ruang pengadilan, ada yang diputuskan dijebloskan ke penjara—kok tidak juga menimbulkan efek jera. Pekan depan, meski tahu disadap, biasanya akan ada OTT kembali. Publik pun pesimistis, OTT dan pemberantasan ini kok tak juga menjerakan.

Persoalan korupsi sebagai extra ordinary crime memang sudah stadium empat yang tidak bisa didiagnosis dan diamputasi dengan teori-teori biasa. Mesti dirunut dari hulu sampai hilir bila ingin mencegahnya.

Strategi Nasional Pencegahan Korupsi

Strategi nasional pencegahan korupsi terkini dibuat dalam Perpres 54/2018 merevisi Perpres 55/2012. Bedanya, bila pada 2012, pencegahan korupsi dikoordinasikan melalui Bappenas dan Kemendagri, sekretariat tidak dimandatkan; maka mulai 2018 (Perpres 54/2018)  pencegahan korupsi dikoordinasikan melalui tim nasional yang terdiri dari Kemendagri, KPK, Bappenas, Kementerian PAN-RB, dan sekretariat nasional dimandatkan di KPK.

Beda lagi pada 2012, fokus kepada enam strategi. Pada 2018 cukup tiga fokus utama pencegahan korupsi, yakni perizinan dan tata niaga; keuangan negara; penegakan hukum dan reformasi birokrasi.

Berbagai rencana aksi kemudian disusun untuk pencegahan korupsi 2019-2020. Tapi, penindakan via OTT tak kalah gencarnya, menangkap pimpinan parpol, kepala daerah, pengusaha, jaksa, dan mereka yang terlibat rasuah. Mau sampai kapan layar televisi dan media sosial kita diramaikan dengan sosok berseragam oranye diborgol sambil senyum dan cengengesan.

Dongeng dan Drama Kancil 

Sebagai peneliti yang bekerja dalam sunyi, saya melihat pemicu korupsi di Indonesia sepertinya bukan sekadar akibat nafsu serakah (corruption by greedy) dan keterpaksaan politik (corruption by design). Bukan pula sekadar akibat kesempatan, abuse of power, tiada akuntabilitas, dan lemahnya pengawasan.

Pemicu korupsi bisa jadi bermula atau diperparah akibat pengaruh warisan dongeng, atau drama mengenai sepak terjang kancil yang menghipnosis kita dan kita mengidolakannya sepanjang masa. Dongeng kancil yang ditanamkan oleh guru dan orang tua dahulu begitu meresap tersimpan dalam memori bawah sadar dan menginspirasi kita untuk menjadi sosok kancil.

Tentu kita masih ingat cerita ini. Suatu hari kancil sempat tertangkap di kebun pak tani usai mencolong mentimun. Pak tani mengurung kancil di dalam sebuah kandang. Namun, ia berhasil lolos dari kurungan dengan cara memperdaya kambing dengan gratifikasi. Kambing dirayu dan ditipu untuk menggantikan posisinya di dalam kurungan. Kancil lolos dari hukuman pak tani.

Lalu, kancil melesat masuk hutan, namun tiba-tiba dikejar oleh harimau dan terdesak di pinggir sungai. Untuk meloloskan diri menyeberangi sungai, kancil memperdaya para buaya dengan iming-iming akan ada kerbau lewat yang bisa disantap. Buaya-buaya itu disuruh kancil baris berjajar untuk dihitung jumlahnya. Kancil lolos menyeberangi sungai dengan melompat di punggung para buaya. Kancil ditasbihkan menjadi pahlawan. ”Hidup kancil! hidup kancil!”.

”Ya, anak-anak, jadilah kalian seperti Kancil” demikian pesan guru generasi baby booms oil berpesan kepada generasi X dan alami turun ke generasi Y. Generasi Milineal lebih cepat belajar dengan pilihan asupan kartun sinchan,  film Robin Hood, Cacth Me IF You Can, Italian Job, Jumper, Hacker.

Panggung Indonesia hari-hari ini dan hari-hari mendatang adalah panggung para kancil. Robin Hood yang apes, yang tahu disadap, namun tetap berupaya meloloskan diri setelah mencuri dan mengenyam kenikmatan. Di atas panggung pertunjukan itu, kancil dan Robin Hood  terlihat berupaya menghapus jejak, mencari kambing hitam, berusaha mencari pintu keluar, dan mencari cara menjadi pahlawan. Luar biasa!

Ada Hubungan Signifikan

Terlepas dari bagaimana akhir cerita dugaan korupsi yang melibatkan sang jaksa plus konco-konconya, yang menjadi pertanyaannya sekarang apakah memang ada hubungan dongeng, atau cerita yang pernah disemaikan kepada generasi muda dengan perilaku negatif yang menyebabkan kemunduran sebuah bangsa?

Ternyata keduanya memiliki hubungan erat yang saling memengaruhi. Adalah Prof David Clarance Mc Lelland (1917-1998), penulis buku terkenal ”TheAchieving Society”, yang dengan baik bisa menjelaskan hubungan erat tersebut. Doktor Psikologi lulusan Univeritas Yale yang menjadi Guru Besar Universitas Wesleyen dengan dibiayai CIA itu pernah meneliti pada era 1970-an mengenai penyebab kemunduran dan kemajuan bangsa-bangsa di dunia.

Setelah melihat berbagai faktor yang signifikan memengaruhi dorongan berprestasi (need for achievement), akhirnya dia berkesimpulan salah satu biangnya adalah warisan cerita atau  dongeng yang berkembang dan didengungkan sejak anak-anak. Apabila cerita atau dongeng yang diceritakan orang tua cerita bermutu, maka generasi penerus yang muncul juga bermutu. Sebaliknya, apabila dongeng yang diceritakan banyak menipu, maka generasi penipu yang akan muncul.

Prof David mencontohkan bangsa Inggris tetap maju, percaya diri, semangat, dan optimistis karena cerita heroik-humanis ditanamkan dari generasi ke generasi. Cerita membangun peradaban dengan kerja keras, bukan dengan jalan korupsi. Cerita memperjuangkan kebebasan dan kemanusiaan, seolah-olah mengalir deras dalam darah generasi muda mengikuti logika AIDDA (attention, interest, disire, decision, and action).

Sedangkan bangsa Spanyol yang juga melakukan penaklukan, namun sering dikalahkan, terjebak memproduksi dan menurunkan cerita melankolis yang bermuara kepada terbentuknya generasi muda yang inferior, lemah, pesimis, suka meminta-minta, dan tidak sungkan mencuri. Implikasinya, kesejahteraan bangsa dan negara Spanyol lebih rendah di bawah Inggris.

Negeri Mayoritas Muslim dan Pejuang

Bagi mayoritas muslim, sebenarnya penemuan Prof David Mc Lelland bukanlah hal baru. Kandungan Alquran selain memuat perintah, larangan, ganjaran, juga didominasi cerita nyata bermutu, bermakna, dan memotivasi.

Kisah-kisah dalam Alquran itu, menurut Muhammad Chirzin dalam bukunya Alquran dan Ulumul Quran (1998),  bisa dikelompok menjadi tiga macam. Pertama, kisah para nabi terdahulu. Kedua, kisah-kisah menyangkut pribadi dan golongan dengan segala kejadiannya yang dinukil oleh Allah untuk dijadikan pelajaran. Ketiga, kisah-kisah menyangkut peristiwa pada masa Rasullulah saw, seperti perang Badar, Uhud, Ahzab, dll.

Indonesia juga memiliki cerita bermutu mengenai perjuangan penegakan kemerdekaan yang jauh dari pemikiran untuk korupsi. Misalnya, jihadnya Jenderal Soedirman, Pangeran Diponegoro, dan Tuanku Imam Bonjol. Bung Tomo yang membangkitkan semangat perlawanan mengusir penjajah di Surabaya, 10 November 1945.

Imunisasi Cerita Bermutu

Oleh karena itu, untuk mencegah korupsi sejak dini, ada baiknya mulai sekarang kita menghentikan imunisasi cerita tidak bermutu kepada anak dan cucu. Marilah mulai selektif memilih dan menceritakan kisah bermutu bagi anak-anak, saudara, dan tetangga.

Sebuah cerita, apalagi kalau nyata, menurut psikolog alumni UGM Fauzil Adhim (2006) dalam buku “Smart Parenting” , akan mampu berbicara lebih banyak dibandingkan nasihat bertubi-tubi pada saat jiwa anak-anak dan remaja belum tergerakkan. Sebuah cerita yang menginspirasi akan membuka mata mereka bahwa ada yang harus mereka kerjakan; bahwa  pertolongan Tuhan masih akan hadir.

Ya, semoga Allah swt masih menolong kita membersihkan diri dari virus-virus “kancil” dan masih mengampuni kita yang pernah atau terlanjur meniru “kancil” selama ini. Allahumma Amin. Tabik pun.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

RESENSI BUKU: Ikhtiar Tokoh NU Lampung untuk Perjalanan Indonesia

Judul: NU Mengawal Perubahan Zaman Penulis: Dr Abdul Syukur, M.Ag; Akhmadi Syarief Kurniawan, S.Ag; Dr …