Komunitas Seni Lampung Gelar Perayaan Budaya Megalitik Batu Brak 1-5 Juli


KABID Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Barat Riady Andrianto | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sejumlah komunitas seni Lampung akan mengelar Seni Megalitik Batubrak. Seluruh kegiatan akan dilaksanakan di Pekon Purawiwitan, Kecamatan Kebun Tebu, Kabupaten Lampung Barat, 1-5 Juli 2019.

Event tersebut merupakan forum pertemuan pelaku seni dengan masyarakat dan alam. Dalam prosesnya bisa diartikan juga sebagai perjalanan kembali (traveling back to the sources). Upaya mengembalikan seni kepada masyarakat, alam, sumber kehidupan,  atau sejumlah ihwal yang terkait nafas hidup, spiritualitas sebagaimana spirit seni-seni tradisi yang telah tumbuh sebelumnya.

Kabid Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Barat Riady Andrianto mengatakan, Situs Megalitik adalah salah satu jejak sejarah peradaban dan budaya suatu masyarakat. Pada masa sekarang, beragam situs bisa berfungsi sebagai sumber kreativitas dan sumber cipta seni lingkungan hidup. Situs bisa menjadi acuan, semangat, inspirasi dalam perwujudan nilai-nilai pusaka pustaka pujangga.

“Selain para seniman dari Lampung, perayaan megalitik akan dihadiri empat seniman Spanyol dan Hongaria. Mereka adalah seniman joget amirta, yaitu joget atau gerak yang terinspirasi dari alam yang bermanfaat untuk kekuatan diri,” kata Riady melalui keterangan tertulis yang diterima duajurai.co, Rabu, 26/6/2019.

Alexander GB, aktor dan novelis Komunitas Berkat Yakin Lampung, salah satu fasilitator kegiatan di Batu Brak, menyatakan, tujuan dari kegiatan tersebut untuk meruwat dan merawat hubugan antara manusia dengan sesama manusia, dengan alam, dan Sang Pencipta. Komunitas Seni Lampung memosisikan situs sebagai lokus sebagai tempat dan ruang yang mampu menampung beragam ekspresi seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Termasuk juga beragam nilai-nilai, lingkungan-ekologi, edukasi, pemikiran, dan kesadaran.

“Diharapkan dapat menjadi penyeimbangan kemajuan teknologi atau globalisasi, memungkinkan untuk sama-sama melakukan tindak refleksi, atau merenungkan tentang akar kultural (identitas), atau bahkan yang lebih universal tentang nilai-nilai kemanusiaan yang sebagian telah tergerus oleh kemajuan zaman,” ujarnya.

Riyan Kramayuda, Koordinator Seni Megalitik Batubrak berharap, perhelatan itu menumbuhkan kembali rasa kebersamaan, gotong royong, dan membangkitkan kecintaan bersama. Kemudian, membuka diri, memantik percakapan-percakapan antara penonton,  kritikus, maupun penyaji kesenian, baik modern atau tradisi. Harapannya, mampu mereguk inspirasi cerita-cerita lisan, arsitektur alam, dan masyarakat setempat.

“Seni Megalitik dapat menyegarkan spirit berkesenian lewat akar budaya situs. Terjadinya pertemuan dan perkenalan kreatif dari semua pihak yang terlibat. Munculnya kesadaran membangun jaringan antarpelaku seni di lampung, Indonesia, dan dunia,” kata dia.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Nunik Dorong Biro Kesra Perkuat Program Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial-Keagamaan

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim mendorong Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) memperkuat …