Bocah Pemburu “Harta Karun” di TPA Bakung yang Biasa Terluka


SEJUMLAH bocah mencari besi bekas di TPA Bakung, Bandar Lampung, Sabtu, 29/6/2019. Mereka sudah terbiasa luka saat mengeruk tanah dengan tangan. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Jarum jam menunjuk pukul 11.30 WIB. Sinar mentari terasa membakar kulit. Aroma tak sedap di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung, Telukbetung Barat, Bandar Lampung, menusuk hidung. Dari balik tumpukan sampah, terdegar gelak tawa dan senda gurau beberapa bocah.

Adalah Malik (13), Doni Sandika (11), Putra (9), dan Mino Setiawan (9). Mereka merupakan siswa di Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Bakung. Malik kelas enam, sementara Putra dan Mino masih kelas tiga. Hanya Doni Sandika yang berbeda sekolah, yakni kelas enam di SDN 1 Keteguhan, Bakung.

Keringat membasahi tubuh mereka, hingga terlihat mengkilat tersiram cahaya matahari. Jemari anak-anak itu cekatan mengeruk tanah yang berisi tumpukan sampah. Ketika tangan mereka menemukan benda yang terbuat dari besi, senyum langsung mengembang di wajah “bocah sampah” itu. Seketika, benda tersebut dimasukkan ke dalam sebuah karung yang diletakkan persis di sebelahnya.

Masing-masing membawa karung. Saat itu, setiap karung sudah terisi hampir penuh benda-benda dari besi. Ada yang berbentuk balok, paku, dan berbagai benda lainnya.

“Banyaknya besi bekas las. Paku juga banyak. Lumayan saja,” kata Mino kepada duajurai.co, Sabtu, 29/6/2019. Ia tersipu ketika melihat kamera.

Dalam satu hari, Mino bisa mendapatkan 10-18 kilogram besi bekas. Ketika sudah terkumpul, sore hari mereka jual besi tersebut kepada pengepul dengan harga Rp2.000 per kg. Sehingga, masing-masing anak bisa membawa pulang uang minimal Rp20 ribu per hari.

“Ya sehari bisa dapat Rp20 ribu, kadang Rp50 ribu. Pernah juga dapat Rp100 ribu,” ujar Mino yang mengenakan baju merah muda.

Hasil keringat mencari besi bekas itu mereka tabung. Anak-anak itu enggan menghabiskan uang untuk jajan. Sebab, merasa merasakan beratnya bekerja mencari uang.

“Uangnya buat beli alat sekolah. Sekarang kan masih libur sekolah. Cari duit dahulu yang banyak,” kata Mino.

“Nanti, kalau sudah mau masuk sekolah, uangnya beli buku, sepatu, tas baru, pensil, pulpen,” sahut Doni Sandika, anak berbaju hitam.

Bekerja mencari besi bekas dengan mengeruk tanah menggunakan tangan kosong, bukan tak ada risiko. Kerap kali tengan mungil mereka terluka kena benda tajam. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat mereka.

“Kalau luka mah sudah biasa, biarin saja. Nanti juga sembuh sendiri. Ini juga tangan saya habis luka,” jawab Malik, anak berbaju merah, sembari menunjukkan jemarinya yang terluka.

Selain mencari besi bekas, terkadang mereka juga mengumpulkan rongsokan, seperti bekas botol mineral dan barang bekas lainnya yang laku dijual. Melakoni pekerjaan yang berisiko, diliputi aroma tak sedap sampah, rupanya tidak menjadi beban bagi mereka. Justru mereka merasa senang karena sudah bisa mencari uang pada usia dini.

“Namanya anak-anak ya tetap mainlah, Mbak. Mainnya di sini, sambil nyari sampah sambil bercandaan, kan seru. Kalau pegal ya lanjutin saja kerjanya,” ucap Putra sambil mengeruk tanah.(*)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Jelang Tahun Baru, Chandra Mal Boemi Kedaton Diskon Snack-Minuman

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Supermarket Chandra Mal Boemi Kedaton (MBK) memberikan harga spesial untuk aneka makanan ringan …