OPINI ANDI DESFIANDI: Babak Baru Perang Dagang Amerika vs China


Dr Andi Desfiandi SE MA | Ketua Bravo 5 Lampung, Ketua Yayasan Alfian Husin

PERANG dagang USA vs China ternyata di luar prediksi dan analisis banyak ekonom dunia. Sebab, masih terus berlanjut, bahkan semakin memburuk. Tentu saja perang dagang dua raksasa ekonomi dunia tersebut berimbas terhadap ekonomi negara-negara lain di dunia, termasuk Indonesia. Di mana pertumbuhan ekonomi dunia cenderung stagnan. Bahkan, banyak negara mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.

Perang dagang USA vs China setidaknya memengaruhi perdagangan kedua negara lebih dari USD360 miliar, atau lebih dari Rp5.000 triliun. Angka itu belum termasuk dampak turunan dari beragam komoditas yang berkaitan.

Kebijakan Trump memberikan dampak negatif bagi perekonomian USA, baik di dalam dan luar negeri. Industri di USA yang menggunakan bahan baku dari China akhirnya harus menutup usaha mereka dan merumahkan para karyawan. Begitu pula dengan industri-industri USA di China. Juga mendapatkan dampak negatif akibat perang dagang tersebut.

Hal serupa juga terjadi bagi ekonomi China, baik di dalam negeri maupun di Amerika. Pabrik dan industri mereka harus tutup akibat kebijakan perang dagang yang dilakukan oleh Trump.

China yang kemudian melakukan hal yang sama dan terus berlanjut ke beberapa produk impor dari USA tampaknya juga tidak akan mengalah.

Yang paling menghawatirkan adalah surat utang USA yang dimiliki oleh China diperkirakan mencapai sekitar USD1,2 triliun, atau sekitar Rp16.900 triliun. Itu bisa saja ditarik oleh China. Apabila dilakukan, maka akan menjadi “zero sum game” alias bumi hangus. Sebab, selain semakin melemahkan ekonomi Amerika dan China, juga sebagian besar negara di dunia.

China akan semakin over likuiditasnya. Pasar uang akan dibanjiri surat utang USA dan dijual mahal kepada USA oleh negara lain. Sedangkan negara lain akan membeli murah surat utang USA yang dimiliki China.

Apa pun yang akan dilakukan oleh China, apabila menarik surat utang USA yang dimiliki China, akan memberikan dampak ekonomi dan keuangan dunia, termasuk China dan Amerika. Walau pun rating surat utang USA termasuk yang teraman di dunia.

Apabila perang dagang USA vs China terus berlanjut, tentunya memberikan dampak yang negatif kepada negara-negara lain. Walaupun sebagian analis mengatakan bahwa ada peluang bagi Indonesia untuk mensubstitusi produk yang diproteksi oleh kedua negara tersebut. Sebab, tidak mudah mensubstitusinya karena sebagian besar produk yang mereka proteksi adalah produk-produk berteknologi tinggi yang Indonesia belum mampu memproduksinya.

China mungkin akan melawan keras, atau mungkin berharap publik Amerika yang akan menekan Trump untuk mengubah kebijakannya. Bisa juga berharap Trump tidak akan terpilih lagi menjadi Presiden USA pada pemilu 2020. Sebab, begitu banyak kebijakannya yang kontroversial, baik dalam bidang ekonomi, politik, dan militer.

Indonesia sepertinya harus bersiap terhadap skenario terburuk. Apalagi, Bank Dunia dan IMF telah merevisi prediksi/asumsi pertumbuhan ekonomi dunia akibat masih berlanjutnya perang dua raksasa dunia tersebut.

Sebenarnya, pertarungan kedua negara itu bukan semata perlombaan sebagai negara terkuat di dunia dalam bidang militer dan ekonomi. Tapi, juga pertarungan menjadi negara industri teknologi dan informasi terkuat di dunia. Sebab, dengan menguasai teknologi dan informasi, maka akan menguasai dunia.

Lihat saja proteksi yang dilakukan Amerika adalah produk-produk teknologi dan informasi milik China. Langkah tersebut dibalas China dengan proteksi produk-produk yang sama. Wallahualam.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Ombudsman Gelar Pendampingan Kepatuhan se-Sumbagsel di Novotel Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Ombudsman Republik Indonesia menggelar pendampingan penilaian kepatuhan terhadap standar pelayanan publik …