PUASA SANG DUAFA: Nafkahi Anak, Sunarsih Jadi Tukang Cuci Hingga Memulung


SUNARSIH sedang mengaso di Jalan Letjen Alamsyah Ratu Prawiranegara, Way Halim, Sabtu petang, 25/5/2019. | Umar Robani/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Azan subuh belum berkumandang. Sunarsih telah bangun menyiapkan sahur. Di sebuah bedeng di Jalan Wartawan, Gunung Sulah, Way Halim, Bandar Lampung, ia hanya tinggal berdua dengan putra bungsunya yang baru lulus SMP.

Pagi hari, wanita berusia 53 tahun itu menuju rumah tetangganya untuk mencuci pakaian. Jaraknya sekitar 200 meter dari kontrakannya. Sunarsih menjadi tukang cuci pakaian di lingkungan tempat tinggalnya.

“Ya Alhamdulillah, ada dua rumah yang menerima saya jadi tukang cuci,” kata Sunarsih saat ditemui di Jalan Letjen Alamsyah Ratu Prawiranegara, Way Halim, Sabtu petang, 25/5/2019.

Janda tiga anak itu tidak hanya mencuci. Ia juga menyetrika pakaian di tempat tetangganya. Pekerjaan tersebut ia lakukan mulai pukul 9.00 hingga pukul 14.00 WIB. Dari pekerjaan tersebut, Sunarsih mendapat upah sebesar Rp400 ribu tiap bulan. Uang sebanyak itu hanya cukup untuk membayar kontrakan.

Untuk kebutuhan sehari-hari, ia harus mencari uang tambahan lagi. Usai mencuci dan menggosok pakaian tetangga, Sunarsih mecari barang bekas. Ia mendorong gerobak mulai dari rumahnya melintasi Jalan Urip Sumoharjo. Sepanjang perjalanan, perempuan berbaju merah muda itu memungut botol bekas, kardus, dan benda lain yang bisa dijual.

Ia biasa beristirahat di sekitar Jalan Sultan Agung, Way Halim. Biasanya, Sunarsih melepas penat menjelang berbuka puasa. Tak jarang ia berbuka di jalan dengan ala kadarnya.

“Buka puasa ya minum air saja. Kadang makan takjil kalau ada yang bagi-bagi di jalan,” ujarnya sambil menundukkan kepala.

Sebenarnya, Sunarsih diajak anak pertamanya untuk tinggal bersama. Sang anak tinggal bersama sang suami di Jambi. Namun, ia enggan karena takut menjadi beban.

Sedangkan anak keduanya merantau ke Pulau Jawa. Di tanah perantauan itu, buah hatinya hanya menjadi buruh pabrik. Kadang, sang anak mengirimnya uang walau Sunarsih tak meminta.

Sudah lima tahun Sunarsih menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja serabutan demi menafkahi anak-anak. Perempuan paruh baya itu baru pulang pada pukul 22.00 WIB. Kadang anaknya sudah tidur saat tiba di rumah.

“Meski hidup serba sulit, tapi saya terus bersyukur. Selama masih mampu, saya akan berusaha sendiri,” ucap Sunarsih sambil memandang gerobaknya.(*)

Liputan Puasa Sang Duafa merupakan kerja bareng Dompet Dhuafa Lampung dengan duajurai.co. Setiap narasumber akan menerima santunan dari Dompet Duafa Lampung. Bagi yang ingin berbagi dapat menyalurkan donasi melalui rekening BNI Syariah 777 1717 009 atas nama Yayasan Dompet Dhuafa Republika Lampung.

Laporan Umar Robani


Komentar

Komentar

Check Also

PUASA SANG DUAFA: Nafkahi Keluarga, Nalim Tarik Becak dari Karanganyar-Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Muhammad Nalim tampak termenung. Duduk di dalam becak, pria berusia 68 tahun itu …