PUASA SANG DUAFA: Siti Rohmah, Pemulung yang Tinggal di Gubuk Bekas Kandang Ayam


SITI Rohmah tengah mengaso di depan Masjid Jami’ Sidratul Muntaha, Jalan Gajah Mada, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung, Rabu sore, 29/5/2019. Pemulung itu tinggal seorang diri di gubuk bekas kandang ayam di Jalan Sutan Slamet, dekat Musala Baitul Jannah, Kedamaian. | Umar Robani/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sore itu, Siti Rohmah duduk di pinggir Jalan Gajah Mada, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung. Ia tampak melamun di depan Masjid Jami’ Sidratul Muntaha.

Menjelang berbuka puasa, perempuan berusia 71 tahun itu tengah mengaso. Wajahnya terlihat lelah. Siti baru saja berkeliling mencari barang rongsokan. Sejak sang suami meninggal 18 tahun yang lalu, ia harus menanggung beban sendiri. Lima anaknya telah berkeluarga dan tak tinggal bersamanya.

“Sudah menikah semua, yang laki dibawa istrinya, sedangkan yang perempuan dibawa suaminya,” kata Siti kepada duajurai.co, Rabu, 29/5/2019.

Ia mengawali harinya sebelum azan subuh berkumandang. Nenek yang rambutnya memutih itu tinggal seorang diri di sebuah gubuk bekas kandang ayam. Gubuk tersebut milik seorang warga Kedamaian, Jalan Sutan Slamet, dekat Musala Baitul Jannah.

Biasanya, Siti mencari barang bekas mulai dari gubuknya menuju Jalan Gajah Mada. Kemudian, ia lewat jalan layang (flyover) simpang Pasar Tugu. Setelah itu, Siti melangkah ke Jalan Dokter Harun II. Sesekali, ia harus menghentikan langkahnya karena keterbatasan fisik.

“Sambil jalan, saya lihat tempat sampah untuk cari kardus, kertas, dan botol bekas,” ujarnya sambil melamun dengan wajah menoleh ke kiri.

Selama bulan Ramadan, Siti sering beristirahat saat memulung. Ia tak mau membatalkan puasanya karena kelelahan. Dalam satu hari, hasil keringat perempuan tua itu sekitar Rp10 ribu. Uang sebanyak itu hanya cukup untuk makan sehari-hari.

“Alhamdulillah, masih bisa makan tiap hari,” ucap Siti dengan nada pelan.

Wanita berjilbab hitam itu mengaku pernah pulang tanpa hasil. Jika begitu, ia terpaksa meminta beras satu canting dari tetangganya. Siti telah terbiasa hidup serba keterbatasan.

“Tetangga juga sering kasih sayur, kadang lauk. Ya lumayan, bisa menghemat,” kata Siti seraya menatap ke arah jalan.

Biasanya, Siti sudah di rumah mendekati waktu berbuka puasa. Ia berbuka dengan seadanya. Selama Ramadan, perempuan tua itu tak pernah meninggalkan puasa kendati pekerjaannya menguras tenaga.(*)

Liputan Puasa Sang Duafa merupakan kerja bareng Dompet Dhuafa Lampung dengan duajurai.co. Setiap narasumber akan menerima santunan dari Dompet Duafa Lampung. Bagi yang ingin berbagi dapat menyalurkan donasi melalui rekening BNI Syariah 777 1717 009 atas nama Yayasan Dompet Dhuafa Republika Lampung.

Laporan Umar Robani


Komentar

Komentar

Check Also

PUASA SANG DUAFA: Nafkahi Keluarga, Nalim Tarik Becak dari Karanganyar-Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Muhammad Nalim tampak termenung. Duduk di dalam becak, pria berusia 68 tahun itu …