OPINI ANDI DESFIANDI E-Voting, Perbaikan Sistem dan UU Pemilu


GRAFIS Joe Chaniago | duajurai.co

ANDI DESFIANDI | Ketua Bravo 5 Lampung, Ketua Yayasan Alfian Husin

PEMILIHAN Umum (pemilu) tahun 2024 direncanakan berlangsung serentak bersamaan antara pemilu legislatif (pileg), pemilu presiden-wakil presiden (pilpres) dan pemilu kepala daerah (pemilukada). Ini akan menjadi pemilu terumit dan tersulit di dunia.

Belajar dari pengalaman pemilu serentak (pileg dan pilpres) 17 April 2019 yang menyisakan beragam permasalahan, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistim dan Undang-Undang (UU) Pemilu. Terlepas dari permasalahan tersebut barangkali sudah sepatutnya penggunaan teknologi seperti e-voting mulai diterapkan selain merevisi UU dan sistim pemilu.

Khusus e-voting dikenal tiga jenis yaitu optical scanning, direct recording, dan internet voting. Sistem yang paling lama dan paling sering digunakan adalah optical scanning.

Optical scanning atau optical scan voting menggunakan balot kertas yang diberi tanda oleh pemilihnya. Kertas tersebut kemudian masuk ke mesin scan untuk dihitung secara digital. Sistem ini mirip cara memilih konvensional yang diterapkan di Indonesia. Bedanya, penghitungan suara dilakukan dengan mesin sehingga hasilnya lebih cepat keluar.

Sistem kedua dan ketiga, yaitu direct recording dan internet voting sudah tidak lagi menggunakan kertas suara. Semua proses pemilihan dilakukan secara digital, mulai dari perekaman suara, penyimpanan, dan penghitungan, namun bisa di-print sebagai bukti.

Sistem e-voting menuai berbagai respons dari negara-negara yang telah mencobanya. Ada yang menyukai, ada yang merasa gagal dan kapok, dan ada pula yang berencana untuk menerapkannya di masa depan.

Mungkin bisa juga sistem e-voting digunakan dengan mengaplikasikan teknologi blockchain agar lebih privat dan sulit untuk diretas. Atau, cara lain, memadukan e-voting dan sistem konvensional untuk daerah-daerah tertentu.

Teknologi e-voting bisa berupa recording atau perekaman saja, langsung disimpan ke server yang tidak terkoneksi ke internet. Untuk kontrol dan menjamin transparansi, hasil penghitungan real time bisa dipublikasikan ke publik seperti situng KPU saat ini. Namun, data riil tetap disimpan dalam server terpisah yang tidak terkoneksi dengan internet.

Demikian pula data fisik surat suara yang di-print (recording), atau kertas khusus untuk scan suara, sehingga akan menjadi bukti apabila ada kesalahan atau kecurangan saat rekapitulasi di tingkat bawah.

Bagaimanapun, Indonesia sudah saatnya menggunakan teknologi e-voting. Hal ini mengingat begitu kompleksnya pemilu, serta beragamnya keadaan daerah pemilihan.

Selain menghemat biaya, e-voting unggul dalam kecepatan, keakuratan, serta kemudahan akses bagi pemilih. Dengan begitu, masalah-masalah yang pernah timbul dalam perhelatan pemilu di Indonesia bisa diminimalisasi secara signifikan.

Harapan lain adalah ada pemisahan antara pileg dan pilpres. Pileg dilaksanakan lebih dahulu, sedangkan pilpres dilakukan setelah penetapan pileg.

Pilkada bisa dilaksanakan bersamaan dengan pilpres. Bahkan, pilkada sebaiknya hanya untuk pemilihan bupati/wali kota. Sementara gubernur dipilih oleh presiden dengan rekomendasi dari anggota DPRD provinsi setempat.

Masa kampanye sebaiknya dilakukan dengan singkat, maksimal tiga bulan. Bila terlalu lama, selain menimbulkan biaya besar, biaya sosialnya pun terlalu mahal. Pergesekan antara pendukung kontestan, terutama untuk pilpres, bisa membahayakan keutuhan negara.

Begitu pula dengan tahapan-tahapan pemilu lainnya, seperti pendaftaran, sengketa, hingga penetapan dan pelantikan caleg, kepala daerah maupun capres-cawapres terpilih, sebaiknya dilakukan dengan singkat.

Dengan e-voting dan pelaksanaan pemilu yang terpisah, serta sistem dan UU Pemilu yang lebih sederhana, maka pesta demokrasi menjadi lebih mudah dan lebih murah, dan hasilnya pun bakal lebih transparan dan akuntabel. Wallahualam.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Pererat Silaturahmi, Grup Pembaca duajurai.co Gelar Halalbihalal

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Grup WhatsApp Pembaca duajurai.co menggelar halalbihalal di Penginapan Nuwono Tasya, Jalan Perwira Nomor …